Pondok Mertua Indah

PONDOK MERTUA, INDAH?

“Jangan sampai ya kamu kalau sudah menikah ikut mertua, hmm.. makan hati!”

“Amit-amit deh jangan sampai tinggal sama mertua, bisa kurus kering kamu nanti!”

“Udah deh mending ngekos atau kontraklah daripada tinggal sama Mertua!”

Yang familiar sama kalimat tersebut di atas coba ngacung.. Wkkwwk

Stigma negatif kerap disematkan saat kalimat “tinggal seatap dengan mertua” disebut.

Awas lo!
Jangan sampai deh!
Amit-amit ya!

Oke, jujur saya akui sebagai pelaku, tinggal di rumah mertua itu bagai BERUMAH ADA, BERUMAH TIADA.

Mau ngapa-ngapain sungkan? JELAS!

Gak bisa mendesain ruangan seperti yang kita inginkan. Mertua suka tembok putih, kita maunya warna-warni. Gak bebas menerima tamu. Ada saudara jauh datang menginap juga tidak mungkin. Belum lagi kalau kita gak punya household equipment dimana akhirnya harus pinjam milik mertua. Kalau sampai rusak, bukan soal nilai menggantinya, tapi rasa gak enaknya karena pas ndilalah kita yang pakai kok malah jadi rusak. Padahal sih karena umur alatnya sudah tua dan ya karena sering dipakai juga. Qadarullah.. lagi apes wkwk

Mau masak, gantian dapur sama mertua. Kita masak sedikit, gak enak juga kan gak nawarin. Dimasakin banyak supaya mertua nyicip juga belum tentu seselera. Belum pas Gas habis, Minyak habis, akhirnya mau gak mau jadi hitung-hitungan, “ini siapa ya yang pakenya paling banyak?” hehe

Apalagi kalau sudah punya anak. Anak berantakin mainan, kitanya ditegur. Anak nangis, dibilang berisik. Anak ngompol pas belajar toilet training, najis! Ditambah dengan komentar negatif plus nasehat tentang pengasuhan yang kita sering merasa sebenarnya tidak membutuhkan. Beda jaman bu, Helloooww!!! *sewot πŸ˜…

“Kenapa sih bayinya rewel? ASINYA gak keluar kali! Kasih sufor aja deh!”

“Loh kok dikasih Sufor? Kasihan banget bayinya, harusnya kan ASI eksklusif!”

“Bayinya kok gak tidur sih padahal nenen, ASI nya gak bergizi kali, terlalu encer, bayi gak kenyang!”

*langsungnyeburkelaut πŸ˜‚

“Kok dikasih makan itu sih, kan belum boleh?” (Ini padahal kitanya sudah sampai konsultasi dengan ahli gizi, ikut grup HHBF, baca buku Baby Led Weaning dan segambreng persiapan MPASI buah hati tercinta πŸ˜…).

“Anak-anak ini kok kurus sih, gak doyan makan apa gimana?”

“Ibunya gak kreatif sih, makanya anaknya makan pilih-pilih, mana bisa gemuk kalau begitu.”

Curhat, Nyah??!!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Belum lagi jika dibanding-bandingkan, entah dengan ibu mertua sendiri saat mengurus suami kita dulu, dibandingkan dengan menantu yang lain, menantu tetangga. Wuiihhh..
Ya dan seabreg hal negatif lainnya,

Silahkan diingat-ingat sendiri bagi yang pernah mengalami. Loh! πŸ˜†πŸ˜‚

Tidak semua ibu mertua seperti itu. Tidak semua menantu mengalami itu.
Biarpun biasanya begitu tapi kan belum tentu.
Memang sih, saya setuju, idealnya orang yang sudah berumahtangga ya tinggal di rumah sendiri. Demi alasan apapun. IDEALNYA. Tapi berapa persen sih polulasi di dunia ini yang hidup dengan ideal?

Lalu apa kabar yang tidak atau kurang ideal itu?

Banyak sekali kan faktor yang membuat keadaan rumah tangga menjadi “kurang ideal”, jika ideal itu salah satunya berarti tidak numpang di rumah mertua. Bisa karena alasan finansial, bisa karena faktor emosional (pasangan tidak bisa jauh dari keluarga, kakek nenek tidak bisa jauh dari cucu, mertua yang berusia lanjut, sakit) dan sebagainya.

Jadi, mari kita putuskan mata rantai warisan pemikiran yang menyesatkan.

As Maya Angelou said,

If you don’t like something, change it.
If you can’t change it, change your attitude about it.

If the situation cannot be changed, you must learn to rise above it. What you tend to focus on, expands. Breathe energy into the positive things in your life.

