Membangun Keluarga Literasi

_Institut Ibu Profesional_

_Review Materi Bunda Sayang sesi #5_
Selamat untuk anda para bunda di kelas bunda sayang yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan game level  5.
Banyak kreasi literasi yang muncul, mulai dari pohon literasi, pesawat literasi, galaksi literasi dll. Semua yang sudah bunda kerjakan di tantangan kali ini sesungguhnya bukan hanya melatih anak-anak dan seluruh anggota keluarga untuk SUKA MEMBACA,  melainkan melatih diri kita sendiri agar mau berubah.
Seperti tagline yang kita gunakan di tantangan level 5 kali ini, yang menyatakan
”  *_for things to CHANGE, I must CHANGE FIRST_*”  
Sebagaimana yang kita ketahui, tantangan abad 21, tidak cukup hanya membuat anak sekedar bisa membaca, menulis dan berhitung, melainkan kita dan anak-anak dituntut untuk memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini sering  disebut literasi ( _National Instiute for Literacy, 1998_ )
Institut Ibu Profesional akan mendorong munculnya gerakan literasi yang nyata yaitu mulai dari dalam keluarga kita. Apabila seluruh keluarga Ibu Profesional sudah menjalankan gerakan literasi ini maka akan muncul _rumah  literasi_, muncul _kampung literasi_, dan insya Allah negara kita dipenuhi masyarakat yang literat. Tidak gampang mempercayai dan menyebarkan berita yang baik tapi belum tentu benar, makin memperkuat struktur berpikir kita, sehingga selalu mengutamakan “berpikir terlebih dahulu, sebelum berbicara, menulis dan menyebar berita ke banyak pihak”
☘ *Literasi Dini ( Early literacy)*

_Kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah_. Pengalaman anak-anak dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.
☘ *Literasi Dasar ( Basic Literacy)*

_Kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi_
☘ *Literasi Perpustakaan (Library Literacy)*

_Kemampuan memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah_
☘ *Literasi Media (Media Literacy)*

_Kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya_.
☘ *Literasi Teknologi (Technology Literacy)*

_Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi_
_Kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet_
☘ *Literasi Visual (Visual Literacy)*

_Pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat_

*_Keluarga hebat adalah keluarga yang terlibat_*
Maka libatkanlah diri kita dalam gerakan literasi di dalam keluarga terlebih dahulu. 
Pahami komponen-komponen literasi, dan lakukan perubahan yang paling mungkin kita kerjakan secepatnya.
Pohon literasi janganlah berhenti hanya sampai di tantangan materi kali ini saja. mari kita lanjutkan sehingga gerakan ini akan membawa dampak bagi keluarga dan masyarakat sekitar kita.
_Salam Ibu Profesional_

*/Tim Fasilitator Bunda Sayang/*
📚Sumber bacaan :
_Clay dan Ferguson_ ( , 2001
_Beers, dkk, A Principal’s Guide to Literacy Instruction, 2009_
_National Institute for Literacy, 1998_


Best Bookish Moments from The Live-Action Beauty & The Beast

Aliran Rasa Game Level#5

Menulis aliran rasa mengenai game level#5 (Membudayakan Literasi pada Keluarga) membuat saya teringat film Beauty and The Beast yang baru saja saya tonton kemarin. Dari semua karakter Disney, sepanjang pengetahuan saya, hanya Belle (sang tokoh utama – diperankan oleh Emma Watson) yang suka membaca buku. Ini salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan karakter ini. I think Belle’s intelligence and literally nature have always resonated with books lovers.

Artikel tentang Best Bookish Moments saya ambil dari sini ⤵

Belle is a “beauty,” sure. But that’s not what makes her stand out. Not to anyone other than Gaston, at least. To the rest of the town, Belle is “odd.”  She stands out because she’s different. Because she dares to be herself—to be intelligent, well read, independent, and non-compliant. She may be seemingly stuck in her “provincial life,” but reading books gives her a way out and makes her want more for herself.

