Sepuluh Langkah Membangun Madrasah di Dalam Rumah

RESUME AHLAN! KULWAPP PENGASUHAN
📝Sepuluh Langkah Membangun Madrasah di Dalam Rumah
Pemateri: Maya Ummu Abdillah
Moderator: Mierza Miranti
Pelaksanaan: Jumat, 29 September 2017, jam 20.00- 21.30

Peresume : Vivi Ermawati

Materi

T & J

1. T : Adakah contoh pengenalan materi ini untuk anak usia 2 th?

J ‬: Pengenalan tauhid utk usia tsb bs dg mengenalkan ciptaan-Nya
Misalnya saat jalan2 sore, melihat kucing, lalu ucapkan : maasyaa allah kucingnya lagi minum, alhamdulillah kucingnya dikasih rezeki sama Allah.
Dalam semua aktivitas, masukkan materi tauhid. gunakan waktu2 yg hening untuk memperkuatnya. misalnya sebelum ia memejamkan mata, bisikkan lagi, anak sholeh, semoga allah memberkahimu, dst
Bila ada kebahagiaan, ketidakbahagiaan, hubungkan dg Sang Maha Kuasa.

2. T : Bagaimana kalau usia 3thn mulai memilih.. baju, makanan, mainan, sikap dll. Kalau tdk diikuti ngambek, klo sy ikuti dia nampak lebih punya pendirian saat bersosialisasi dengan temannya. Karena terbiasa mengambil keputusan. Bagaimana sikap yang tepat?

J : Usia tsb saat anak belajar menunjukkan egonya, eksistensinya. hal ini penting bagi perasaan berharga thd dirinya, kepercayaaan diri. shg dia tdk mjd anak yg goyah pendirian, mampu menolak keburukan, dsb.
Silakan saja ia memilih utk hal2 yg mubah, memilih baju, dll. Usahakan selalu berada dalam sikap pertengahan. hrs tau kapan menarik, kapan mengulur.

3. T ‬: Terkait masalah kebiasaan mb, kalo ternyata yang dia pilih hal yang tidak benar dalam pandangan kita.

J ‬: Diarahkan mba, anak hrs dibiasakan memilah yg baik dg yg buruk, jangan dibiarkan. semua landasannya tauhidullah, krn itu visi hidup
Kita suka beranggapan, anak gpp deh berbuat salah, masih kecil ini, ini keliru.
Di masa pertumbuhan emas lah justru anak hrs dibiasakan adab2 yg baik.

4. T : Terkait dengan pemilihan yang mubah..
Saya sering berdebat dengan anak2 terkait dengan #maaf# pakaian dalam.mereka sering tidak mau pakai..
Saya malah jadi polisi yg ngawasi cara berpakaian mereka…
Alasannya tidak nyaman katanya..
Padahal sdh saya sediakan dr bahan yg nyaman.
Mereka juga suka pakai pakaian kolor yang lututnya terlihat…
Mohon pencerahannya mbk may..

J ‬: Kalau soal pakaian dalam, coba ganti yg model lain, boxer misalnya.
Kalau pakaian yg kelihatan atau di atas lutut, kembali ke visi utama, tauhidullah. Tauhidullah salah satu konsekuensinya adl mengimani rasulullah, mengimani beliau adl mengimani apa2 yg dibawa oleh beliau. Tauhidullah juga artinya mengimani kalamullah, sbh perintahNya. Dibuka dan pelajari bersama ttg aurat. kl msh di bawah 6th, diberikan arahan dg bahasa yg sederhana.

5. T : Bagaimana cara mengajarkan emosi kepada anak? Khususnya di usia balita?

J : Mengajarkan emosi bs dimulai dr pemberian nama jenis emosi yg dialami anak. misalnya dia kelihatan manyun, tebak emosinya :kaka sedih?atau marah? lalu ajarkan ia menangani emosinya.

6. T : Apakah peran ayah bisa digantikan sementara dengan kakek sewaktu ayahnya pergi?

J : Kalau kakeknya bs memainkan peran ayah dg baik, insyaa allah bisa. ini terjadi pd anak2 saya.

7. T ‬: Saya kadang kurang sabar ketika kakak menangis, dan akhir akhir ini dia terlalu sering menangis, entah di godain adiknya atau ada sesuatu yg tidak bisa dia lngsung menangis. Saya utarakan kakak kenpa, kakak sedih ya kok nangis,,, dia hanya bilang “ini lepas (mainannya)” sudah saya perbaiki.dia diam. Saya beritahu, kakak kalo bisa jangan nagngis kalo ada apa apa di coba perbaiki dlu… Tapi kok dia jadi nangis lagi saya beritahu begitu. Dan akhirnya saya bilang “sudah diam kakak”,,, apakah cara saya kliru dengan berkata “sudah diam”…

J : memang pada praktiknya, masalah pengelolaan emosi ini sangatt beraat. Saya bisa bayangkan situasinya. Saya juga ibu yg susaaah kontrol emosi. Sampai suatu hari saya membaca ttg marah. bahwa marah menutup logika, mjd pintu masuk setan. Ibnul mubaarok ketika diminta nasihat, beliau hanya menjawab, jangan marah.
Jangan marah, bagimu surga. Sebuah hadits singkat, midah dihafal, namun prakteknya perlu kerja keras. coba baca2 buku ttg tazkiyatun nafs/penyucian diri, insyaa allah akan banyak nasihat, hati lbh tenang. Balasan dr Allah itu pasti.

8. T ‬: Mbak, kalo saya kesel sama anak, trus daripada marah itu kalo ditinggalkan dulu bentar boleh?

J ‬: Kalau emosinya memuncak banget, menjauh dr anak dulu sebentar gpp. Baca doa perlindungan dr setan, ambil posisi lbh rendah, berwudhu. Nnt buahnya akan maniiiss….anak2 akan jd penurut, menghargai ortu, insyaa allah
Doanya: a’udzubillaahi minasy syaithoonirrojiim.

9. T : Bagaimana cara mengenali tipe anak? Dan saat usia berapakah bisa dikenali? Terimakasih.

J ‬: Mengenali tipe anak itu hasil dr interaksi dg anak. Semakin intensif, banyak stimulasi yg memperlihatkan reaksi anak, akan semakin mudah kita mengenali anak2 kita. Berikan berbagai kegiatan, misalnya prakarya, berkebun, menggambaar, jalan2, dll. Tidak usah terburu2 mengetahui hasilnya, jalankan saja hari2 dg penuh manfaat, penuh stimulasi. lama2 dia akan mulai menuju ke satu minat, mulai memperlihatkan dirinya.
Kalau patokan usia, scr teori saya tdk tahu. Tetapi pengalaman saya, mulai 10 th anak2 sdh mulai ajeg minatnya.

10. T ‬: Apa jawaban yang baik diberikan jika anak bertanya ‘Allah ada dimana?’

J : Anaknya usia berapa?
Kl sdh diatas 7th bs dikenalkan dalil, kl balita, berikan ceritanya. perumpamaannya
Allah maha tinggi, tiada yg menandingiNya.
Kalau kita berdoa, tangan kita akan menengadah ke atas kan, krn Allah ada di tempat yg tinggi, di sana, di langit paling tinggi.
Kalau kita sujud, kita berdoa kpdNya: maha suci Allah yg Maha Tinggi.
Jadi Allah ada di langit? iya…arrohmaanu alal arsyistawaa = Allah bersemayam di atas ‘arsy….bacakan dalilnya (banyak sekali)
Dialog ttg akhirat, ttg Allah, malaikat, itu fitrah anak2, jangan dianggap sulit. mgkin kitanya yg blm tau.
Selama ini saya jawab : Allah ada di langit, kita belum bisa liat Allah, tapi bisa lihat ciptaannya. Nah seperti matahari, kita ga bisa liat matahari secara langsung karena terlalu terang. Ciptaan Allah segitu hebatnya, Allah lebih hebat lagi
Kira kira begitu.

11. T ‬: Mbak Maya mohon diuraikan mengenai manajemen waktu dan juga pentingnya kecintaan dan adab menuntut ilmu.

J ‬: Saya jawab pertanyaan ttg adab dan ilmu ya
Ada sebuah mispersepsi yg saya sayangkan dunia per HS an yg saya lihat. Ini pendapat saya ya.
Misspersepsi pertama, HS itu bebas, fleksibel, terserah mau ngapain dulu. Saya menghargai sepenuhnya pendapat ini. Namun ijinkan saya menyampaikan bahwa masa2 keemasan anak tidak terulang. akan kita isi apa masa2 emas itu? ibunda imam asy syafii rela berjalan jauh dr ghaza ke madinah agar anaknya berguru kpd ulama di sana.
Ada pula ibu seorang ulama yg bekerja siang malam merajut, utk mengumpulkan uang demi pendidikan anaknya.
Ibunda imam malik juga seorang janda, ia tak pernah lupa memakaikan pakaian yg bagus jika anaknya hendak bertemu sang guru.
Pesan apa yg terkandung di dalamnya? ilmu itu harta!
Sampai2 semua daya upaya harus dikerahkan. Kita berada di jaman skrg, yg tdk perlu berpayah2 jalan kaki, merajut, dan kemudahan lain. Sdh seharusnya kita bersemangat menuntut ilmu, utk diri sendiri maupun anak2
Ilmu definisinya adl apa2 yg diucapkan oleh Allah dan RasulNya
Maka kita hrs bersemangat mengisi masa keemasan anak2 dg ilmu agama, setelah itu barulah ilmu2 lain yg kita pilih.
Tentang adab, para ulama sangat mementingkan hal ini. Bahkan mereka bisa menghabiskan waktu smpai 30 th utk mempelajari adab.
Misspersepsi berikutnya ttg pemanfaatan waktu. dlm HS, kita akan merasa kita memiliki banyak waktu luang, sedangkan pilihan kegiatan sangat banyak, mulai dgn berlayar, sampai penjelajahan alam. pilihlah yg baik menurut keluarga kita, lalu masukkan tauhidullah. memanfaatkan waktu sg sebaik2nya mjd tantangan utk HS er.

12. T ‬: Bagaimana penjelasan yang baik mengenai perbedaan anak laki dan perempuan, sementara anak laki di rumah lebih sering interaksi dengan ibu dan semua perempuan?

J : Berikan pakaian laki2. Mainan khas laki2. Bacakan buku sahabat2 panglima perang, para khulafaurrasyiduun, nabi2, rasul, ulama. Nnt anak akan menyerap seksualitasnya.

13. T : Apakah kegiatan luar bagi anak laki2 usia 4th itu sifatnya saklek atau haruskah dilakukan setiap hari? Bagaimana jika anaknya termasuk yg gemar beraktifitas di dalam ruangan?

J ‬: ini termasuk mubah saja mba. pd umumnya kan anak laki2 suka main di luar.

