Ibu yang Bahagia adalah Ibu yang Betah di Rumah

โ€‹Jujur, terkadang saya merasa lelah dan bosan menjadi stay at home mom. berada di rumah bersama anak- anak 24/7 menguji kewarasan saya sebagai seorang manusia.

Menjadi ibu itu berarti waktu untuk diri sendiri hampir tidak ada, istirahat berkurang, beribadah saja ada banyak gangguan.

Belum lagi saat ini saya sedang flu dan tak kunjung sembuh, pusing, meriang. Meski berbagai merk obat telah saya minum, dari yang Generik sampai ke Paten, dari yang merk ini sampai merk itu ๐Ÿ˜ซ๐Ÿ˜ซ orang flu kan bawaannya pengen tidur, saya mendamba istirahat yang berkualitas. Baru merem sebentar, sudah dengar teriakan si adek rebutan mainan sama si kakak.

Terlebih saat bulan Ramadhan seperti ini, maunya fokus ibadah, tapi ya apa daya. Waktu ibadah bisa berbarengan dengan ‘kebutuhan’ anak- anak akan kehadiran ibunya, ditengah enak- enak makan, minta dicebokin habis pup, saat sahur.. tiba- tiba nangis jejeritan minta dikelonin.

Apa sih iniiiii???!!

What??? You feel it too?? Toss duluuu.

Hhh..

Saya lelah lahir dan batin.

Kalau sudah begini saya jadi terngiang- ngiang satu statement dari seorang Ibu Rumah Tangga yang bekerja di ranah publik. Dalam sebuah diskusi dalam satu forum, si ibu memberi tanggapan saat ditanya โคต

“Bagaimana mbak untuk menyiasati waktu membersamai anak yang terlewati saat kita bekerja. Ini kadang yang membuat saya galau…”

Begini jawaban si ibu โžก Kalo menurut saya, bukan kuantitas yang penting. Tapi kualitas. Karena kita (saya) sudah memilih untuk bekerja di ranah publik, tapi saya tetap komitmen saat di rumah, saya hanya sebagai istri dan ibu… Jadi membersamai anak benar-benar dengan hati. Anak pasti akan bisa menilai, kalau ibunya sungguh2 mencintai mereka…Jangan sesali pilihan untuk menjadi mom bekerja. Karena sekecil apa pun penyesalan, tetap akan mempengaruhi semua sikap dan tindakan kita.

Dalam lubuk hati, saya setuju, saya jadi berfikir apa lebih baik saya kembali bekerja ya. Jadi saya akan lebih menghargai waktu membersamai anak- anak dan anak- anak juga akan lebih menghargai kehadiran ibunya. Contoh kecil ya, saat saya berbelanja atau semisal ada keperluan yang tidak membawa serta anak- anak, saat pulang, mereka menyambut saya dengan suka cita layaknya sudah tak jumpa sekian lama, padahal juga cuma 2 jam tadi perginya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜  lebay yang saya suka, saya menjadi berarti, “oh saya dicari”, “saya dirindukan”. Sayapun demikian.

Sayanya sehat secara emosional dan anak – anak menjadi well-behaved , lebih karena takut ditinggal mommy_nya pergi lagi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Kemudian saya kaji lagi di dalam kepala (macam Horton Hears a Who_nya dr Seuss ๐Ÿ˜† ), saya berdialog dengan diri saya sendiri. Sebetulnya untuk apa sih saya memutuskan untuk tinggal di rumah? Karena anak- anak? Karena tidak sanggup bayar babysitter? Karena disuruh suami? BUKAN!

Karena Allah yang perintahkan demikian.. mari kita tengok Al Ahzab : 33

“dan hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang- orang Jahiliyyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih- bersihnya.”

Jadi saya sami’na waato’na saja. Saya dengar dan saya taat. Anak- anak bukanlah sebab saya memutuskan untuk di rumah, hanya moment of clarity_nya bertepatan dengan saya memiliki anak kedua. Jadi ya, saya pernah merasakan bekerja dan meninggalkan anak untuk diasuh orang lain di rumah. Dua pengalaman yang belum tentu pernah dirasakan ibu- ibu lain. Ada yang memang dari awal sudah di rumah. Ada yang dari awal sudah bekerja dan hingga kini tetap bekerja di ranah publik. Saya sudah pernah merasakan nano- nano sensasi keduanya ๐Ÿ˜† . Above all, saya setuju bahwa Islam bukan agama prasmanan, dimana kamu bisa pilih dan ambil mana yang kamu sukai. 

Sebagai catatan, saya tidak sedang memicu perdebatan or whatsoever tentang Stay at Home Mom Vs Not at Home Mom. Saya juga tidak sedang menyindir ataupun judging others. Jadi saya mohon dibukakan pintu maaf seluas-luasnya. Ini murni catatan untuk diri sendiri dalam mengatasi kegalauan saya ketika saya kumat ๐Ÿ˜‚.