In its iteration of Belle, the new Beauty and the Beast does not disappoint. Emma Watson plays a delightfully feisty Belle, eager to devour book after book and share her knowledge.

In its bookishness, the new version does not disappoint either. Rather than a general love of books with a few hints to titles here and there, we get explicit references and bookish scenes.


When we first meet Belle, she’s making her way through the village. She has a book to return and wants to borrow another from a fellow villager. On the way, someone stops her and asks her what she was reading about. She replies, “Two lovers in fair Verona.” This, of course, is a reference to Shakespeare’s Romeo and Juliet—and it won’t be the last.

One of the villagers says that she’s “The only bookworm in town.”

When Belle gets where she’s going, Père Robert, the man with the books, asks her where she has travelled. She tells him she has been to two towns in northern Italy. This is another reference to Romeo and Juliet, and the towns she is talking about are Mantua and Verona.

Père Robert is not a bookseller like in the animated movie. He appears to be a fellow villager with his own small collection of books, which Belle has already made her way through. She grabs one she has already read and loved—the one in which the girl “meets Prince Charming, but doesn’t discover that it’s him ‘til chapter three!” This book is totally gorgeous with a gilt design. I was drooling.

When Gaston comes into the scene and decides that he simply must have Belle, he tries to flirt with her over books. Because he is, well, Gaston, this fails horribly:
Gaston: Wonderful book you have there!
Belle: Have you read it?
Gaston: Well, not that one. You know. Books.

When Belle later returns to the village to do her washing, a little girl comes up to her and sees that she’s reading. Belle begins teaching the little girl how to read. The headmaster walks by and sees what’s happening and becomes immediately incensed. He admonishes Belle. Surely, one girl that can read is more than enough to for any town. The new movie shows us further how Belle is different from everyone else in town, demonstrating how the village feels toward educated women.

Later, when Belle is in the castle, Cogsworth and Lumière are playing chess while she is sneaking around. Both of them are atop piles of books so they can reach the board!

After Beast goes to save Belle and is attacked by wolves, he is lying in bed recuperating. Belle is quoting Shakespeare, and he begins to quote along. Belle tells him that Romeo and Juliet is her favourite play. Beast guffaws and says that this choice is unsurprising and silly. Apparently he is not a fan of romances. He then takes her to the library because “there are better things to read.”
In the animation, Belle reads Romeo and Juliet to the Beast and he enjoys it. But we then find out he doesn’t know how to read. Belle teaches him. In the new version, they are both well-read and this is something they bond over.

The library, of course, is its own bookish moment. It’s huge and beautiful and brimming with gorgeous leather-bound tomes. The walls are completely lined with books, and it boasts a rolling ladder, the kind that every bookworm dreams of. Obviously, Belle is completely giddy over the library, and the fact that Beast told her, “It’s yours.”

From this point on, we see Beast and Belle bonding over books. In one scene while they are eating, they are both reading at the same time. As they become more comfortable with one another, books are always casually a part of the scene.

When they go for a walk outside, Belle reads poetry to Beast. One of the poems is “A Crystal Forest” by William Sharp.

Belle sees Beast reading alone in the garden. She approaches him and he tries to hide what he’s reading. Belle sees anyway, and says he is read Guinevere and Lancelot. He tells her he is actually reading King Arthur and the Knights of the Round Table—you know, “knights and battles and stuff.” Belle replies that it’s still a romance! I loved this scene because it shows that Beast is warming up to romance—in more ways than one!

Beast takes Belle back to the library to show her another “gift” from the enchantress. This gift is a beautiful, magical book. When Beast opens in, there is a map inside. He tells Belle that if she thinks of a place, can see it in her mind’s eye, and feel it in her heart, the book will take her there. And it does!

Finally, when the villagers storm the castle and are battling the inhabitants of the castle, the books join the fight!


Seperti Belle, saya yang dulu tinggal di sebuah kota kecil, I may be seemingly stuck in my “little town life,” but reading books give me a way out and make me want more for myself.