• Akhir Resume •

#semogabermanfaat

Advertisements

Anak adalah Peniru Ulung

Kakak main boneka.. Adik ikut main boneka, padahal kakak perempuan, adiknya pria. Abang manjat pohon, adik ikut manjat juga, tinggal emaknya yg teriak2 dr dalam rumah. Mas loncat2 di tempat tidur, adik ikutan juga, dengan kaki kotornya. Mbak pegang mainan apa, adik mau mainan yg itu jg. Walaupun sudah di kasih yg kembar persis, ga ngaruh. Mau nya yg di pegang kakaknya. Yang punya anak lebih dari 1 dan yg adiknya sudah bs merebut dan meniru, hafal betul adegan di atas. Kenyang sama rengekan si kakak karena sebel dikintilin dan di copy sm adiknya, si adik jg gaaaa bosan dan jera. Mending kalau cuma yang bagusnya aja yang di tiru.. Yang jeleknya juga. Lebih cepet malah. Dan nempel lama. Rabbana…

Proses mimicry atau meniru ini tampak sederhana, bahkan cenderung menyebalkan. Namun sejatinya hal ini adalah cikal bakal dari konsep peng’idola’an. Sebuah konsep yang sering sekali tidak tersentuh oleh para orangtua dalam pengasuhannya. Boro-boro menjelaskan tentang idola, bisa mandi, makan dan pup dengan tenang saja sudah menjadi hal yang langka. Tapi karena tidak tersentuhnya ini, maka sekarang semakin banyak kita temui, mereka yang mengidolakan artis, nasional maupun luar negeri, sampai ke level yang tak masuk akal lagi. Rela nabung untuk nonton konsernya, hafal semua lagu, dan jika idola mereka terhina, bela-belain sampai mati.

Pada dasarnya, memiliki idola sebetulnya sangat penting utk perkembangan anak. Mereka memerlukan 1-2 sosok yang mereka kagumi, tiru, memiliki kelebihan yg banyak dan menjadi contoh diri mereka di kala mereka sedang ‘mencari jati diri’. Idola yg ideal kalau menurut ajaran agama kita tentunya rasulullah, tapi dari beberapa dekade lalu saja lewat sebuah polling, sudah terbukti bahwa sudah tidak lagi begitu. Kita begitu kecewa pada hasil polling itu sampai kita tidak tahu lagi mau menyalahkan siapa dan memenjarakan si pembuat pollingnya. Di mana seharusnya kita berterimakasih, karena dia justru membuktikan bahwa ada yang salah di pengasuhan kita. Itu.. generasi kita. Apalagi berpuluh tahun setelahnya.

Tapi bagaimana tidak anak-anak sekarang lebih suka sama Rihanna? Mereka lebih sering terpapar dengan katy perry dan raisa di banding sirah2 nabawiyah. Gimana tidak? Ibunya saja di tanya siapa menantunya Nabi Syuaib, sama sekali tidak tahu apa2. jd yaaa, jika mereka mengidolakan yg lbh sering mereka lihat dan dengar, wajar saja. Mungkin bukan anak anda.. tapi anak teman2 anda , atau tetangga.. dan jutaan anak lainnya di negeri ini.. di luar sana… punya idola yang salah. Karena pemahaman tentang idola tidak pernah di bahas di rumah.

Jadi sebetulnya pengidolaan tanpa kita sadari, di mulai sejak dini. Sama saudara yang lebih tua, muda, atau bagi anak tunggal, dengan orangtua atau pengasuh utama mereka. Mulainya hanya meniru, lalu mengagumi. Jadi sebetulnya itu dulu yang harus di install sama si abang. Bahwa si adik menganggap kakak itu keren, bagus, jadi harus diikuti. Dan kalau kita memberikan contoh yang baik dan di ikuti oleh orang lain, pahala nya juga kita dapati.

Tapi…ya ini hanya penjelasan untuk kakak yang berusia di atas 5. Sebelum itu memang seharusnya belum punya saudara. Karena mereka masih bonding sama orangtua, dan belum bisa memahami makna ‘abstrak’ seperti halnya idola. Kalau sebelum usia 5 sudah punya adik, ya berarti derita ibunya, kudu ngadepin drama setiap hari tanpa bisa melakukan apa2, hehehe (baca: saya tidak punya solusi untuk menjelaskan idola ke anak di bawah usia 5, maafkan saya.)

Semakin kakaknya besar, semakin banyak yang harus di instal tentang idola. Bahwa semua org yg kita idolakan memiliki sisi negatif karena mereka hanya manusia. Suka sama seseorang tidak lantas kita mengikuti semuaaaaa yang ada padanya. Yang ia pakai, katakan, apalagi gaya hidupnya. Ber’idola’ boleh, tapi jangan sampai me’nuhan’kan. Demi nonton konsernya semuanya dikorbankan. Demi mengikuti gaya rambutnya, rambut yg keriting jadi ikut diluruskan. Meniru abis, nggak karuan. Idolakan org yang baik, dengan cara yang baik pula. Bukan gaya hidupnya yg hrs diikuti, tp lebih ke cara berpikir bahwa kita suatu hari harus ‘sehebat’ itu juga. Jadi mengidolakan itu sebetulnya BUKAN berarti meniru. Karena mengidolakan itu mengagumi kehebatannya tapi kita tetap menjadi diri kita sendiri. Kalau meniru, bisa jadi kita ikutan meniru kesalahan-kesalahan yg org itu lakukan, kan rugi.

Anak juga harus bisa memilah milih dari siapa yang dia idolakan. Mengidolakan rasulullah bukan berarti mengikuti jejaknya beristri sembilan. Tapi wajib mengikuti sunnahnya, jadikan teladan. Demikian juga kalau mengidolakan artis manca negara. Kita gk ngikutin kebebasannya mengumbar aurat kemana-mana, karena memang mungkin ajaran agamanya beda sama kita. Tapi yang di ‘idolakan’ adalah ke istiqamahan dia untuk tdk berhenti berusaha sampai dia bisa di kenal oleh dunia. Dia tdk berhenti berkarya dan karya nya kadang memberikan semangat dalam kata2nya. Untuk menjadi sehebat dia, kita mungkin harus meramunya dalam bentuk yang berbeda, tapi kalau kita jadi bisa menebar manfaat bagi orang banyak, kan bagus juga.

Di zaman yang edan ini, ada baiknya kita ‘mengikuti’ perkembangan anak2 kita scr dekat sehingga kita tahu apa siapa yg mrk suka dan tdk. Agar jika ‘idola’nya kurang baik, bisa kita perbaiki. Jika kita tidak suka pilihan idola2 mereka, mungkin waktunya introspeksi diri. Karena manusia hanya mengidolakan orang yang mereka kenal dan kagumi. Jadi jika anak saya mengidolakan Messi daripada nabi Ibrahim yg luar biasa berani, pintar dan rendah hati, atau nabi ismail yang super taqwa di usia yg begitu dini, maka jelas ada yang bolong dalam pengasuhan saya sehari-hari.

Jadi mulai besok, ketika si kakak mulai mengeluh adiknya mengikuti semua yang dia lakukan, pahami perasaannya bahwa itu memang menyebalkan. Tapi itu hanya karena adik ngefans berat sama kakak luar biasa, lebih banyak daripada dia ngefans sama ayah dan mama. Jadi idola, kak, memang susah. Bakal di tiru semua perilaku dan gayanya. Tapi kakak akan jadi orang hebat suatu hari nanti, dan harus mulai latihan punya fans, mulai dari adik sendiri.

Dan ke adik, kalau sudah bisa di bilangin, kudu di kasih tau juga. Bahwa orang nggak suka diikuti segala-galanya. Dan nggak semua apa yang mas pegang dan kerjakan diikutin juga. Karena mas suka lupa dan salah dan tidak ada manusia sempurna. Jadi yang di tiru, yang baik2nya saja.

Esok, ketika hal ini terjadi lagi, lihatlah sebagai sebuah jendela. Celah dan kesempatan dimana ayah dan ibu bisa meng-install makna idola. Terkadang memang dalam pengasuhan, sesuatu yang begitu penting, muncul dalam bentuk yang begitu sederhana. Jangan sampai anda kehilangan momennya.

Children are great imitators, so give them something great to imitate. -Unknown

#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini
** mohon untuk tidak menuliskan pertanyaan pada kolom komen, karena khawatir tidak terbaca dan terjawab. Terima kasih.

Cemilan Rabu : Semua Anak adalah Bintang

🍯 *Cemilan Rabu* 🍯
*Materi 7 : Semua Anak adalah Bintang*

Apa yang ada dibenak kita saat mendengar nama “Hellen Keller”?

Helen sebenarnya tidak terlahir buta dan tuli (sekaligus bisu), hingga saat usianya 19 bulan keterbatasan tersebut datang.
Bagaimana dengan masa depannya? Ia lulus dengan gelar magna cum laude, menjadi orang buta pertama yang lulus dari universitas. Ia juga menjadi pembicara, penulis dan aktivis kemanusiaan yang terkenal di dunia.
Helen bisa melakukan banyak hal dibandingkan dengan orang-orang yang justru bisa melihat dan mendengar. Gadis yang seolah terputus dari dunia dan seisinya, bisa melakukan banyak hal!

Dibalik kesuksesan tersebut, tentu ada proses tak mudah yang telah dilaluinya. Selain kesungguhan dari dirinya, ada orang-orang “dibalik layar” yang mendukung tapak langkah kakinya menemukan “dirinya” dan potensinya. Mereka adalah keluarga dan gurunya.

Helen Keller adalah satu dari sekian banyak orang yang mampu meninggikan gunung, bukan meratakan lembah. _”Everybody is a genius. But, if you judge a fish by its ability to climb a tree it will live its whole life believing that it is stupid”_. (Albert Einstein)

Sungguh, semua anak adalah bintang. Sepenggal kisah dan tulisan diatas untuk mengingatkan dan menguatkan kita, orang tua, agar membersamai anak-anak kita untuk menemukan potensi unik dalam diri mereka, memfasilitasi mereka agar bisa menjadi cahaya bagi peradaban, serta menjadi pribadi mulia yang tunduk kepada Tuhannya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

Sumber:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller

Menjadikan Ibadah Anak Kita Menyenangkan

MENJADIKAN IBADAH ANAK KITA MENYENANGKAN
Seminar Parenting oleh Ibu Elly Risman, Psi. YKBH
CEO Building, Jakarta. 30 Agustus 2017

Resume oleh Vivi Ermawati

Bismillah,

Mengapa anak diajarkan beribadah?

Tujuannya melaksanakan perintah Allah Ta’ala
Sesuai dengan firmanNya :

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”
(QS: adz-Dzariyat;56)

MENGAPA IBADAH PERLU MENYENANGKAN?