Point yang ingin saya sampaikan adalah cobalah memulai dari diri sendiri. β€ŽDaripada menakut-nakuti diri sendiri dan orang lain dengan stigma negatif tentang tinggal di rumah mertua, kenapa kok tidak kita pasang mindset positif ke diri sendiri, ke orang lainβ€Ž (ibu ke anak, ayah ke anak, kita ke sahabat, ke teman dsb) bahwa hidup itu yang paling penting adalah selalu bersyukur, apapun keadaan kita. Mau di rumah mertua kek, mau rumah sendiri, mau di Indonesia, mau di luar negeri, kita harus memiliki endurance yang bagus dalam setiap kondisi. Tidak mudah, tapi tidak mustahil juga.

Sewaktu awal menikah dulu sampai punya anak satu, saya tinggal di rumah sendiri. Saya tahu sensasi keduanya, baik tinggal sendiri maupun seatap dengan mertua. Jadi jangan dibilang β€œAh, kamu tidak tahu sih rasanya MERDEKA! Makanya ngomong gini.”

Kalau

β€œAh, kamu ngomong gini karena sedang menghibur diri sendiri kan?” wkwkwk nah ini BETUL πŸ˜‚

Saya memang sedang menghibur diri saya sendiri, dan saya juga sedang menghibur ibu-ibu lain yang masih harus tinggal seatap dengan mertua.

Ingat Nyah. Ini takdir Allah buat kita, dan tidak ada takdir Allah yang tidak baik. Kalaulah ini bisa disebut sebagai bagian dari ujian, maka tidak ada ujian yang tidak berhikmah. Semua ada pesan terselubung, entah supaya kita berlatih sabar atau mungkin hanya inilah satu-satunya cara kita berbakti pada mertua. Allah yang Maha tahu. Entah sebagai penghapus dosa, entah sebagai ujian kenaikan tingkat. Muaranya tetap ke bab ibadah.

Tips dari saya ‡

1. Banyak Istighfar

Ingat diri kita yang berlumur dosa. Semoga sabarnya kita berbuah pahala dan peluruh dosa.

2. Banyak Baca Al Qur’an dan Pahami Maknanya

Lhoo apa hubungannya?

Ada.. terutama ayat2 yang membahas tentang kesabaran dalam menghadapi ujian.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta! ( Al ‘Ankabuut : 2 – 3 )

β€œHai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153)

3. Miliki Kegiatan Positif

Saya tidak membahas ibu yang bekerja ya. Waktu berinteraksinya saja beda. Biasanya ibu bekerja cenderung lebih santai, pulang kantor, capek, bobo‘. Tapi untuk ibu yang di rumah kan beda. Miliki kegiatan yang positif ini bagaimana maksudnya? Jalani kegiatan rumah tangga dengan riang gembira. Be Professional! Jika memang dengan kesadaran penuh memilih untuk menjadi IRT, “take a seat back, relax and make the most of it.”

Ikuti komunitas positif yang bisa meningkatkan kualitas diri sebagai istri dan ibu.
Ini beneran ada ilmunya lho! Bisa dipelajari dan sangat aplikatif. Tergantung kitanya mau atau tidak.

Baca juga : Ibu yang Bahagia adalah Ibu yang Betah di Rumah

4. Bergabung dengan Komunitas Positif

Ini sudah saya singgung di no 3. Ibu akan kagum bagaimana teman-teman yang berpikiran positif akan ikut membentuk paradigma berfikir ibu. Yang awalnya selalu mengeluh, jadi banyak diingatkan untuk selalu banyak bersyukur, dsb

Komunitas positif ini bisa berbentuk apa saja, bisa komunitas parenting, taklim, bisa juga komunitas yang menjadi wadah passion kita, semisal kita suka menulis, sew and craft, boga dsb. Lebih luar biasa lagi andai ada suatu komunitas parenting yang juga bisa mengembangkan passion ibu. Ini ada kok! For real!
Kita dapat ilmu bagaimana menjadi ibu yang bahagia sekaligus mengembangkan diri kita.

5. Miliki Passion

Masih bersambung dengan point nomor 4. Coba deh diingat-ingat, dulu sukanya apa? Apa kegiatan yang membuat mata ibu berbinar- binar. Asal baik, suami OK, tidak bertentangan dengan perintah agama, lanjutkan bu, lanjutkan! πŸ˜‰ Lebih asyik lagi jika passion itu bisa menghasilkan rupiah ya. Misalnya nih suka masak, buka catering, kecil-kecilan dulu. Suka baking, jual online.

Baca juga : Spark Joy

Jangan nganggur gak jelas bu. Udah ngurus rumah tangga aras-arasen, tidak merasa berbakat dalam bidang apapun, tidak memiliki hasrat mimpi apa- apa – minimal berbagi kebaikan di muka bumi ini, udah gitu tinggal bareng MERTUA.