Reading gives us someplace to go when we have to stay where we are

Memang betul, dengan membaca kita mampu menyibak jendela dunia. Membaca membantu saya mempelajari banyak hal. Dan ini yang saya ingin terapkan juga pada anak- anak. Kebiasaan membaca akan sangat membantu proses belajar mengajar, bukan hanya di ranah akademik, tapi membaca membantu mereka berfikir kritis dan mampu menuangkan ide- idenya. Anak- anak saya memang belum bisa membaca, tapi kecintaan pada buku tidak ada salahnya dimulai sejak dini agar mereka terbiasa.

Goal saya adalah mampu mewujudkan “pojok baca” di rumah. Sebagai upaya untuk membangun komitmen membaca bersama 😁 Aamiin.

Jakarta, 15 Juli 2017

Vivi Erma 😊





Pendekatan Permainan dalam Mengajar Membaca

*_Materi #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca_*
*Pendekatan Permainan dalam Mengajar Membaca*
🌟Pada hakikatnya membaca adalah proses memahami dan merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan. 
🌟Kemampuan membaca yang diperoleh seseorang pada tahap membaca permulaan, akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut kelak.
🌟Karenanya, para ahli merancang berbagai metode permainan untuk mengembangkan kemampuan membaca anak usia dini dalam rangka memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. 
*Berikut adalah beberapa metode permainan membaca yang dimaksud:*
1⃣*Metode sintesis*

Metode ini berdasarkan pada teori asosiasi. Metode ini menekankan pemahaman bahwa suatu unsur (dalam hal ini: unsur huruf) akan bermakna apabila unsur tersebut bertalian atau dihubungkan dengan unsur lain (huruf lain) sehingga membentuk suatu arti. 
Unsur huruf tidak akan memiliki makna apa-apa kalau tidak bergabung (bersintesis) dengan unsur (huruf) lain, sehingga membentuk suatu kata, kalimat atau cerita yang bermakna. Karenanya, dalam permainan ini, membaca dimulai dari unsur huruf. 
Permainan membaca ini dilakukan dengan menggunakan bantuan gambar pada setiap kali memperkenalkan huruf, misalnya huruf a disertai gambar ayam, angsa, anggur, apel.

2⃣*Permainan membaca metode global*

Metode ini dibuat berdasarkan teori ilmu jiwa keseluruhan (gestalt). 
Dalam metode ini, anak pertama kali memaknai segala sesuatu secara keseluruhan. Keseluruhan memiliki makna yang lebih dibandingkan dengan unsur-unsurnya. Kedudukan setiap unsur, hanya berarti jika memiliki kedudukan fungsional dalam suatu keseluruhan.
Contohnya: unsur “a” hanya bermakna, jika “a” ini fungsional dalam kata atau kalimat, misalnya “ayam berlari.” 
Maka, metode global memperkenalkan membaca permulaan pada anak yang dimulai dengan memperkenalkan “kalimat.” 
Kalimat dalam permainan membaca permulaan ini dipilih dari kalimat perintah agar anak melakukan hal-hal yang ada dalam perintah tersebut, seperti “ambil apel itu”. Permainan ini dapat dilakukan dengan menggunakan kartu kalimat, kata, pecahan suku kata, dan huruf. Kegiatan permainan ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan papan flanel dan karton yang dapat ditempel.
3⃣ *Permainan membaca metode _whole-linguistic_*