Karena target yang akan kita latih adalah anak- anak. Sesuai dengan cara kerja otaknya, yang berkembang pada anak usia di bawah 7 tahun adalah pusat perasaan. Parenting is all about wiring. Jadi wiring anak tentang ibadah yang kita ingin bentuk. Sebagai orangtua, kita perlu menyadari tantangan membuat anak mampu beribadah dengan benar dan baik. Dan ini membutuhkan kerjasama orangtua, tidak bisa ibunya saja, atau ayahnya saja.
Tanggung jawab orang tua adalah membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Jadi bagaimana kita bisa membuat anak- anak paham alasan beribadah, tidak terbebani dan tidak menolak sehingga anak SUKA dan BAHAGIA melakukannya. Ukirlah kenangan yang indah.
Yang orang tua perlu pahami bahwa anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan ke pemiliknya. Mereka bisa jadi kenikmatan, tantangan bahkan musuh. Maka dari itu kita membutuhkan perjuangan dalam mengasuh mereka dalam bentuk pikir, jiwa, tenaga dan biaya. Semua kita lakukan harus karena Allah.

Anak-anakmu bukan pilihanmu, tapi takdir. Jadi baik anak ataupun kita, orangtuanya tidak bisa memilih. Maka terimalah takdir itu sebaik2nya.

💗 Tantangan Mengajarkan Anak Beribadah Menyenangkan 💗

1. Tantangan dari Dalam Diri Sendiri dan Pasangan

Look in.
♧ Bagaimana masalah ibadah ini ditanamkan pada anda dan pasangan. Bagaimana rasa kenangan tentang ibadah itu diingat?

♧ Bagaimana pemahaman agama? Terbatas atau tidak?

♧ Orang tua harus memiliki kesadaran bahwa tujuan utama mengasuh anak adalah menjadikan mereka Penyembah Allah

♧ Penanggung jawab utama : AYAH!
Ayah harus menggariskan semua hitam di atas putih mau menjadi apa anak kita. Berapa menit masing- masing anak dapat berbicara dan berinteraksi dengan ayah? Kesimpulan dari penelitian di Harvard bahwa anak-anak yang dekat dengan ayah akan menjadi orang dewasa yang suka menghibur orang lain, punya harga diri yang tinggi, prestasi akademis di atas rata-rata dan lebih pandai bergaul.

♧ “Nilai” anak yang rendah
“Orang kalau diabaikan perasaannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki tidak akan berharga dirinya.”

♧ Kurang ilmu tentang prinsip dasar cara kerja otak & pembiasaan ibadah pada anak

♧ Hidup yang rutin mekanistik

♧ Bagaimana kualitas komunikasi dengan anak- anak? Apakah tergesa- gesa?

Berikut adalah kekeliruan dalam berkomunikasi sehari- hari yang orang tua tidak sadari ⤵

12 gaya populer, kekeliruan dlm komunikasi

1. Memerintah
2. Menyalahkan
3. Meremehkan
4. Membandingkan
5. Mencap/label
6. Mengancam
7. Menasehati
8. Membohongi
9. Menghibur
10. Mengkritik
11. Menyindir
12. Menganalisa

Kiat berbicara dengan anak adalah kita harus memposisikan diri 2- 3 tahun di atas anak kita.

♧ Abai terhadap tantangan zaman.

2. Mengasuh Generasi Alpha

• Generasi Y lahir tahun 1980-1994
• Generasi Z lahir tahun 1994-2009
Generasi Alpha (lahir 2010 -2025)
– Mereka hidup dengan internet (belajar, bikin PR, makan, olahraga, tidur)
– Semua serba cepat, instan menantang dan menyenangkan
– Mereka terbiasa multiswitching
– Mereka memiliki tata nilai yang berbeda

3. Beban Pelajaran Terlalu Berat

70% Anak masuk SD sebelum usia 7 tahun
46% Anak di sekolah 6- 7 jam sehari
25% sekolah masih memberi materi pelajaran formal setelah jam 12 siang
52% Guru di sekolah masih memberikan 1- 2 PR
18% Anak mengikuti les matapelajaran setelah pulang sekolah
25% Anak mengikuti les 2-3 hari dalam seminggu
Standart kelulusan Indonesia tertinggi di seluruh dunia

4. Peer Pressure ➡ tekanan yang dialami seseorang karena pengaruh dari lingkungan sosialnya

5. Ancaman dari agama dan kepercayaan lain

6. Perubahan nilai dalam masyarakat kita.

💕 LALU HARUS MULAI DARI MANA? 💕

❣➡ Selesaikan urusan dengan diri sendiri dan pasangan

Selesaikan PR-PR masa lalu (Innerchild within). PR masa lalu ini adalah PR saat masa kecil, yang pernah disakiti saat masa kecil. Maafkan. Minta sama Allah untuk selesaikan. Jika tidak bisa menyelesaikan sendiri, jangan ragu untuk minta tenaga ahli (psikolog, psikiater).

❣ ➡ Mulai dari ibu bapaknya

Bagaimana mengajarkan anaknya sholat kalau orang tuanya tidak sholat?
Bagaimana bisa menyuruh anaknya sholat ke masjid kalau orangtuanya tidak pernah mengajak ke masjid?

Kecintaan pada masjid itu menggunakan perasaan dan butuh pembiasaan.

Bapak dan ibu harus bekerjasama.

Menjadi orang tua adalah Partnership. Dimana didalamnya diperlukan Niat baik, Kejujuran, Keterbukaan dan Harapan yang tinggi akan hubungan yang menyenangkan dan bahagia sambil bekerjasama mencapai tujuan yang ditentukan. Mengkombinasikan Kepribadian, Kepemilikan, Akal, Bakat dan seluruh kemampuan.

Kenapa orang tua harus berubah terlebih dahulu? Karena orang tua adalah Role Model anak. Anak akan ikut persis ayah ibunya. Jika mau sadari sebetulnya kita hutang banyak sekali pada anak kita. Saat kita salah pengasuhan, maka kita berarti menabung untuk kesalahan yang sama dalam mendidik cucu kita. (Dosa – dosa pengasuhan ➡ https://goo.gl/PdpgYo )

ROLE MODEL ➡ Kenal ➡ Tahu ➡ Suka ➡ Mau ➡ Bisa ➡Biasa/Terampil

♡ Kesepakatan dan Kerjasama Orangtua ♡

✔ Tentukan siapa pengambil Keputusan. Ayah penentu GBHK (Garis Besar Haluan Keluarga) dan Ibu adalah UPT (Unit Pelaksana Teknis). Dudukkan ayah di singasananya. Untuk para istri, jangan lebih tinggi sebenangpun dari suami.
✔ Lakukan Perencanaan – Pelaksanaan – Evaluasi
✔ Buat target masing- masing anak. Buat kurikulum sesuai usia anak.
✔ Pembagian kerja sama
Misal : Ibu siang mengajari anak. Ayah malam mengisi kultum.
✔ Kontrol
✔ Dasarnya Musyawarah!

Anak2 butuh pelukan supaya jiwa tidak hampa.

Mengasuh anak tidak bisa tergesa-gesa
– Anak usia 1-5 tahun : butuh 20 tahun masa pengajaran
– Anak usia 5-10 tahun : butuh 15 tahun masa pengajaran
– Anak usia 10-15 tahun : butuh 10 tahun masa pengajaran.

❣➡ Sadari : “sasaran tembak” pengasuhan

1. Penyembah Allah. Anakku harus sholeh dulu, baru pintar akademis. Tujuan berkeluarga : menjadikan anak yang mencintai Allah dan BAHAGIA

2. Pribadi muslim yang kaffah (Luqman : 12-22)

• Tauhid
• Akhlak
• Ibadah
• Berfikir kritis
• Mandiri dan Bertanggungjawab
• Psikososial : Empati, Beramal
• Etos kerja yang baik
“A pleasant person to be with”

❣ ➡ Kenali keunikan dan tahapan perkembangan otak anak

Siapa anak kita ?

💛 Masing- masing anak UNIK. Sesuaikan setiap tahap pengajaran dengan kondisi anak anda. Jangan ikut- ikutan anak orang lain.

💛 Otak baru berhubungan sempurna 7 tahun.

💛 Hubungan antara Sistem Limbik ke Corteks Cerebri sempurna 19 – 21 tahun, tapi dalam Islam 14 tahun (aqil baligh), dalam islam tidak ada istilah remaja. Itulah mengapa anak usia 17th bisa jd pemimpin perang.Karena pengasuhan dalam islam.
Prefrontal cortex (PFC) adalah bagian otak yang membedakan antara manusia dengan hewan. Prefrontal cortex terletak tepat di belakang dahi. Fungsi dari otak bagian ini adalah untuk berpikir, merencanakan, memutuskan sesuatu, mengontrol emosi dan tubuh, memahami diri sendiri, empati pada orang lain, dan juga moral. Orang-orang yang punya kepribadian dewasa adalah orang yang punya prefrontal cortex yang tumbuh dengan baik. Pornografi adalah salah satu yang bisa merusak PFC. Kalau otak akademis ada di dalam bagian otak yang lain. Jadi ada anak yang mungkin kemampuan akademisnya bagus, tapi jika PFC nya rusak, maka akhlak dan moralnya rendah.

💛 Anak perlu menjadi anak untuk dapat menjadi orang dewasa.

💛 Hilangnya masa kanak-kanak akan mengakibatkan masyarakat yang kekanak- kanakan.

💛 Bantulah anak mekar sesuai dengan usia dan kemampuan serta keunikannya

Anda adalah rumah produksi maka hasilkanlah anak- anak yang tidak hanya terpelajar, tapi terdidik, termasuk cara dia beribadah.

Paradigma – CARA PANDANG diubah
Anak bukan saja BISA tapi SUKA beribadah

Maka jadikan anak yang menjadikan ibadah itu hal yang menyenangkan.
Jadi kita identifikasi dulu anak kita udah di tahap apa, baru KENAL kah, baru TAHUkah atau sudah ke tahap SUKA. Ada anak terlihat SUKA tapi TIDAK MAU ibadah. Bisa jadi memang anak baru di tangga TAHU.

❣ ➡ Orang tua harus mengetahui landasan ibadah yang menyenangkan

💕 Landasan Ibadah Menyenangkan 💕

♡ Landasan Spiritual :

• Qur’an – Hadits
• Pendapat para ahli

♡ Landasan Medis :

• Cara kerja otak

Landasan Psikologis :

• Mudah dibentuk
• Daya ingat yang kuat : belajar di waktu kecil
• “Dunianya” terbatas
• Ikut Role Model

💜 Landasan psikologis 5 – 8 th

• Mudah dibentuk
• Daya ingat yang kuat
• “Dunianya” terbatas
• Meniru : Ikut Ortu/ situasi
• Rasa persaudaraan sedunia

Ibadah untuk anak usia 5 – 8 tahun Bukan kewajiban tapi perkenalan, latihan dan pembiasaan.

Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak tapi kewajiban bagi orang tua mengajari.
Misal : sabar menghadapi anak usia ini jika mereka belum bisa duduk tenang saat diajarkan mengaji, malah main air saat diajak berwudhu, atau masih belum bisa sholat dengan khusyuk (main- main). Sebagai orang tua jangan emosi, kendalikan diri.

Ciptakan WIRING MENYENANGKAN dengan 3B ➡ BERCERITA, BERMAIN, BERNYANYI.
Bercerita atau berkisah adalah metode pembelajaran jaman rasulullah. Ajarkan sifat- sifat Allah cerita dan peraga. Anak generasi alpha harus memakai alat peraga. Tidak bisa kalau hanya dengan bicara.

💜 Landasan Psikologis Anak 9- 14

• Otak sudah sempurna berhubungan
• Umumnya : Mukallaf (muslim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi larangan agama dan yang sudah dapat dikenai hukum bila melanggar)
• Emosi sering kacau
• Tugas sekolah semakin berat + les
• Banyak aktivitas + Internet & Games
• Peer Pressure sangat kuat

Hal- hal yang perlu diperhatikan⤵

✔ Fokus pada target tahun ini : tanggung jawab seorang yang sudah Baligh
✔ Perlakuan dan Komunikasi sebagai Teman
✔ Bisa menjadi pendamping / pembimbing adik- adiknya
✔ Diberi tanggung jawab sosial : mengantar makanan berbuka, membayar zakat dan kerja sosial yang mudah sesuai usia
✔ Dagang

💜 Landasan Psikologis usia 15- 20

• PFC hampir sempurna berhubungan
• Dewasa Muda
• Semakin banyak Aktivitas + Internet & Games
• Mulai pacaran, seks bebas, Narkoba
• Orientasi semakin di luar rumah

Hal hal yang perlu diperhatikan ⤵

✔ Fokus pada target tahun ini : Dewasa muda, Fiqih Nikah
✔ Perlakuan dan Komunikasi sebagai sarana orang dewasa
✔ Bisa menjadi Motivator, pembimbing adik- adiknya
✔ Penggerak/ koordinator kegiatan anak dan Remaja Mesjid dan Mushalla

💕 Persiapan pengetahuan dan cara menyampaikan 💕

⛤ Ibu bapak belajar lagi untuk bisa menjelaskan : “Mengapa?: “ Why, why?”
⛤ Jelaskan keharusan dan larangan Faedah dan Ganjaran
⛤ Pendekatan positif, Ringkas dengan contoh kongkrit
⛤ Gunakan Qur’an Hadits sebagai referensi
⛤ Perhatikan kaidah
⛤ Lamanya waktu persiapan: usia dan kemampuan anak, kondisi fisik dan karakternya

💕 Siap Mengatasi Masalah 💕

🔥Gunakan kata- kata yang memahami perasaan
🔥Banyak mendengar aktif
🔥Hindari menggunakan kata- kata yang menghambat komunikasi
🔥Berkesempatan dan biasakan anak untuk Berfikir, Memilih & Mengambil Keputusan
🔥Sampaikan “pesan saya”

❣ ➡ dan Kaidah yang harus diperhatikan

🌹 Jangan lupa berdo’a dan tetap semangat dan bersungguh sungguh.

“Maka bersungguh2 lah karena Allah senang dengan orang yg bersungguh-sungguh”

🌹 Katakan kepada mukmin untuk menahan pandangan dan kemaluanmu.

🌹 Allah tahu apa yang kamu kerjakan.

🌹 Jangan pernah berputus harapan dari rahmat Allah.

Tips sukses :

1. Sayang sama bunda
2. Sholat tepat waktu pergi ke Masjid (untuk anak laki- laki)
3. Puasa senin kamis
4. Baca Al – Qur’an pagi sore

Selamat Berjuang!

1. MILIKI KEKUATAN KEHENDAK
2. BAYANGKAN
3. DOA

Discovering Ability

_Review Tantangan 10 hari Sesi #7_

_Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional_

DISCOVERING ABILITY

Tantangan 10 hari yang sudah bunda lakukan di game level #7, kali ini berkaitan dengan “Discovering Ability“.

Dua kata dalam bahasa inggris di atas, apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi panjang yaitu, kemampuan daya jelajah para orangtua dan guru selaku pendidik anak-anak untuk menemukan harta karun potensi-potensi yang ada dalam diri anak-anak.

Ada empat ranah yang sudah dilakukan oleh para Ibu Profesional di kelas bunda sayang ini untuk melakukan proses pencarian potensi kecerdasan anak yaitu :

a. *Ranah intrapersonal (Konsep Diri)*

b. *Ranah Interpersonal (Hubungan dengan sesama)*

c. *Ranah Change Factor (Hubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan)*

d. *Ranah spiritual : (Hubungan dengan Sang PenciptaNya)*

Mari kita bahas satu persatu

1⃣ *Ranah Intrapersonal : KONSEP DIRI ANAK*

Konsep diri pada anak adalah suatu persepsi tentang diri dan kemampuan anak yang merupakan suatu kenyataan bagaimana mereka memandang dan menilai diri mereka sendiri .

Hal ini berpengaruh pada sikap yang mereka tampilkan.

Konsep diri anak terbentuk melalui perasaan anak tentang dirinya sendiri sebagai hasil dari :

a.Interaksi dan pengalaman dengan lingkungan terdekat

b.Kualitas hubungan yang signifikan dengan orangtua dan keluarga terdekat

c.Atribut yang diberikan lingkungan terhadap dirinya.

Langkah-langlah yang wajib dikenalkan oleh orangtua dalam rangka proses mengenal konsep diri anak adalah sbb:

a. *Mengenal Allah dan ciptaanNya*

Anak yang makin mengenal dirinya pasti akan makin mengenal siapa penciptaNya

b. *Dilatih untuk membaca diri*

Dua fase penting dalam hidup anak kita adalah ketika mereka dilahirkan dan ketika mereka menemukan jawaban mengapa mereka dilahirkan. Maka bantu anak-anak untuk meyakinkan dirinya sebagai ciptaan Allah yang terindah dan khalifah di muka bumi ini.

c. *Dilatih untuk membaca alam*

Anak-anak dilatih untuk memahami mengapa mereka ditempatkan Allah di alam dimana mereka tinggal saat ini. Memahami kearifan lokal dimana mereka dibesarkan.

d. *Dilatih membaca jaman*

Anak-anak bukanlah milik kita, mereka adalah milik jamannya. maka didiklah anak-anak kita sesuai jamannya. Mereka akan belajar mengapa mereka dilahirkan di jaman seperti ini dan tantangan jaman apa saja yang harus mereka hadapi.

Bantu anak-anak untuk mempersiapkan dirinya sehingga percaya diri menghadapi jamannya.

e. *Membaca Kehendak Allah*

Anak-anak yang sudah diilatihkan segala macam konsep diri dengan metode Iqra’ seperti yang sudah dijelaskan di atas (membaca diri, membaca alam, membaca jaman) maka akan menjadi orang yang ikhlas dengan segala kehendak Allah padanya.

Cara memahami konsep diri di atas akan menguatkan anak di ranah

*IMAN Dan AKHLAK*

Dua hal inilah yang perlu dikuatkan ke anak-anak di ranah konsep diri.

2⃣ *Ranah Interpersonal: HUBUNGAN DENGAN SESAMA*

Setelah anak memahami konsep dirinya dengan baik, saatnya mereka kita latih untuk menguatkan kecerdasan interpersonalnya (hubungan dengan sesama) lewat konsep diri yang sudah didapatkannya dengan menguatkan IMAN dan AKHLAK.

Dengan demikian diharapkan ketika berinteraksi dengan orang lain anak tetap kuat imannya, makin baik akhlaknya, makin mengenal jati dirinya dan tidak mudah terpengaruh.

Dua fase penting dalam hidup seseorang adalah ketika bertemu dengan jodohnya ( jodoh ini bisa pasangan hidup, bisa partner kerja, bisa tetangga, bisa pekerjaan, bisa komunitas dll) dan fase di saat kita menemukan jawaban mengapa kita dipertemukan.

Kecerdasan hubungan dengan sesama ini menjadi hal yang sangat penting bagi anak, karena akan menguatkan peran hidupnya dalam menjaga amanah berikutnya, yaitu amanahnya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Ketika sudah masuk usia aqil baligh mau tidak mau anak harus berhubungan dengan orang lain, minimal jodoh hidupnya dan keluarganya.

Dua senjata utama yang perlu dilatihkan ke anak-anak untuk meningkatkan kecerdasan hubungan dengan sesama adalah

*ADAB dan BICARA*

ADAB akan membuka tabir ilmu yang tertutup, BICARA akan memudahkan seseorang untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya.

Untuk itu anak-anak perlu :

a. Belajar berbagai ADAB dalam hidup ini, agar bisa diterima oleh lingkungan dimana mereka akan ditempatkan.

b Belajar mengkomunikasikan semua gagasan dan ilmunya dalam berbagai cara.

3⃣ *Ranah Perubahan: FAKTOR PERUBAHAN*

Sebagai Khalifah di muka bumi ini, salah satu tugas anak-anak ketika aqil baligh nanti adalah membawa perubahan ke arah yang lebih baik terhadap apa yang dipimpinnya. Perubahan itu minimal adalah perubahan pada dirinya sendiri, karena sejatinya semua orang adalah pemimpin untuk dirinya sendiri.

Anak yang sudah paham konsep diri, memiliki kecerdasan berhubungan dengan sesama, akan selalu membandingkan dirinya hari ini dengan dirinya kemarin. Hal ini memicu perubahan pada dirinya sebelum melakukan perubahan pada orang lain.

Seseorang yang sudah bisa memimpin dirinya, membawa perubahan untuk dirinya akan bisa membawa perubahan untuk keluarganya.

Seseorang yang bisa memimpin dirinya dan keluarganya, akan dengan mudah membawa perubahan untuk masyarakat/komunitas sekitarnya.

Dengan pola ini insya Allah kita bisa mengantarkan anak-anak menuju peran peradabannya, mampu memikul kewajiban baik secara individu maupun secara sosial.

4⃣ *Ranah Spiritual : HUBUNGAN dengan PENCIPTANYA*

Ketika anak-anak memahami peran peradabannya di muka bumi ini, maka mereka akan tumbuh menjadi individu yang meletakkan ranah spiritual sebagai yang utama dan pertama dalam kehidupannya. Mereka akan kembali ke fitrah sebagai makhluk spiritual, yaitu makhluk yang pada dasarnya menerima siapa dirinya, mampu menjadi diri sendiri sesuai dengan peran hidup dari penciptaNya, dan mampu menyelaraskan dengan kebenaran yang hakiki.

Spiritualitas yang sesungguhnya adalah kemampuan setiap jiwa untuk hidup selaras dengan Sang Pencipta, hidup sesuai dengan kehendakNya.