Yaiyalah sumpek! πŸ˜…

Ayo bu! Kata orang bijak “Bahagia itu di Kepala!”, ini memang bener. Ya kondisi manusia turun naik ya, apalagi perempuan, pas PMS alamat baperan, tapi ya tidak perlu larut semacam Adem Sari dicemplungin ke dalam air putih.

Sedih.. ya kenali sedihnya..

Sedih karena apa?
Lalu pengennya gimana?
Cara mendapatkan kepengenan itu gimana kira-kira ?

Tulis bu, tulis!

Punya diary penting. Bukan hanya anak-anak yang butuh, kita juga.
Takut kebaca orang, tulis aja di Evernote, kasih password! Selesai. InsyaAllah aman. Siapa juga yang mau membajak curhatan ibu-ibu. wkkwkw

Mau tinggal dimanapun, itu adalah ladang ujian buat kita, dan kita gak bisa milih. Ujian kehidupan diibaratkan UAS, apa iya kita akan tahu 100% soalnya yang keluar akan seperti apa?

Berikut kalimat bijak yang saya sadur dari BC WhatsApp, mudah-mudahan bisa menjadi penguat ‡

Optimislah saat segala urusan terasa sulit bagimu, karena Allah telah bersumpah dua kali “Sesungguhnya sebuah kesulitan bersama kemudahan, sesungguhnya sebuah kesulitan bersama kemudahan”

Ketika kau meyakini bahwa setelah kesengsaraan adalah sebuah kebahagiaan dan setelah air mata yang mengalir adalah senyuman, maka sesungguhnya kau telah melaksanakan ibadah yang amat agung yaitu berprasangka baik kepada Allah

Jika sakitnya dunia membuatmu lelah maka janganlah bersedih……… barangkali Allah ingin mendengar suaramu dalam doamu……..dan jangan kau tunggu kebahagiaan untuk… namun tersenyumlah sehingga kau bahagia..mengapa kau berpikir banyak sedangkan Allah adalah yang Maha Mengatur…
Mengapa gundah akan sesuatu yang tidak kita ketahui, sedangkan segala sesuatu Allah sudah tahu……..

Oleh karena itu tenanglah karena engkau selalu berada pada pengawasan Allah yang Maha Menjaga……dan ucapkan dengan hatimu sebelum dengan lisanmu…..
Aku serahkan segala urusanku kepada Allah

Pada suatu hari kau akan menemukan bahwa kesedihanmu akan menyelamatkanmu dari neraka dan kesabaranmu akan memasukkanmu ke dalam surga

Jika semua urusanmu terasa sempit maka di dalam Al Qur’an ada surgamu
Dan jika kesendirianmu menyakitimu , maka ke langit kirimkan doamu.

Baca juga : Free Your Innerchild

Sebagai orangtua, kita bisa saja mempersiapkan segala rupa untuk anak-anak, misalnya anak lima sudah kita belikan rumah satu-satu, hanya supaya mereka jangan sampai tinggal sama mertua. Tapi namanya takdir kan kita gak tahu juga. Tiba-tiba, qadarullah, jodoh anak kita bule, terus tinggal di luar negeri dan mungkin harus di rumah mertua, itu rumah bisa dibawa emangnya? Ya lain lagi kalau kita belikan RV πŸ˜‚πŸ˜‚ bisa diboyong kemana-mana.

Jadi jangan takut anak tidak bahagia saat tinggal dengan mertua. Kita sebagai orangtua juga jangan malah menakut-nakuti. Mindset orangtua itu kan melekat sekali ke anak-anaknya, kita tanamkan saja hal yang positif, kita doakan dimanapun mereka berada, Allah akan selalu melindungi dan memuliakan mereka. That simple!

We can’t always choose the cards we have been dealt, but we can learn to play them. Like a flower that grows through a crack in the concrete, sometimes we have to make the best of our situations and bloom where we have been planted.

You may not be where you want to be in life just yet.

Keeping our dreams alive is what uplifts the human spirit. But how can we deal with the fact that sometimes we may have to tolerate something that we do not like to eventually get to where we want to be?

So instead of getting bitter and upset at your situation, why not try blooming where you have been planted?

Learn to bloom where you are planted. Even if you find yourself planted under some concrete at the moment, look for the crack in the concrete to find your way out.
And despite all odds, choose to bloom anyways. – Smitha Malhotra

Bloom Where You Are Planted

Semoga bermanfaat.

Jakarta, 29 November 2017

Vivi Erma 😊

🌍 Sumber Bacaan ‡

πŸ“š http://www.huffingtonpost.com

Advertisements

Keseruan Outbond di Pelita Desa Ciseeng Bogor

Sebuah Review

β€œMommy, Kakak mau pergi Outbond lho!” kata Akhtar suatu hari sepulang dari sekolah.