Dalam pendekatan ”whole-linguistic” permainan membaca tidak dilakukan dengan menggunakan pola kata atau kalimat yang berstruktur melainkan dengan menggunakan kemampuan linguistik (bahasa) anak secara keseluruhan. 
Kemampuan linguistik secara keseluruhan akan melibatkan kemampuan anak dalam melihat (mengamati), mendengar (menyimak dan memahami), meng- komunikasikan (mengungkapkan atau memberi tanggapan), membaca gambar dan tulisan yang menyertainya. Dalam menggunakan pendekatan ini, lingkungan dan pengalaman anak menjadi sumber permainan yang utama. 
Pendekatan ini juga tidak hanya menfokuskan pada pengembangan bahasa saja tetapi juga intelektual dan motorik anak.
Contoh: pada tema ”tanaman” dengan subtema buah-buahan, orang tua mengenalkan buah apel. Ortu bertanya pada anak tentang pengetahuan buah apel dari segi warna dan bentuk, rasa, jumlah buah apel. Pengenalan membaca permulaan dalam pendekatan _”whole-linguistic”_ ini dilakukan secara terpadu tanpa mengenal struktur pada anak, misalnya setelah anak menggambar atau mewarnai sesuatu, misalnya rumah atau binatang, ortu meminta anak memberi nama dari gambar tersebut dan ortu membantu menuliskan nama dari gambar yang diinginkan anak. Dan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, anak masih diminta untuk menceritakan tentang isi gambar yang telah dibuatnya itu.


*Salam Ibu Profesional*

//Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang//


Seri Genius Matematika : Kokiwa dan Sapi- Sapinya


I remember when i was in school i am very weak in math. Mungkin karena saat itu saya belajar matematika dengan cara yang salah. Membaca buku seri genius matematika ini saya berandai- andai semisal buku ini sudah ada saat saya dulu SD, mungkin nilai matematika saya bisa lebih baik 😆

Dalam buku berjudul KOKIWA dan Sapi- sapinya ini, kita belajar mengenal bilangan. Review buku (masih) saya ambil dari sini ⤵

Kokiwa tidak dapat berhitung, ketika membagikan jagung untuk anak-anak, Kokiwa kebingungan harus menyediakan berapa jagung lagi agar tidak kurang, Kokiwa juga tidak tahu jumlah sapi-sapinya atau ayam-ayamnya. Untungnyaaa… ada anak-anak yang mengajari Kokiwa tentang bilangan; satu, dua, tiga, empat, lima. Sekarang Kokiwa bisa menghitung dengan bilangan! Tapi kokiwa kesulitan menghitung sapinya yang lebih dari 5. Maka Kokiwa belajar lagi bilangan yang lebih besar; enam, tujuh, delapan, sembilan. Oh, sapi Kokiwa dimangsa singa hingga tak bersisa. Anak-anak mengajari Kokiwa jika tidak ada lagi, artinya O. Kokiwa belajar bilangan O yang artinya habis, tidak ada apa-apa lagi. Kokiwa harus belajar bilangan yang lebih besar lagi, karena sapinya beranak 😀

Wah, bagaimana bisa sapi-sapinya Kowiwa beranak, sementara sebelumnya habis dimangsa singa hingga tak bersisa? -___-‘ mungkin Kowiwa membeli sapi baru yang tidak diceritakan di buku ini. Heu…

Menurut saya buku seri genius matematika ini sungguh jenius dalam mengemas pelajaran matematika dengan begitu apik, menarik dan mudah dipahami (eh ini apa karena saya sudah dewasa ya 😄). Kalau anak- anak saya tentulah belum paham (<7thn). Mereka suka saja melihat grafis dan angka- angka yang bertebaran, serta sibuk membuat script sendiri 😆

Ya namanya juga membiasakan anak- anak AKRAB dengan buku. Tidak memahami apa yang dibaca sekarang bagi saya tidak masalah. Anyway, hari ini sudah hari ke – 10, dan saya berencana berhenti sampai di hari ini untuk Tantangan 10 Hari For Things to Change I must Change First. Namun insyaAllah semangat membaca tidak akan pudar.







Seri Genius Matematika : Mahkota Permata yang Hilang


Kegiatan membaca di hari ke sembilan ini masih berkutat di Seri Genius Matematika. Setelah kemarin anak- anak membuat versi cerita sendiri berdasarkan imajinasi di buku Temukan Superkentut!, hari ini giliran Mahkota Permata yang Hilang.