Dari penjelasan di atas, Semakin yakin kita bahwa “discovering ability” yang dilakukan orangtua pada anak menjadi hal penting yang harus kita lakukan dalam membersamai anak-anak. Karena hal tersebut tidak hanya berpengaruh dalam peran hidup anak secara individu saja, melainkan sangat berpengaruh terhadap perubahan peradaban umat manusia di saat anak-anak kita aqil baligh dan menjalankan peran kekhalifahannya di muka bumi ini.

_Salam Ibu Profesional_

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚 *Sumber Bacaan* :

_Howard Gardner, Multiple Intellegences, ISBN : 9789791208642, 2006_

_Septi Peni Wulandani, Pola Pendidikan di Padepokan Margosari, makalah ilmiah, 2017_

🍁🍁🍁🍁🍁

1⃣Teh mekar, izin bertanya

Assalamu’alaikum ibu septi,
1. Bisa dicontohkan teknis memperkenalkan konsep diri kpd anak berumur 2th?
2. Bagaimana tahapan usia golden age anak utk pengenalan 4 ranah tsb?
3. Bagaimana jika ada ibu yg terlanjur belum memahami konsep dirinya, sehingga berimbas pada ranah hubungan dengan sesama, khususnya adab dan bicara kepada keluarga pasangan?

Terimakasih ibu🙏🏻

➡ Wa’alaykumsalam wr.wb

1.Bunda, untuk anak umur 2 tahun, konsep diri yang perlu dilatihkan adalah mulai dari ranah tentang proses “aku” anak ini. Misal namaku, rumahku, orangtuaku, makananku dll.

Setelah itu kenalkan dengan berbagai ciptaan Allah yang ada di muka bumi ini, karena manusia yang makin mengenal dirinya maka dia makin memgenal siapa Tuhannya.

2.Untuk anak golden age, mulai saja dg mengenal siapa dirinya dan memahami lingkungan sekitar. Belum perlu ke ranah change factor dan ranah spiritual

3.Seorang ibu yang belum memahami konsep dirinya biasanya akan menjadi ibu yang “tuna adab” saat masuk ke ranah hubungan dengan sesama.

Maka kita perlu menguatkan konsep diri terlebih dahulu✅

2⃣Saya mau menanyakan, bila pada perjalanan mengamati interpersonal nya anak anak. Lalu kita menemukan hal yang tidak baik pada anak. (Ujian bagi ranah intrapersonalnya) misalnya anak meniru apa yang dilakukan teman nya (sikap).
Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?

Apakah mengurangi intensitas bermain dengan teman nya. Sambil mengokohkan interpersonal nya.

Rasanya kok seperti membentuk antibodi gitu ya Bu.

Karina – IIP Babel

➡Mbak Karina, seseorang yg konsep dirinya belum kuat, biasanya akan menjadi gampang terpengaruh ketika masuk di ranah hub dengan sesama.

Sehingga solusinya adalah menguatkan konsep diri anak, bukan mengurangi intensitasnya di ranah hub dengan sesama✅

Karina : Berarti tahapan itu harus terevaluasi dan dikuatkan terus menerus ya Bu?

Sambil lihat kembali jawaban Nomor 3.

Bu Septi : Betul mbak, tidak akan pernah terputus, harus dikuatkan pijakan awalnya, karena akan berpengaruh pada pijakan berikutnya. Dan ini tidak boleh berhenti sampai akhir hayat✅

3⃣Assalamualaikum Ibu,

Saya Lulu – Bekasi

Bu, sebelumnya Terimakasih sekali penjelasannya, jadi semakin paham posisi “Discovering Ability” ini memang Saya fokus ke 4 ranah itu selama tantangan, dan minim sekali materi tentang penjelasannya… Akhirnya sampai bertemu dengan artikel Howard Gardner…

Rasa curiosity Saya belum selesai bu…

Tadinya Saya memaknai Discover Ability ini ke arah potensi atau dikaitkan dengan talent anak anak…

Bagaimana cara mengaitkan dan menyimpulkannya Bu? Senang sekali jika diiringi dengan contoh…

Jazakillah Khairan Katsiran Bu 🙏

➡ wa’alaykumsalam wr.wb, mbak lulu. Kalau dikaitkan dg multiple intelkegences nya howard gardner, maka memahami kecerdasan anak ini masuk rabah konsep diri.

Contoh :

Konsep diri,
kita amati kekuatan anak ternyata di kecerdasan natural.

Ranah hubungan dengan manusia,
Kita ajak anak-anak untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki passion yg sama di ranah natural.

Ranah change factor,
Mulailah anak-anak mengasah dengan 3 pertanyaan. Mengapa, bagaimana jika, mengapa tidak?

Ranah spiritual
Anak-anak jadi semakin paham apa kehendak Allah ataa dirinya✅

4⃣Bu Septi, bagaimana jika konsep diri ini belum selesai dipahami untuk orang dewasa?
Bagaimana treatment yang sebaiknya dilakukan, karena untuk membersamai anak maka kita harus selesai terlebih dahulu,
Mohon pencerahannya 🙏🏻😊

Fitri – Tangsel

➡Mbak Fitri, ketika anak sudah ada di rahim kita, artinya diri kita sudah disiapkan Allah untuk mendidik anak-anak.sehingga pakai prinsip “belajar bersama” bukan “mengajar”

Karena belajar bersama maka tentukan jam belajar bersama, paling dasar adalah berbagi bukan saling menuntut✅

5⃣Iyie-Cirebon
Membaca review ibu Septi ttg game level 7 ini, membuat saya merinding, karena bukan tugas yang bisa dibilang mudah. Dan sebenarnya bisa lebih mudah dijalani dengan kesamaan visi dengan pasangan. Jadi yang ingin saya tanyakan, *langkah apa yang harus diambil jika “negatif thinking” pasangan yang sepertinya mengambil porsi lebih besar pada pemikiran anak dibanding “positif thinking” saya*.
Contohnya begini, dalam banyak hal, anak saya selalu berpikir yang jelek dulu jika ditawarkan sesuatu misalnya outbond, biasa memikirkan akan jatuh, kotor terluka dan pikiran jelek lainnya. Padahal ketika terpaksa mengikuti outbond itu, akhirnya malah ketagihan.
Yang saya amati, pasangan saya pun hampir seperti itu, terbiasa menganggap negatif dulu dari segala sesuatu (entah itu kiriman berita, postingan tulisan saya di FB, bahkan tulisan-tulisan saya yang kadang memang berlatar belakang masalah kami, dengan tujuan berbagi hikmah, juga disikapi negatif) sebelum akhirnya mengambil kesimpulan bahwa itu memang bertujuan baik.
Makasih…

➡ Bunda Iyie, kl saya justru merinding ketika menuliskan review ini, bahwa discovering ability ini bukan sekedar passion, talent, atau kognitif saja, itu bagian kecil dari proses discovering ability. Yang paling mendasar justru ini proses menjadi insan kamil.

Untuk tantangan bunda di keluarga, maka ini penting unt menguatkan pola komunikasi di keluarga kita. Ubahlah sesuatu yg negatif menjadi positif. Termasuk mengungkapkan kalimat negatif menjadi positif.

Misal : masalah ➡ tantangan

Nggak tahu ➡ ayo kita cari tahu.

Kalimat itu merepresentasikan pola pikir kita✅

6⃣Kami lihat putri2 kami, alhamdulillah tidak bermasalah dalam bersosialisasi. Kami lihat bisa bergaul dengan usia kelompok umur mana saja. Akan tetapi nenek dan kakeknya selalu khawatir karena (nenek dan kakek) seperti diintimidasi oleh lingkungan/orang2 yg bertanya ttg sosialisasi anak2 HS. Bagaimana sebaiknya menyikapi ini Bu?

Betty

➡ Nibet, berikan bukti bukan janji. Jadi tidak perlu banyak menjelaskam atau mengklarifikasi ttg konsep sosialisasi anak HS. Cukup berikan bukti bahwa anak-anak kita bisa bersosialisasi baik secara horisontal maupun vertikal✅

7⃣Menurut saya discovering ability itu proses seumur hidup…benarkah?

-Kris-

➡Betul bu Tati, tidak ada batas usianya karena ini proses menuju insan kamil.

Yang menjadi kendala kita dan para ahli pendidikan serta pengembangan bakat, discovery ability itu hanya seputar bakat dan ilmu kognitif yang perlu dijelajah

Padahal kedua hal tsb hanya bagian kecil saja.✅

8⃣Oya Bu, bila di usia Ananda yang 7tahun.

Apakah bisa diberikan kesempatan untuk memilih melanjutkan sekolah atau tidak?
Karena kalau saya ajak ngobrol sepulang sekolah yang diceritakan hal yang membahagiakan bagi nya ketika sekolah adalah bertemu dengan teman teman nya..
Hmm kadang cerita juga sih tentang belajar nya..

-Karina-

➡ Kalau sudah bahagia nggak perlu diganggu kebahagiaannya, nanti lama-lama anak akan menemukan sisi ketangguhan di ranah passion yg mana.✅

9⃣ Berarti yang paling awal daei discovering ability itu yang pemahaman diri ya bu?

Maaf saya masih belum “dapet” nih😅

-Rima-

➡Mbak Rima,

1. Ini tahapan yg harua diselesaikan satu-satu. Karena biasanya anak yg belum selesai konsep dirinya ketika masuk hub dengan sesama akan terjadi “Tuna Adab”

2. Apabila hanya kuat salah satunya, maka perjalanan ke insan kamilnya tidak sempurna.

Karena semua akan terjadi totalitas dan utuh

Anak yg memiliki konsep diri positif ➡ membuat/gabung komunitas positif ➡ membawa perubahan positif ➡ menjadi makhluk spiritual yang totalitas mengabdi pada Allah

Demikian juga sebaliknya.

Bakat, Kecerdasan majemuk itu ada di ranah konsep diri. Anak yakin, Pede dengan kecerdasan yang dimilikinya, kemudian menggunakan kecerdasan itu unt menjalankan tahapan berikutnya. Jadi kecerdasan itu hanya bagian kecil yg diperlukan anak.✅

Rima :Owh ya bu, mulai memahami😊

Sebuah hal baru buat saya nih😍
Telat menyadari saya nya🙈
➡ Wajar mb, karena kebanyakan dr kita melihat sesuatu yg tersurat, sehingga menyamarkan yg tersirat hehe…✅

🔟Berarti Kalau kita melihat anak yang suka mengikuti arus temannya berarti konsep diri belum kuat ya bu?
-Fahrina-

➡Betul mb, indikator anak sudah kuat di konsep diri ➡ rasa PERCAYA DIRI nya tinggi ➡ shg siap jadi khalifah, minimal memimpin dirinya sendiri ➡ anak yg sdh bisa memimpin dirinya sendiri kelak akan memimpin keluarganya ➡ seseorang yg sdh selesai dengan diri dan keluarga maka akan memimpin umat

Demikian juga sebaliknya✅

1⃣1⃣ Bu jika prosesnya terus menerus berkelanjutan bagaimana memandirikan anak anal bua setelahnya akil baligh terkait dgn discovering ability ini? Pematangan di konsep diri juga kah?
-lulu-

1⃣2⃣ Membaca penjelasan ibu tentang konsep diri diatas, bikin saya “cenut cenut” dan melihat di sekitar bahwa “tuna adab” yang terjadi di sekitar kita ini, berkaitan erat dengan konsep diri individu tersebut.