β€œOya? Outbond itu apa sih kak?” saya memancing pemahamannya.

β€œItu Mommy, nanti kita main air, lumpur, memerah sapi dan menangkap ikan,” terang si kakak dengan polosnya.

β€œWah, sepertinya seru sekali ya? Kakak mau Outbond sama siapa? Dimana?” saya pura-pura bertanya meski sudah tahu sebelumnya dari kalender akademik sekolah.

β€œSama Ustadzah, sama Zaki, Hisyam, Fathur, Zafran, Akhdan, Arsa,” Akhtar menyebutkan nama-nama teman di kelasnya.

β€œBanyak sekali! Outbondnya dimana?”

β€œAda. Tempatnya jauh kata Ustadzah, jadi harus naik bis. Horeee kakak mau naik bis!”

Melihat binar mata Akhtar, meski dia hanya membayangkan keseruan kegiatan outbond saat mendengar cerita dari Ustadzah, membuat saya tidak tega melarangnya untuk pergi seperti tahun sebelumnya. Saat itu Akhtar memang baru sembuh dari flu dan sedang musim hujan pula πŸ™

Meski setengah hati harus melepas Akhtar pergi tanpa didampingi oleh saya, berbagai hal untuk menunjang kondisi fisiknya saya persiapkan, dari makan sayur (sop), jus buah, booster vitamin, hingga olahraga (di rumah). Alhamdulillah, sampai dengan sehari sebelum hari H, kondisinya terpantau bagus.

Bulan ini sebetulnya sudah masuk musim penghujan. Beberapa kali pagi juga mendung gelap, kadang diiringi hujan, sekedar gerimis atau langsung terik. Kami beruntung, karena pagi di hari H, matahari tak malu-malu menampakkan sinarnya. Syukurlah, batin saya.

Dua jam perjalanan dari Srengseng, Jakarta Barat menggunakan 2 bis berukuran besar dan sampailah kami di Pelita Desa – Ciseeng Bogor.

Lho kok KAMI?

Iya si Mommy ikut! Wkwkw Mendadak sore sebelumnya, korkel (koordinator kelas) dari kelas Akhtar meminta kesediaan saya menggantikan salah seorang panitia yang mengundurkan diri.

Mommy menemani kakak Outbond. Yay!

Kami datang untuk bersenang-senang πŸ˜„

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Acara outbond yang berlangsung di hari Jum’at, 24 November 2017 ini diikuti oleh hampir seluruh siswa siswi TKIT EXISS ABATA, para Ustadzah, tim FSOG dan beberapa perwakilan pendamping dari wali murid (salah satunya saya).

Kedatangan kami disambut dengan ramah oleh kakak-kakak pembina berkaos hijau tua dan berkerudung hitam lebar di halaman sebelum pintu masuk. Suasana kekeluargaan terasa sekali, sepertinya mereka sudah terlatih memberikan rasa nyaman bagi para pengunjung .

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Setelah mengikuti pengarahan, kami masuk melalui gua loket secara berurutan dengan satu kakak pembina di setiap kelompok.

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Saya menjadi pendamping kelas Qiblatain – kelas Akhtar – tapi yang kelompok putri. Kelas Akhtar dibagi menjadi dua kelompok, putra dan putri dipisah. Satu kelompoknya berisi 11 – 12 anak. Tangan kami distempel, dan orang dewasa diberikan dua kupon makan yang tidak boleh hilang, satu untuk snack time dan satu untuk makan siang.

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Kami lalu digiring memasuki sebuah Aula. Aula inilah basecamp kami selama mengikuti kegiatan. Harum aroma teh manis hangat dan jagung rebus semerbak memenuhi ruangan. Ternyata telah disiapkan oleh panitia sebagai β€œWelcome drink”.

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Setengah jam kemudian dimulailah Outbond yang telah dinanti-nantikan. Selama kegiatan, baik anak-anak maupun pendamping hanya menggunakan kaos kaki (yang siap buang).

Yuk, simak kegiatan serunya secara berurutan, lengkap dengan dokumentasi ‡

Setelah berdoa bersama, anak-anak diajak melakukan pemanasan yang menyenangkan.

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Dilanjutkan dengan FUN GAMES.

🐡 FUN GAMES.

Fun Games ini terdiri dari beberapa permainan.

FUN GAMES I – TONGKAT ESTAFET

Pelita Desa Ciseeng Bogor

FUN GAMES II – LOMBA BAKIAK

Pelita Desa Ciseeng Bogor

FUN GAMES III – HOLAHOP

Pelita Desa Ciseeng Bogor

FUN GAMES IV – TARIK TAMBANG

Pelita Desa Ciseeng Bogor

FUN GAMES V – RING BAN

Pelita Desa Ciseeng Bogor

FUN GAMES VI – ISI AIR DALAM PIPA BOCOR – yang merupakan fun games terakhir.