Review buku saya ambil dari sini ⤵

Ketika menggunjungi museum, Detektif Flare menyadari sebuah mahkota permata yang dipajang palsu karena mahkota itu tidak sesuai dengan urutan pemata yang tertera di pamflet. Ternyata sang Pencuri yang menamakan diri Bintang Hitam meninggalkan petunjuk pesan pada Direktur Museum. Dengan mengikuti pesan dari sang Pencuri, Detektif Flare berusaha memecahkan beragam pola untuk menemukan mahkota permata. Bagaimana cara Dektektif Flare beserta asistennya memecahkan pola-pola tersebut?

Cerita Detektif Flare untuk memecahkan beragam pola ini seru sekali, tetapi saya kurang suka sama ilustrasi tokoh detektifnya. Terus itu kenapa direktur Museum, warna bajunya berubah-ubah…sementara Detektif dan asistennya konsisten dengan baju kotak-kotak dan bergaris 😀



Vivi Erma 😊





Seri Genius Matematika : Temukan Superkentut!


Tiga hari anak- anak vakum membaca, karena sedang asyik membantu Auntie-nya membuat kue lebaran 😁 Bahkan diajak membaca sebelum tidurpun tidak mau, bilangnya kecapekan dan lebih memilih dininabobo-kan suara tilawah surat pendek Mommynya. Jadi ya sudahlah. Tidak mau, tidak dipaksa 😆

Hari ini, mau dibacakan buku Seri Genius Matematika. Sekilas cerita, dapat buku ini rejeki banget, waktu ada SALE besar- besaran dari Gramedia, satu buku dibandrol Rp. 10.000 -an. Sayang waktu itu hanya beberapa seri yang tersisa, langsung saya borong semua 😁 *tertawabahagia (di OL Shop harga terendah masih Rp. 35.000-an)

Dari yang saya baca, Seri Genius Matematika terdiri dari 15 buku. Saya membeli 4 seri, salah satunya berjudul Temukan Superkentut! 

Buku ini menjelaskan berbagai konsep matematika dengan cerita dan ilustrasi warna-warni di setiap lembarnya. Buku seri ini merupakan terjemahan dari Korea, sehingga ada beberapa nama tokoh dalam cerita ini yang khas Korea.

Ilustrasi gambar yang warna-warni di atas lembar kertas glossy dengan karakter yang khas anak-anak membuat anak- anak suka. Dibolak- balik, bahkan Akhtar dan Qaleef memiliki skenario cerita tersendiri sesuai imajinasi. Buku ini ditandai untuk usia anak 7+, jadi ya saya belum memperkenalkan konsep matematika sesuai cerita. Hanya anak- anak suka menyebut angka- angka yang tertera.

Review Temukan Superkentut! Saya ambil dari sini ⤵

Dari judulnya saja lucuuuu, Superkentut! 🙂 Senjata andalannya yaaa…kentut. Yang namanya kentut, orang pasti tidak ada yang mau mengaku. Lalu bagaimana, caranya menemukan Superkentut? Ternyataaa…ternyataaa…dengan konsep himpunan akhirnya bisa menemukan siapa si Superkentut. Kok Bisa? Bisaaa, dengan bantuan Pak Tua yang memberikan ciri-ciri superkentut kepada Pak Kepala Sekolah. Pak Kepala Sekolah mengumpulkan semua murid dan membaginya berdasarkan ciri-ciri yang diberikan oleh Pak Tua, sehingga akhirnya mendapatkan anggota irisan himpunan yang memenuhi semua ciri-ciri Superkentut.

Suka banget dengan ilustrasi buku ini, setiap karakter anak-anaknya wajahnya kocak, hahaaa… Kepala Sekolah juga! Tingkah anak-anak di ilustrasi ini juga konyol waktu pembagian himpunannya, hahaaa… Seneng jadinya liat setiap lembaran buku ini.


Vivi Erma 😊






Cemilan Rabu : Menstimulasi Anak Suka Membaca

🍦Cemilan Rabu🍦

*Materi #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca*

*Tahap Perkembangan Anak Suka Menulis*
✍ Menulis merupakan ekspresi/ungkapan dari bahasa lisan ke dalam suatu bentuk goresan/coretan. 