Saya sangat merasakan kalau sedang ada di kelas untuk mengajar, banyak rekan pengajar pun yang mengeluhkan tentang “adab” anak2 sekarang 🤔.

Berarti, konsep dirinya dulu yang harus dibenahi ya bu.

-Ummi-

➡Mbak lulu dan mbak ummi,

Ranah konsep diri ini menjadi SANGAT PENTING
, dengan membaca review ini kita jadi paham harus banyak “IQRA'” unt memahami konsep diri.

2.Untuk anak aqil baligh, ajak anak berpikir tentang jamannya,

kalau anak pre aqil baligh, dikayakan wawasan dan aktivitasnya, kemudian latih logika berpikirnya, ijinkan anak-anak melatih pola pikirnya. Jangan didikte dengan konsep kita.

Dengan harapan setelah aqil baligh anak siap memimpin jamannya.

3.Indikator tahapan konsep diri adalah rasa PERCAYA DIRI nya tinggi.

Indikator ranah hubungan dengan sesama : anak-anak mulai bermanfaat untuk lingkungan terkecilnya, lingkungan terdekatnya.

Indikator Ranah perubahan : anak-anak mulai melakukan aksi/project untuk melakukan perubahan

Indikator Ranah spiritual : anak-anak sudah *IKHLAS* terhadap segala kehendak Allah terhadap dirinya.

Ikhlas ini mendekatkannya pada ridho Allah, sehingga hidupnya senantiasa dinaungi keberkahan ➡ keberkahan ini pemicu BAHAGIA✅

1⃣3⃣Ibu izin bertanya unt konsep diri apakah ada batasan usia anak sebaiknya usia berapa sudah mampu menjadi pemimpin dan paham konsep diri.

Apakah ini tidak berkaitan dengan bakat kepemimpinan pada anak yang setiap bakat anak berbeda-beda bu?
-Lita-

➡Mbak lita, tugas manusia di muka bumi ini adalah sebagai khalifah, maka tidak perlu bicara bakat memimpin, karena setiap orang ditakdirkan bisa memimpin dirinya sendiri. Tinggal scope area kepemimpinannya ini akan selaras dengan ujian dan ikhtiar di dalam kehidupannya.

Sehingga tidak ada batasan usia, krn konsep diri tidak sebanding dg usia, tapi sebanding dg kapan dia mulai mencari dirinya✅

Sekuntum Mawar Merah Pangeran Cilik

🌹🌹🌹 Seperti yang telah saya bahas di postingan sebelumnya, pengamat sastra menyebut buku The Little Prince “Pangeran Cilik” sebagai dongeng alegori moral.

Baca ini ⤵

https://goo.gl/iAqWD7

First, let’s figure out what this words means : ’allegory’. Alegori adalah cerita yang memiliki dua tingkat makna. Pertama, permukaan cerita dan ini memiliki plot, penokohan dsb. Kemudian, yang kedua adalah makna yang lebih dalam atau simbolis terkait filosofi. Menurut glosarium sastra, alegori seperti metafora besar dalam sebuah cerita.

Ilustrasi pada buku ini menarik. Kesan imajinatifnya sangat terasa. Cerita dan cara penyampaiannya laksana dongeng tapi sekaligus filosofis dan sarat makna. Children love the characters and the story and the drawings. So, generally, the surface level of this story is what appeals to kids. Konon buku ini banyak diperbincangkan karena keunikannya ini: sebuah dongeng anak yang fantastik di satu sisi, yang juga berisi renungan mendalam tentang kehidupan dan sifat manusia di sisi lain. Tergantung siapa yang membacanya—anak-anak atau orang dewasa—sudut pandangnya akan berbeda. Seperti pengakuan sohib saya yang menghadiahkan buku ini, Sara (nama sebenarnya 😋) ketika membaca buku ini di usia belia, dan ketika membacanya lagi di usia jelita (eh) 😂 menjadikan dia terkejut dengan .. “aahh.. jadi begini ya..”

Berbicara tentang alegori dalam sebuah cerita, mengingatkan saya pada salah satu studi jaman kuliah komunikasi dulu, teori semiotika. Kajian semiotik bertujuan untuk mengetahui makna- makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau menafsirkan makna tersebut sehingga diketahui bagaimana komunikator mengkontruksi pesan.

Let’s look at how this plays out in The Little Prince.

FYI, buku ini telah diadaptasi menjadi sebuah film. Dikemas dengan cara yang berbeda tapi memiliki kekuatan cerita yang sama. Yah as you knowlah, biasanya film adaptasi tidak sebagus bukunya. Jadi kalimat never judge a book by it’s movie! sering benar adanya, saking banyaknya film yang jadi ‘oh no!’ ketimbang ‘wow’.

Tapi Le Petit Prince lain! Ntar deh mungkin suatu hari entah kapan, saya akan buat review filmnya 😅. Selain film, buku ini juga dibuat seri dongeng animasi 3D. Saya punya semua. Ya dvd, ya buku, ya dongeng 😂 (anak- anak yang terperangkap dalam tubuh orang dewasakah saya?!). Anyway, seri dongeng animasi ini dibuat 56 halaman, dengan cerita yang dipersingkat, tapi sekali lagi, tidak kehilangan esensi maknanya yang dalam.

Berikut sinopsisnya

Pangeran Kecil yang tinggal di planet kecil pergi meninggalkan tempat tinggalnya. Dia kesal dengan bunga mawar miliknya yang selalu menggerutu. Dia pun berpetualang ke berbagai planet hingga akhirnya sampai di Bumi. Di Bumi, dia akhirnya menyadari bahwa bunga mawar yang ditinggalkannya merupakan satu-satunya bunga berharga yang ada di dunia ini. Pangeran Kecil pun pulang ke planetnya untuk menjaga bunga mawar tersebut.

Baik buku, film, maupun dongeng animasi 3D tidak luput dari kisah Pangeran Cilik dan bunga mawar. On a story – level, we can see how this fits. The little prince leaves home, has adventures and (we assume) returns home to his flower. But on a deeper level, what kind of philosophical quest is he on?

Berikut kisah Pangeran Cilik dan Mawar Merah berdasarkan buku

Pangeran Cilik tinggal di suatu planet diantara bintang-bintang lainnya di luar angkasa, dia hanya tinggal sendirian. Meski begitu, dia tetap menikmati setiap waktunya di planet berukuran sangat kecil tersebut. Disana terdapat tiga buah gunung berapi, namun salah satunya sudah tidak aktif dan menjadi tempat duduk baginya. Iya, semua gunung di planet itu hanya setinggi lutut.

Selain merawat gunung- gunungnya, Pangeran Cilik juga rutin mencabut benih dan tunas dari Pohon Baobab. Baobab? Pohon ini konon dapat menelan atau meledakkan planet tersebut bila dibiarkan tumbuh besar, anggaplah sama seperti ketika di trotoar jalan yang mulai retak dan hancur karena akar pohon di sebelahnya, kira-kira begitu lah pohon Baobab, namun planetnya berukuran kecil.

Pada suatu ketika ada benih lain yang tumbuh di Planetnya. Benih itu tumbuh menjadi tunas dan terlihat sangat mirip dengan tumbuhan Baobab. Tapi kata hati Pangeran Cilik, tunas itu berbeda. Jadilah sang Pangeran Cilik merawat setangkai tunas tersebut setiap harinya, menyiram dan menyingkirkannya dari ulat-ulat. Sampai suatu ketika kuntum bunga pertamanya muncul. Saat itu Pangeran Cilik berpikir bahwa ini memang tumbuhan yang special. (Chapter 8)

Pada saat fajar datang suatu hari, dia pun bersamaan lahir, bangkit dengan warna merah merona diantara kelopak bunganya. Dialah sang Mawar.

“Betapa cantiknya kau!” Kata pertama yang keluar dari mulut Pangeran Cilik saat itu kepada sang Mawar.

“Benar bukan?” jawab sang Mawar.

“Sudikah kau melayani ku?” kata sang Mawar.

Datanglah saat kebersamaan mereka. Pangeran Cilik hanya melayani sang Mawar setiap harinya. Menyiraminya, mendengarkannya berbicara, memasangkan sungkup, menutupinya dengan tabung kaca saat malam dan sebagainya.

Kala itu, Pangeran Cilik beradu pendapat dengan bunga mawar yang disiraminya setiap hari. Pangeran Cilik jatuh hati pada bunga itu dan ingin selalu dapat melindunginya. Namun dengan naifnya, bunga mawar itu mengelak, seakan-akan ia mampu melindungi diri sendiri dengan duri yang dimilikinya. Di waktu lain, bunga itu minta dilindungi dari angin kencang yang memuakkan di malam hari. Pangeran Cilik berpikir bahwa bunga ini rewel sekali dan begitu mengesalkan. Keesokan harinya, bunga itu mengakui bahwa sebenarnya ia juga jatuh hati, namun ia ingin Pangeran Cilik tetap berbahagia. Di saat yang sama, ia tak ingin Pangeran Cilik melihatnya menangis. Ah! Bunga-bunga memang selalu penuh kontradiksi!

Suatu hari Pangeran Kecil pun sadar akan semua itu, akan posisinya yang tidak berarti kecuali sebagai pelayan dari sang Mawar.

“I ought to have realized the tenderness underlying her silly pretentions. Flower are so contradictory! But I was too young to know how to love her.” (Chapter 8)

Sang Narator menduga bahwa pangeran cilik lalu memanfaatkan suatu migrasi burung- burung liar untuk melarikan diri. Melarikan diri dari si mawar merah.

Saat berpetualang hingga ke bumi, ia melewati kebun yang penuh bunga mawar.

Then he went on with his reflections: “I thought that I was rich, with a flower that was unique in all the world; and all I had was a common rose. A common rose, and three volcanoes that come up to my knees–and one of them perhaps extinct forever . . . That doesn’t make me a very great prince . . .”

And he lay down in the grass and cried. (Chapter 20)

Aku selama ini menganggap diri kaya dengan sekuntum bunga tunggal , padahal aku hanya memiliki sebuah bunga mawar biasa. Bunga itu serta 3 gunung berapi yang hanya setinggi lututku, apalagi yang satu barangkali sudah padam untuk selama-lamanya, tidak menjadikan aku seorang pangeran yang begitu Agung…”

Dan, berbaring di rerumputan, Pangeran cilik menangis.