Pelita Desa Ciseeng Bogor

🐢 NAIK RAKIT

Pelita Desa Ciseeng Bogor

🐺 FLYING FOX

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Look at these happy faces! 😁

Pelita Desa Ciseeng Bogor

🐱 PROGRAM TANAH LIAT

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Yay! Berhasil.. berhasil..

🐯 X – CAVE

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Masuk ke dalam gua dan ada bagian yang harus merangkak.

SNACK TIME – BAKSO

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya, kami isi “energi” dulu. Rasa baksonya membuat saya dan anak-anak ingin menambah satu mangkok lagi. Asli enak! (Percayalah jika orang asli Malang bilang suatu bakso itu enak, ya insyaAllah beneran enak πŸ˜†)

Yuk lanjuut,

🐻 MENITI JEMBATAN GOYANG

Pelita Desa Ciseeng Bogor

🐨 V-BRIDGE BESI

Pelita Desa Ciseeng Bogor

🐰 TITIAN BAN

Pelita Desa Ciseeng Bogor

🐼 TWOLINE & BURMA BRIDGE

Pelita Desa Ciseeng Bogor

🐞 SPIDER BLOCK

Pelita Desa Ciseeng Bogor

πŸ„ PROGRAM SAPI PERAH

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Penasaran mengalahkan rasa takut πŸ˜…

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Minum susu moo yang sudah diberi essence coklat dan strawberry (fyi: ini bukan hasil susu yang diperah oleh anak-anak sebelumnya ya πŸ˜€ )

🐴 PROGRAM PAK TANI

● Membajak

On a lighter note : Saya adalah saksi hidup si Kerbau Pup di tempat πŸ˜… penyubur tanah alami!

I think this is why kaos kakinya disarankan untuk siap buang πŸ˜‚

Pelita Desa Ciseeng Bogor

● Menanam padi

Pelita Desa Ciseeng Bogor

● Menumbuk padi di lesung

Pelita Desa Ciseeng Bogor

● Menampih

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Dari program Pak Tani ini anak- anak jadi belajar bahwa proses menanam padi hingga menjadi bulir beras itu tidak mudah, maka dari itu tidak boleh menyia-nyiakan nasi ya πŸ€—

🐠 TANGKAP IKAN

Pelita Desa Ciseeng Bogor

Setiap kelompok melakukan kegiatan berbeda secara bergiliran.

Tangkap ikan adalah yang terakhir dari rangkaian acara outbond.

Anak- anak bebersih (mandi) dan lanjut makan siang.

Ini menunya ‡

β€’ Menu makan dewasa : Nasi putih, ayam bakar, sayur asem, lalapan, perkedel jagung, ikan asin, kerupuk, sambal.

β€’ Menu makan anak-anak : Nasi putih, ayam goreng tepung, sayur sop, perkedel jagung, kerupuk, saos sambal.

β€’ Buah Semangka.

β€’ Air mineral gelas.

Setelah kenyang, sekitar pukul 14.00 WIB kami bersiap-siap untuk pulang.

Di depan AULA telah berjejer foto-foto kegiatan yang ternyata tidak gratis πŸ˜† . Foto-foto berukuran 6R itu dijual seharga Rp. 10.000 per lembar. Tadinya sih saya tidak mau menebus foto saya, tapi karena Akhtar ribut menendeng foto saya tersebut kemana-mana, jadilah sungkan sama mas penjualnya πŸ˜…

JADI BAGAIMANA KESAN SAYA ?

Untuk jarak tempuh yang memakan waktu dua jam, menurut saya relatif tidak terlalu jauh ya. Lokasinya berada di sebuah pedesaan dengan kondisi jalan aspal yang belum merata. Ada baiknya sih kalau berkunjung tidak saat hujan.

Dengan HTM Rp. 125.000/orang , kegiatan dan fasilitas yang ditawarkan beragam, apalagi untuk usia anak-anak.

🌻 Welcome drink

🌻 13 Kegiatan Outbond

🌻 Snack time – bakso dan air mineral

🌻 Susu

🌻 Makan Siang

🌻 Ikan kecil hidup di dalam plastik

🌻 Souvenir berupa mug lucu (khusus TK dan SD)

Kalau tidak salah ini termasuk paket EDU II. Jumlah minimal yang harus dipenuhi jika mau mengikuti outbond di sini adalah 30 orang.