Kegiatan awal menulis dimulai ketika anak pura-pura menulis di atas kertas, pasir atau media lainnya dalam bentuk coretan-coretan sampai anak mampu menirukan bentuk tulisan yang sesungguhnya.

Beberapa tahap perkembangan menulis anak dapat digambarkan sebagai berikut:
⭐ *Tahap Mencoret atau Membuat Goresan (Scrible Stage)*

Pada tahap ini, anak mulai membuat tanda-tanda dengan menggunakan alat tulisnya. Mereka mulai belajar tentang bahasa tertulis dan bagaimana mengerjakan tulisan tersebut. Anak membuat coretan-coretan acak (tidak teratur), coretan- coretan seringkali digabungkan seolah-olah coretan itu tidak pernah lepas dari kertas. 
💡Orang tua dan guru pada tahap mencoret seharusnya menyediakan jenis-jenis bahan untuk menulis seperti pensil, spidol, buku, kertas, dan krayon.
⭐ *Tahap Pengulangan secara Linear (Linear Repetitive Stage)*

Tahap selanjutnya dalam perkembangan menulis adalah tahap pengulangan secara linear. Pada tahap ini, anak menelusuri bentuk tulisan yang mendatar (horizontal) ataupun garis tegak lurus. Dalam tahap ini, anak berpikir bahwa suatu kata merujuk pada sesuatu yang besar mempunyai tali yang panjang dari pada kata yang merujuk pada sesuatu hal yang kecil
⭐ *Random/Acak (Random Letter Stage)*

Pada tahap ini, anak belajar tentang berbagai bentuk yang dapat diterima sebagai suatu tulisan dan menggunakan itu semua agar dapat mengulang berbagai kata dan kalimat. Anak-anak menghasilkan garis yang berisi pesan yang tidak mempunyai keterkaitan pada suatu bunyi dari berbagai kata.
⭐ *Tahap Berlatih Huruf (Menyebutkan Huruf – Huruf)*

Kebanyakan anak-anak, biasanya sangat tertarik huruf-huruf yang membentuk nama mereka sendiri.
⭐ *Tahap Menulis Tulisan Nama (Letter-Name Writting or Phonetic Writing)*

Pada tahap ini, anak mulai menyusun hubungan antara tulisan dan bunyi. Permulaan tahap ini sering digambarkan sebagai menulis tulisan nama karena anak-anak menulis tulisan nama dan bunyi secara bersamaan. Misalnya mereka menulis ”kamu” dengan tulisan ”u”. Anak senang menuliskan nama pendek panggilan mereka sendiri melalui contoh yang mereka lihat dengan huruf-huruf besar atau kecil.
Mereka mulai menghadirkan berbagai kata dengan suatu bentuk grafik yang secara refleks menunjukkan tentang apa yang didengar.
Semakin berkembangnya penguasaan kosa kata anak serta kemampuannya dalam berkomunikasi dengan orang lain, akan memiliki dampak terhadap perkembangan fungsi kognitifnya. Kemampuan mengkomunikasikan sesuatu seperti nama benda, orang atau binatang dengan menggunakan kosa kata yang banyak dan teratur akan mencerminkan kemampuan berpikir anak tentang hal tersebut.
⭐ *Tahap Menyalin Kata-kata yang Ada di Lingkungan*

Anak-anak menyukai menyalin kata-kata yang terdapat pada poster di dinding atau dari kantong kata sendiri.
⭐ *Tahap Menemukan Ejaan*

Anak telah menggunakan konsonan awal (misal L untuk Love). Konsonan awal, tengah dan akhir untuk mewakili huruf misal DNS pada kata dinosaurus.
⭐ *Tahap Ejaan Sesuai Ucapan*

Anak mulai dapat mengeja suatu tulisan berupa kata- kata yang dikenalnya sesuai dengan ucapan yang didengarnya.
Salam Ibu Profesional

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/