Di bab selanjutnya dia bertemu seekor rubah, si rubah menjelaskan kepada si pangeran cilik tentang makna kata jinak, “…Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus rubah lain. Tetapi, kalau kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu- satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu- satunya bagimu di dunia…” (Chapter 21)

“Aku mulai paham,” kara Pengeran Cilik.”Ada sekuntum bunga.. Aku kira ia telah menjinakkanku.”

Pada kesempatan yang lain, rubah memberikan nasehat, “Pergilah melihat bunga- bunga mawar itu lagi. Kamu akan mengerti bahwa bungamu satu- satunya di dunia. Lalu kamu kembali kemari untuk pamit, dan aku akan menghadiahkan suatu rahasia kepadamu.”

“Go and look again at the roses. You will understand now that yours is unique in all the world. Then come back to say goodbye to me, and I will make you a present of a secret.”

Pangeran Cilik pergi melihat bunga- bunga mawar. “Kalian tidak sama dengan mawarku, kalian belum apa- apa,” katanya pada mereka.”Kalian belum dijinakkan siapapun, dan kalian belum menjinakkan siapapun..”

Bunga- bunga mawar merasa malu.

“Kalian cantik tapi hampa.,” katanya lagi.”Orang tidak akan mau mati bagi kalian. Bunga mawarku, bagi orang sembarangan, tentu mirip dengan kalian. Tapi ia setangkai lebih penting dari kalian semua, karena dialah yang telah kusirami. Karena dialah yang kulindungi dengan penyekat. Karena dialah yang kubunuh ulat- ulatnya (kecuali dua-tiga untuk kupu- kupu). Karena dialah yang kudengarkan keluh kesahnya, bualannya, atau malah kadang kebisuannya. Karena dialah mawarku.”

Ada perbedaan versi kutipan,

“You are not at all like my rose,” he said. “As yet you are nothing. No one has tamed you, and you have tamed no one. You are like my fox when I first knew him. He was only a fox like a hundred thousand other foxes. But I have made him my friend, and now he is unique in all the world.”

And the roses were very much embarassed.

“You are beautiful, but you are empty,” he went on. “One could not die for you. To be sure, an ordinary passerby would think that my rose looked just like you–the rose that belongs to me. But in herself alone she is more important than all the hundreds of you other roses: because it is she that I have watered; because it is she that I have put under the glass globe; because it is she that I have sheltered behind the screen; because it is for her that I have killed the caterpillars (except the two or three that we saved to become butterflies); because it is she that I have listened to, when she grumbled, or boasted, or ever sometimes when she said nothing. Because she is my rose.”

Aw.. so sweet 😍

Lalu ia kembali untuk berpamitan pada rubah.

“Selamat jalan,” kata rubah.

”Inilah rahasiaku. Sangat sederhana : hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.”

“Waktu yang kamu buang untuk mawarmu, itulah yang membuatnya begitu penting.” “Manusia telah melupakan kenyataan ini,” kata rubah. “Tetapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggungjawab untuk selama – lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggungjawab atas mawarmu…”

“Goodbye,” said the fox.

“And now here is my secret, a very simple secret: It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.” ↔ Nasihat inilah yang menggambarkan keseluruhan buku ini

“It is the time you have wasted for your rose that makes your rose so important.” “Men have forgotten this truth,” said the fox. “But you must not forget it. You become responsible, forever, for what you have tamed. You are responsible for your rose . . .”

•••

Begitulah seharusnya cinta di dunia ini 😍

Si Mawar Merah masih disebut di akhir cerita,

Tetapi terjadilah sesuatu yang luar biasa. Berangus yang kugambarkan untuk Pangeran Cilik, aku lupa melukiskan talinya. Tidak mungkin ia ikatkan pada dombanya . Aku jadi bertanya-tanya : Apa yang terjadi di planet itu? Mungkin saja si domba sudah memakan bunga itu… Kadang – kadang aku berfikir: “Pasti tidak! Pangeran Cilik menyelubungi bunganya dengan sungkup kaca setiap malam, dan domba diawasi nya baik-baik…” Maka aku merasa bahagia. Dan semua bintang tertawa dengan lembutnya.

Kadang- kadang aku berfikir: ”Orang sekali- sekali lalai, dan sekali itu cukup! Ia melupakan sungkup satu malam, atau dombanya diam- diam lepas di tengah malam…” Maka semua kelenengan menjadi air mata…

Itulah suatu misteri besar. Bagi kalian yang juga mencintai Pangeran Cilik, seperti bagiku, alam semesta sama sekali lain kalau di suatu tempat, entah di mana, seekor domba yang tidak kita kenal, sudah atau belum memakan setangkai bunga mawar..

Pandanglah langit. Tanyakan pada dirimu sendiri : apakah domba sudah memakan bunga itu atau belum? Dan akan kalian lihat betapa segala sesuatu berubah… Dan orang dewasa satupun tidak pernah akan mengerti betapa pentingnya! (Chapter 27)

But there is one extraordinary thing . . . when I drew the muzzle for the little prince, I forgot to add the leather strap to it. He will never have been able to fasten it on his sheep. So now I keep wondering: what is happening on his planet? Perhaps the sheep has eaten the flower . . . At one time I say to myself: “Surely not! The little prince shuts his flower under her glass globe every night, and he watches over his sheep very carefully . . .” Then I am happy. And there is sweetness in the laughter of all the stars.

But at another time I say to myself : “At some moment or other one is absent-minded, and that is enough! On some one evening he forgot the glass globe, or the sheep got out, without making any noise, in the night . . .” And then the little bells are changed to tears . . .

Here, then, is a great mystery. For you who also love the little prince, and for me, nothing in the universe can be the same if somewhere, we do not know where, a sheep that we never saw has–yes or no?–eaten a rose . . .

Look up at the sky. Ask yourselves: is it yes or no? Has the sheep eaten the flower? And you will see how everything changes . . . And no grown-up will ever understand that this is a matter of so much importance!

•••

Are you thinking what I am thinking? Sure it is!

Tak perlu berfikir terlalu lama saat mengasumsikan bahwa bunga mawar adalah sebuah simbol dari kekasih. Buku ini mengajarkan bukan hanya arti hidup tapi juga arti cinta dan kesetiaan.

The prince has always been a good kid, but he has loved a lonely life on his planet. When the flower shows up, he doesn’t quite know what to do with her or how to talk to her – in other words, he is a little clueless about how to cultivate a relationship.

Gagasan Saint – Exupery untuk menggambarkan sebuah hubungan sebagai tanaman yang rumit, indah dan sulit yang harus dirawat dan dipelihara dengan hati- hati. Jadi pencariannya juga merupakan pencarian emosional dimana sang pangeran belajar bahwa hubungan membutuhkan kerja keras dan banyak kesabaran, juga memberi arti bagi dunia. (Ingat nasihat rubah) dia belajar bahwa kebanyakan orang dewasa tidak menyadari hal ini and “quest” after petty things instead, like power and money, which ultimately do not really satisfy them. Masing- masing karakter yang dia temui dalam perjalanannya menekankan fakta ini untuknya and represents a particular human flaw.

Dibalik cover dan ilustrasi kekanakan yang menghiasi halamannya, sungguh, buku ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Pangeran Cilik dengan segala pengamatan dan pemikirannya mengajak kita, para pembaca, khususnya orang dewasa untuk berdiam sejenak. Menikmati cerita, mengikuti arah pikirannya, dan menjadi anak-anak.

Sebagai seorang anak kecil yang lugu dan punya banyak pertanyaan yang lebih besar dari tubuhnya sendiri, Pangeran Cilik mencoba menyindir manusia dewasa yang seolah lupa bahwa ia pernah menjadi anak-anak yang tak butuh penjelasan. Anak-anak yang punya imajinasi begitu luas. Anak – anak yang sanggup bercerita dengan kepolosannya dan kejujurannya menjadi apapun dan mencari apapun yang sanggup ia temukan. Orang dewasa terus berlari, berjalan-jalan hilir mudik kesana kemari namun lupa dengan apa yang ia cari. Anak-anak selalu ingat. Ia selalu ingat apa yang ia cari. Makanya, tak salah jika anak-anak sering menagih janji atas apa yang orang tuanya janjikan sebelum ini.

Buku Le Petit Prince ini saya rekomendasikan untuk mereka yang ingin belajar lebih tentang arti hidup ini, mereka yang ingin mencari arti cinta sesungguhnya, mereka yang lupa bahwa dulu pernah menjadi anak- anak. Banyak hal-hal kecil yang kita lewatkan, banyak hal-hal luar biasa yang tidak bisa dilihat oleh mata kita namun bisa dilihat oleh hati kita, Pangeran Cilik mengajarkan sesuatu berharga bagi para pembacanya.

Last but not least,

The Little Prince didedikasikan Saint – Exupery untuk teman dekatnya, Leon Werth. Bunyi ungkapannya seperti tertulis di bagian depan buku :

To Leon Werth I ask the children to forgive me for dedicating this book to a grown-up. I have a serious excuse: this grown-up is the best friend I have in the world. I have another excuse: this grown-up can understand everything, even books for children. I have a third excuse: he lives in France where he is hungry and cold. He needs to be comforted. If all these excuses are not enough, then I want to dedicate this book to the child whom this grown-up once was. All grown-ups were children first. (But few of them remember it.) So I correct my dedication: To Leon Werth, when he was a little boy

Di akhir cerita sang narator berkata dalam buku versi berbahasa inggris:

To forget a friend is sad. Not everyone has had a friend. And if I do forget him, I might become like those grown-ups who no longer care for anything except figures.

Ini masih dari satu subyek, bunga mawar. Sedangkan banyak tokoh di dalam buku ini yang merupakan sebuah simbol yang misterinya menunggu untuk dipecahkan. Penasaran? Baca yuk! Lalu sedalam apa dirimu bisa memaknai masing- masing simbol beserta pesan yang terkandung di dalamnya. Satu pesan saya, Liarkan imajinasimu!

Seperti kesan sohib saya setelah membaca buku ini⤵

Le petit prince adalah sebuah buku romantis yang sangat emosional. Yang menarik, kiasan yang digunakan penulis dalam mendeskripsikan pola hubungan jauh dari kesan vulgar. Mawar sebagai kiasan dari wanita; indah, sekaligus complicated. Grand ide dari ceritanya adalah tentang seorang lelaki yang mencoba memahami wanitanya. Yang menarik, bahkan lelaki itu (pangeran kecil) sampai meluncur ke planet lain untuk mencari kebijaksanaan agar dapat memahami sang mawar. Sounds desperate right? 😛 (Sara Rosalinda)

Le Petit Prince : Pangeran Cilik

JUDUL : LE PETIT PRINCE – PANGERAN CILIK
PENULIS : Antoine De Saint – Exupery
PENERBIT : PT GRAMEDIA
KOTA PENERBIT : JAKARTA
TAHUN TERBIT : 2015

Kisah ini dibuka dengan cerita masa kecil Sang Narator yang menggambar ular boa memangsa seekor gajah.