Tempatnya luas dan asri, dikelilingi pepohonan besar dengan hamparan danau di tengahnya. Fasilitas pendukungnya juga cukup lengkap. Basecamp yang kami tempati cukup luas dan nyaman (meski sempat ada insiden mati lampu sebentar saat siang). Toilet ada 4 pintu, 3 dengan WC dan satu khusus mandi – relatif bersih, di bagian depan ada ember-ember raksasa untuk memandikan anak-anak, posisinya tidak jauh dari basecamp.

Musholla terletak di lantai dua gedung utama, mukena berjejer rapi dan bersih. Musholla tersebut tanpa tembok, hanya pagar pembatas, jadi sholat bisa sambil menikmati hembusan semilir angin, MasyaAllah tabarakallah.

Saya “mewawancarai” anak-anak saat makan siang dan overall mereka puas dengan seluruh kegiatan. Meski singkat (+- 4 jam) tapi padat. Saya juga luar biasa kagum dengan keberanian anak-anak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Saya tidak membayangkan nyali saya sendiri saat seusia mereka. Jaman dulu saya TK sih belum ada ya kegiatan semacam ini πŸ™‚

Namun dari kesemuanya itu yang paling mendebarkan adalah saat anak-anak satu persatu bergiliran menaiki flying fox di atas seutas kawat tembaga yang membentang di atas danau. Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan kata mereka dan melatih keberanian yang bagus untuk anak-anak.

Dari kelompok saya tidak ada satupun yang mengeluh capek lho! Kalau yang takut, ada satu dua, tapi mau juga setelah dibujuk. TOP deh pokoknya!

🐣 PESAN SAYA :

🐣 Persiapkan stamina dengan baik, bagi anak juga pendamping. Di awal kegiatan Fun Games sudah rawan basah-basahan dengan air.

🐣 Tidak disarankan bagi yang mengidap OCD (Obsessive Compulsive Dissorder) dan Mysophobia (takut kotor)

🐣 Kegiatan dimulai lebih pagi lebih baik, yang penting jangan terlalu siang karena panasnya semakin menyengat.

🐣 Pakai kaos kaki yang siap buang, kenapanya sudah dibahas di atas ya πŸ˜… kecuali kalau kekeuh mau di cuci juga tidak masalah sih. Kemarin juga baju Akhtar saya rendam dengan Rinso 2 kali, yang pertama menggunakan air panas πŸ˜† Akan lebih baik lagi jika ditambahkan desinfektan seperti Dettol di bilasan terakhir.

Itulah sekelumit keseruan Kegiatan Outbond di Pelita Desa – Ciseeng Bogor yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat khususnya buat ibu-ibu yang berencana mengajak putra-putrinya untuk berwisata outbound dengan fasilitas lengkap tapi harga terjangkau.

Berikut alamat lengkap dan kontak yang bisa dihubungi :

Outbound Pelita Village – Ciseeng Bogor

Jl. H. Miing, RT. 01 / RW. 03, Putat Nutug, Ciseeng, Bogor – Jawa Barat 16117.

0251 8543456 | 0856 900 5959

Jakarta, 27 November 2017

Vivi Erma 😊

Karang itu di Laut, Bukan di Gigi

Di saat kita sudah merasa menjaga gigi dengan baik dan benar sesuai kaidah yang berlaku, lalu ternyata ditemukan karang di gigi kita, rasanya itu sungguh memprihatinkan.

Apakah ini karena dosa-dosa saya? (baca: tidak sikat gigi setelah sarapan pagi dan makan makanan berkadar gula tinggi)

Karang gigi adalah plak yang menempel di sela-sela gigi dan sudah mengeras. Pembersihan karang gigi tidak bisa dilakukan dengan menyikat gigi di rumah, tapi harus dilakukan di klinik gigi. Istilah kedokterannya adalah scaling.

Bulan lalu, tepatnya di tanggal 26 Oktober, akhirnya saya beranikan diri untuk mendatangi Oktri Manessa Dental Care (OMDC) Mini Joglo, sebuah klinik gigi di dekat rumah. Keberanian ini datang, alasan pertama karena harga yang ditawarkan cukup murah, jika dibandingkan dengan Dental Clinic lain di sekitarnya.

Alasan kedua, saya sudah jengah dengan karang-karang gigi ini, ya meski sedikit (menurut saya) tetap saja mengganggu. Menyikat gigi rasanya kok tidak bersih-bersih, ada yang mengganjal di pangkal gigi.