Lalu pertanyaannya kemudian,

Mungkinkah kita tetap waras berada di rumah dan membersamai anak-anak dengan hati?

HARUS!!!

Kok HARUS? Tapi mungkin g sih?

Ya mindset_nya bukan mungkin atau tidak mungkin, tapi HARUS.

Why?

Karena ini adalah ibadah. Kita sedang mentaati Rabb kita. Semua – muanya yang kita lakukan ini (bahkan nyebokin anak sekalipun) itu adalah ibadah.

Lelah, bosan itu manusiawi. Tapi mindset ibadah itu yang terus kita gaungkan di kepala saat lelah dan bosan mulai melanda.

How?

๐ŸŒน Tingkatkan kemampuan menenangkan diri โžก Breat In, Breath Out. Tingkatkan asupan oksigen di otak, it works like magic to calm you down. Bila perlu “PAUSE”, menghilang sejenak, misal ke kamar mandi, kunci, yang penting sendiri dulu sejenak. Sambil mengatur emosi.

๐ŸŒน Tingkatkan kemampuan membahagiakan diri โžก Kunci dari ibu yang bahagia adalah ibu yang memiliki konsep diri yang positif eceileee .. ๐Ÿ˜‚ artikel banget ya bahasanya. Eh tapi ini serius! Ibu yang memiliki konsep diri positif adalah IBU YANG MENGENAL BAIK DIRINYA SENDIRI.

Hayoo.. sekarang saya tanya, sejauh apa sih ibu mengenal dan memahami diri masing- masing?

Ibu yang mengenal dirinya itu tahu, apa sih hal- hal yang sering membuatnya lelah dan dalam kondisi seperti apa. Sehingga memiliki strategi mengatasi.

Ibu yang mengenal diri sendiri tahu bagaimana cara membahagiakan diri sendiri.

Sering- seringlah self talk bu. Biar lebih mengenal diri sendiri.

SELF TALK โžก  self berarti diri, talk adalah berbicara. Jadi self talk adalah ekspresi perilaku seseorang yang berbicara pada diri sendiri sebagai respon terhadap sesuatu yang menimpa dirinya.

Daripada lupa jika hanya berbicara di kepala, tuliskan saja. Punya diary itu penting. Menuliskan perasaan dan apa yang kita alami dapat berfungsi sebagai terapi. Ya daripada curhat sana sini. Toh, sebagian besar solusi dari banyak persoalan kita itu ada pada diri kita sendiri ๐Ÿ˜‰ dengan menulis membantu kita memetakan permasalahan.

๐ŸŒน Manajemen waktu โžก sebetulnya, kita bukannya tidak punya waktu buat diri sendiri sih, kuncinya ada di manajemen waktu. Andai mau, kita bisa kok meluangkan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Coba ditilik kembali, selama ini waktu kosong kita isi buat apa? Mantengin akun gosip?? Please bu, HENTIKAN SEGERA!!! Satu kepo hanya akan menambah kepo- kepo yang lain ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ alhasil tidak selesai- selesai, waktu terbuang dengan percuma. Kenal juga tidak kan sama yang dikepoin. Tidak akan keluar di ujian, tidak bakal ditanya nanti sama Malaikat Munkar Nakir.

Coba buat jadwal teratur dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jika di waktu- waktu itu susah sekali disisipkan Me Time, buat saja wishlist. Andai saya punya waktu satu jam/hari, saya mau ngapain ya?

Untuk mensiasati waktu terbuang percuma, sering- sering tanya diri “ini bermanfaat tidak ya buat bekal dunia dan akhirat nanti?”

Batasi waktu buka social media, dan tidak perlu kepo – kepo. Gunakan prinsip MENARIK TAPI TIDAK TERTARIK.

Misal ingin posting sesuatu, ya posting saja, baca comment, tanggapi seperlunya, lalu log out! Jadi notifikasi tidak akan masuk, yang membuat kita tergoda untuk membuka socmed lagi.

Sumber grafis : pinterest


โ€ขโ€ขโ€ข

Intinya bu yang mau saya sampaikan adalah.. jangan stres di rumah saat membersamai anak- anak ya. Betah- betahlah di rumah. Sebaik- baik tempat wanita itu di rumah. Ingat kita sedang mentaati Rabb kita. Kalau sumpek jangan keluyuran. Belajar hadapi dan cari solusi. Lari bukanlah penyelesaian, karena masalah itu pasti biarpun tidak dicari. Jadikan waktu- waktu bersama keluarga adalah waktu yang berkualitas. Layani mereka dengan hati. Dan jangan pernah menyesali pilihan menjadi Stay at Home Mom. Kita tidak akan pernah menyesal telah menghabiskan waktu bersama anak- anak.

Jadikan rumah sebagai surga dunia. Ini adalah PR kita bersama.

A happy home is but an earlier heaven – Thomas s. Monson





Vivi Erma ๐Ÿ˜Š

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s