Orang- orang dewasa yang melihat gambar itu memahaminya sebagai gambar sebuah topi dan lebih menganjurkan Sang Narator kecil untuk mempelajari hal- hal lebih penting seperti geografi, sejarah dsb daripada mempermasalahkan gambarnya yang gagal dipahami oleh orang dewasa. Singkat cerita, Sang Narator tumbuh dewasa menjadi seorang pilot, melanglangbuana dan meninggalkan kegemarannya melukis.

Pada suatu hari pesawat yang dikendarainya terjatuh di Gurun Sahara. Di tengah kesendirian, kehausan dan keputusasaan memperbaiki pesawat, bertemulah ia dengan seorang bocah laki- laki berambut keemasan yang memintanya menggambar seekor domba. Masih dikuasai kebingungan atas keadaan aneh itu, Sang Narator akhirnya menggambar domba. Walau beberapa kali mengalami penolakan hingga habis kesabaran karena harus segera memperbaiki pesawat, akhirnya dia menggambar sebuah kotak, lalu dia berkata pada bocah itu “ini petinya. Domba yang kamu inginkan ada di dalamnya.” Di luar dugaan, si bocah senang dan tampak puas dengan gambar itu.

Bocah itu akhirnya memperkenalkan diri sebagai seorang pangeran yang berasal dari sebuah planet kecil dan tinggal seorang diri. Sang Narator menebak bahwa tempat tinggal pangeran itu pastilah asteroid B-612. Perkenalan antara Sang Narator dan si Pangeran membawa pembaca masuk ke dalam dunia Si Pengeran kecil.

Pangeran kecil meninggalkan planet tempat tinggalnya untuk melihat semesta, dan mencari sahabat. Dia tinggal di planet yang sangat kecil. Saking kecilnya, dalam satu hari ia bisa menyaksikan matahari terbenam sebanyak 43 kali. Jadi, jika ia ingin melihat matahari terbenam, ia hanya tinggal menggeser kursinya sedikit, dan ia bisa melihat malam datang kapanpun ia mau.

Di planet asalnya, tumbuh sebuah pohon yang sangat mengganggu, pohon baobab. Tapi ketika ia tumbuh di planet sekecil itu dan tumbuh terus dan terus, ia jadi sangat menganggu. Dan pangeran kecil harus mencabuti setiap benih yang baru muncul.

Dalam pengembaraannya, ia berhasil mendatangi 6 asteroid dimana ia bertemu 6 penghuni orang dewasa yang menurutnya melakukan hal-hal ‘aneh dan bodoh’. Mereka adalah Sang Raja, Si orang sombong, si pemabuk, si pengusaha, seorang penyulut lentera dan ahli ilmu bumi. Masing – masing pertemuan tadi menggambarkan absurditas orang dewasa yang umum kita jumpai sehari- hari.

Atas saran sang ahli bumi pergilah Si Pangeran kecil ke planet ketujuh, yaitu Bumi. Sesampainya di bumi si pangeran bertemu dengan banyak hal. Ia bertemu dengan seekor ular – yang berjanji membantunya kembali ke asteroid rumahnya, sekuntum bunga – yang menyatakan bahwa manusia “Terbawa – bawa angin, tidak punya akar dan sangat susah karena itu”, gunung-gunung yang jauh lebih tinggi daripada ketiga gunung berapinya di rumah, sekumpulan mawar – yang membuatnya meragukan cintanya pada bunga mawar di rumah, seekor rubah – yang mengajarkan padanya arti persahabatan dan mengembalikan keyakinannya akan cinta.

Hingga akhirnya dia berjumpa dengan Sang Narator. Ceritapun kembali ke masa saat kedua insan ini kehausan di tengah gurun sahara yang kering.

Pertemuan singkat Sang Narator dengan Si Pangeran Kecil seolah menjadi pengingat bahwa ada banyak hal yang sering luput dari pengamatan orang dewasa, bisa jadi karena kurang teliti atau tenggelam dalam absurditas kehidupan sehari-hari, yang ternyata jauh lebih penting. Sebut saja kesetiaan, persahabatan, hingga makna di balik perpisahan.

Masa kecil merupakan masa yang paling menyenangkan bagi manusia, karena imajinasi yang luas tak berbatas. Keadaan ini kemudian hilang bersamaan dengan masa dewasa. Realita, tanggung jawab, peraturan dan angka- angka seolah menjadi batas- batas baru pengembaraan imajinasi. Hidup menjadi lebih sulit dan tak jarang terasa membosankan untuk dijalani.

Sepertinya itu yang ingin digambarkan oleh Antoine de Saint-Exupery dalam buku “Pangeran Cilik” atau disebut Le Petit Prince dalam bahasa aslinya (Perancis). Kisah penuh alegori yang ditulis dengan gaya cerita anak ini rupanya mengandung poin-poin yang dalam mengenai kehidupan dan absurditas “dunia orang dewasa”.

Buku ini pertama kali ditulis dalam bahasa Perancis, pertama terbit di New York pada April 1943. The Little Prince (TLP) adalah buku berbahasa Perancis yang paling banyak diterjemahkan sepanjang masa. Dan banyak diadaptasi ke berbagai media, seperti panggung musikal, film dan opera.

Buku ini buku anak. Iya. Saat dibaca orang dewasa tidak lantas membuat kita menjadi kekanak- kanakan. Ilustrasi pada buku ini menarik. Kesan imajinatifnya sangat terasa. Cerita dan cara penyampaiannya laksana dongeng tapi sekaligus filosofis dan sarat makna. Children love the characters and the story and the drawings. So, generally, the surface level of this story is what appeals to kids. Konon buku ini banyak diperbincangkan karena keunikannya ini: sebuah dongeng anak yang fantastik di satu sisi, yang juga berisi renungan mendalam tentang kehidupan dan sifat manusia di sisi lain. Tergantung siapa yang membacanya—anak-anak atau orang dewasa—sudut pandangnya akan berbeda. Pengamat sastra menyebutnya sebagai dongeng alegori moral.

Ceritanya mengingatkan saya pada dongeng-dongeng masa kecil, yang berisi hanya ‘fantasi dan keindahan’. Didalamnya berisi penggambaran sifat-sifat manusia dewasa yang kadang aneh dalam persepsi anak kecil. Orang dewasa kadang membuat hidup yang sederhana dan indah menjadi rumit. Menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak. Terjebak dalam rimba kehidupan dan kehilangan esensi. Seperti kisah sang narator kecil di bagian utama cerita, yang terpaksa melepas impian dan bakatnya melukis, hanya karena ketidakmengertian manusia dewasa.

Sang pengarang yang telah tumbuh menjadi seorang dewasa, selalu merindukan kepolosan kanak-kanak yang menawarkan ketulusan, kejujuran, kesejatian.

“All grown-ups were once children… but only few of them remember it.”

Setiap orang dewasa, dahulunya juga adalah kanak-kanak, ungkapnya.

Selain tentang cinta dan persahabatan, didalamnya saya juga merasakan pengungkapan kesepian dan kegetiran hidup.

Buku ini mengingatkan kita agar tidak melupakan hal -hal yang mendasar dalam kehidupan, yang hanya dapat dilihat dengan mata hati yang jernih. Seperti yang dikatakan oleh Rubah sebelum berpisah – yang sering disebut sebagai kutipan yang menggambarkan keseluruhan isi buku ini:

“It is only with one’s heart that one can see clearly. What is essential is invisible to the eye”

Hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Hal yang terpenting tidak tampak di mata.

Tapi jujur, membaca buku ini yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan berbeda ‘rasa’ dibandingkan saat membacanya dalam bahasa Inggris. Yaitu “rasa” pada kekuatan makna di balik kutipan- kutipannya.

Seperti saat Pangeran Cilik bertemu dengan Sang Raja. Seorang raja yang mengklaim dirinya penguasa semua planet dan bintang-bintang. Menjalankan kekuasaan dengan ‘perintah’, dan menganggap semua benda—termasuk manusia—adalah subjek yang harus mematuhi perintahnya. Sang pangeran dimintanya tinggal untuk menjadi Menteri Keadilan di planetnya, namun menolak, karena tidak ada seorang pun yang akan harus diadili.

Dan Sang Raja berkata: ‘In that case, you shall judge yourself. ‘That is the most difficult thing of all. It is far more difficult thing of all. It is far more difficult to judge yourself than to judge others. If you succeed in judging yourself correctly, then you are truly a man of wisdom.’ (Chapter 10)

Bandingkan dengan versi bahasa ↔ “Jadi kamu akan mengadili dirimu sendiri. Itu yang paling sulit. Mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul- betul orang yang bijaksana.”

Dan masih banyaaakk lagi kutipan yang lainnya. Masalahnya terletak di penerjemahan.

Overall, membaca buku The Little Prince, pikiran kita melayang dan hati serasa diguncang dengan segala metafora yang ada di dalamnya. Tapi guncangan tersebut terasa lembut dan imajinatif, sehingga bisa dinikmati dengan santai, sambil merenungi setiap makna. The Little Prince adalah sebuah buku yang sempurna untuk dibaca ketika kita merasa perlu untuk menengok ke belakang dan memandang segala peristiwa dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Dengan segala keindahan dan kesederhanaannya, The Little Prince saya beri nilai 8/10.

•••

Tentang Penulis

Antoine de Saint-Exupery, lahir di keluarga Perancis tua pada 1900. Meski pada 1904 ayahnya meninggal, ia mempunyai masa kecil yang menyenangkan bersama saudara laki-laki dan tiga saudara perempuannya. Menjadi pilot bukanlah harapan keluarganya, tetapi terbang adalah kecintaannya. Terbang adalah obsesinya di atas semuanya, karena hal itu memberinya kesempatan untuk memikirkan banyak hal—segala pertanyaan mendasar yang dimilikinya. Terbang dan menulis adalah dua hal dalam hidupnya.
Meski bukan sepenuhnya otobiografi, penulisan kisah ini terinspirasi oleh pengalaman-pengalaman Saint-Exupery sendiri sebagai pilot. The Little Prince juga menjadi gambaran sikap politik dan pandangan penulisnya terhadap kehidupan. Saint-Exupery dan pesawatnya menghilang dan tidak pernah ditemukan dalam sebuah penerbangan pada 31 Juli 1944.

PS : Thank you Sara for giving me this book. I fall in love with The Little Prince since i watched the movie, probably because it reminds me to pay attention to tiny, everyday pleasures and beauty, and to make time for friends, and not to worry too much about ambition, fame and money. I have mostly enjoyed it for its deeper, symbolic meaning.

🌍 Sumber Bacaan⤵

https://dedehsh.wordpress.com/2009/01/30/the-little-prince-seorang-anak-dalam-rimba-orang-dewasa/

http://www.kompasiana.com/mbapra/the-little-prince-realita-raja-raja-kecil-penguasa-dunia_58b919f06723bdd510cdeb30