Alasan ketiga, klinik ini lagi happening banget (terutama di kalangan para hijabers dan artis), konsepnya dibuat BEDA. Jika biasanya rasa horor menggelayut manja saat mendatangi sebuah klinik gigi, lain halnya saat masuk ke klinik ini.
Memang sih, banyak juga kok klinik gigi yang nyaman, bahkan menyediakan suguhan berupa teh, kopi dan aneka cemilan di ruang tunggu, tapi tarifnya, Nyah! Horor! πŸ˜…

Setelah membuat janji di WhatsApp pagi itu melalui Desta/Tistan (Dental Assistant — asli awalnya saya pikir ini nama orang wkwkw, kreatif juga ya) request saya di_OK_in untuk jadwal jam 10. Jam bukanya jam 10, jadi sepertinya saya adalah pasien pertama. Begitu datang, saya mengisi formulir pasien baru dan mendapat patient kit, tapi kosongan, kartu pasiennya baru akan jadi 2 minggu kemudian katanya.

img_20171122_200847_438000-1781764086.png

Saya dipersilahkan untuk menunggu di lounge yang ada sofa dan TV nya.
Klinik yang saya kunjungi ini, desain ruangannya dibuat menarik. Dominasi warna fuschia tampaknya sengaja dipilih sebagai branding. Entah bagaimana hal ihwalnya pemilihan warna ini, bisa jadi warna favorit foundersnya. Yang jelas berkesan Fun and Chic!
Di dekat meja resepsionis terdapat photo wallpaper, spot buat foto-foto seru. Saya tengok di instagram, klinik cabang lainpun demikian.
Klinik ini bergaya POP.

Photo Wallpaper

5 -10 menit kemudian saya dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter di lantai 2. Interior di lantai dua tidak kalah serunya. Dari mulai naik tangga sampai di dua ruang periksa dengan dua desain yang berbeda tapi masih mengusung warna fuschia. Sensasinya bukan seperti pergi ke dokter gigi, tapi ke sebuah salon kecantikan hahaha

Di dalam ruang 2 telah menunggu drg. Arby dan asistennya (dia yang saya tidak tahu namanya πŸ˜‹). Ditanyalah keluhan saya apa dan dipastikan lagi permintaan saya untuk paket Scaling dan Flouride Treatment. Kemudian saya didudukkan di kursi periksa gigi yang didepannya terdapat layar TV. Di berbagai review disebutkan bahwa fungsi layar TV itu adalah untuk melihat kondisi gigi sebelum dan sesudah perawatan, tapi saat itu saya hanya menggunakan cermin kecil, sebelum dan sesudah perawatan. Entah pertimbangan drg. Arby apa.

Saat diperiksa pertama kali, ditemukanlah spot-spot karang gigi, termasuk karang gigi di dua gigi yang sudah terlanjur masuk di dalam gusi, nah ini memerlukan tindakan kuretase. Dijelaskan juga bagaimana bahayanya karang gigi yang sudah masuk di dalam gusi itu jika tidak dibersihkan.

BAHAYA KARANG GIGI ‡

1. Gangguan pada gigi ini akan memudahkan proses pemecahan enamel gigi yang diakibatkan oleh asam yang dikeluarkan oleh bakteri mulut. Hal ini akan kian memudahkan munculnya gigi berlubang atau kerusakan gigi.

2. Karang gigi memiliki efek serius pada kesehatan mulut dan tubuh secara keseluruhan terutama jika tumbuh di atas garis gusi. Sebab ini merupakan tempat yang tepat bagi bakteri untuk bersarang, kemudian menyusup ke dalam gusi sehingga membuatnya rusak dan mengalami iritasi.

3. Salah satu efek paling ringan dari karang gigi adalah gingivitis alias radang gusi. Setelah gingivitis terjadi, sementara karang gigi tetap ada, maka gusi tinggal menunggu waktu untuk terkena penyakit periodontitis (silahkan browsing). Penyakit ini berbentuk kantong nanah yang timbul di antara gusi dan gigi.

4. Efek berbahaya lainnya adalah risiko penyakit jantung dan stroke yang sepertinya berhubungan dengan kesehatan gusi. Diduga, bakteri dan mikroorganisme yang terdapat dalam plak gigi bisa masuk ke dalam jaringan darah. Kondisi tersebut bisa membuat arteri mengalami penyumbatan. Jika aliran darah tersumbat, maka risiko mendapat penyakit jantung dan stroke diduga bisa lebih tinggi.
Ketika sistem pertahanan tubuh melakukan reaksi perlawanan terhadap bakteri yang ada di dalam kantong nanah maka secara bersamaan bakteri juga akan melepaskan zat pertahanan diri. Akibatnya, tulang gigi dan jaringan lain yang ada di sekitarnya bisa mengalami kerusakan. Jika terus berlanjut, maka bersiaplah kehilangan gigi, sekaligus menipisnya kekuatan tulang di mana gigi tertanam.

*pingsan. Tidak menyangka bisa sehoror ini 😣

Dimulailah proses scaling dan kuretase yang memakan waktu sekitar 15-20 menit. Saya bertahan dari rasa ngilu yang luar biasa di beberapa bagian gigi. Setelah selesai, drg. Arby menunjukkan gigi saya dengan cermin kecil, β€œWOW”, bersih! Gigi rasanya juga enteng.

Sebagai after treatment, drg. Arby memberikan saya sebungkus flouride untuk diaplikasikan sendiri di rumah saat malam hari setelah menyikat gigi – sebelum tidur. Jadi cara pakainya, cairan flouride tersebut diaplikasikan ke gigi menggunakan kuas kecil yang telah disediakan. Umumnya, fluoride sebenarnya terkandung di pasta gigi, tapi konsentratnya tidak banyak dan kurang maksimal untuk melindungi gigi dari lubang.

Kalau saya baca di review blog lain sih, flouride ini diaplikasikan oleh drg setelah treatment selesai. Lagi-lagi, entah pertimbangan drg. Arby apa, kenapa beda?

Total biaya yang harus saya keluarkan sebesar Rp. 512.000 dengan perincian sbb ‡

πŸ₯ Service Charge 35.000,-

πŸ₯ Konsultasi FREE
πŸ₯ Complete Protection Plus 279.000,-
πŸ₯ Curretase/Regio 99.000 x 2 = 198.000,-

Kaget sih, di luar estimasi biaya yang saya pikirkan dan uang di dompet juga tidak sampai segitu wkwkw ya alhamdulillahnya bisa transfer. Jika awalnya saya sudah kepedean termasuk kategori scaling kelas 1, tidak demikian menurut drgnya, saya sudah termasuk kelas 2. Jadi yang menentukan kita termasuk kategori mana ya drgnya.

Saya pikir biaya ini mahal, tapi setelah membandingkan dengan orang lain yang telah melakukan perawatan scaling sebelumnya, di tempat yang lain, ternyata ini MURAH Nyah! Hee..

Syukur alhamdulillahnya lagi total biaya ini bisa direimburst .. ke suami πŸ˜‚

Kesimpulannya…

I am delighted with the dental treatment I had and very impressed by the trouble and care taken by Dr Arby in particular and all of the staff at the clinic too. They are invariably cheerful, professional and caring. These cute, yet sophisticated Dental Clinic i’ve ever visit in my entire life
Well, I cannot say that I enjoyed the actual treatment but I would be considered odd if I enjoyed being in the dentists chair πŸ˜… However the end result is wonderful πŸ’—πŸ’—πŸ’—

Oktri Manessa Dental Clinic (OMDC) Mini Joglo

Jl. Raya Pos Pengumben No.26-28, RT.6/RW.3, Srengseng, Kembangan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11630

No. Telp/ HP: 021-5854008/ 081381553838

Email: drg.oktrimanessa@yahoo.com

Instagram: omdc_official


Yang jelas saya kapok tidak rajin ke drg.

Gigi merupakan investasi masa depan. Bersihkan sekarang atau menyesal kemudian.

Seperti yang kita tahu, bab mengenai kesehatan dan kebersihan menjadi perhatian besar dalam Islam. Salah satunya adalah bagaimana Islam mewajibkan penganutnya untuk membersihkan diri dengan baik dalam persiapan sebelum melakukan shalat.

Merawat kebersihan tidak hanya dianggap sebagai kebiasaan yang baik, tetapi juga merupakan suatu ibadah yang merupakan bagian dari iman. Hadits-hadits di bawah ini menunjukkan sejauh mana Islam sangat detail menjelaskan mengenai kesehatan dan kebersihan pribadi, termasuk membersihkan gigi.

1. Bersuci adalah sebagian dari iman

”Bersuci [thaharah] itu setengah daripada iman.”(HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir, II/57)

2. Bersiwak sangat dianjurkan

Bersiwak hukumnya sunnah (dianjurkan) pada setiap saat, sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallahu β€˜anha bahwa Nabi shallallahu β€˜alaihi wa sallam bersabda,
Ψ§Ω„Ψ³Ω‘ΩΩˆΩŽΨ§ΩƒΩ Ω…ΩŽΨ·Ω’Ω‡ΩŽΨ±ΩŽΨ©ΩŒ Ω„ΩΩ„Ω’ΩΩŽΩ…Ω Ω…ΩŽΨ±Ω’ΨΆΩŽΨ§Ψ©ΩŒ Ω„ΩΩ„Ψ±Ω‘ΩŽΨ¨Ω‘Ω
β€œBersiwak itu akan membuat mulut bersih dan diridhoi oleh Allah.” (Shohih, HR. An Nasa’i, Ahmad, dll)

3. Dari Abu Huroiroh radhiyallahu β€˜anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu β€˜alaihi wa sallam bersabda,
Ω„ΩŽΩˆΩ’Ω„ΩŽΨ§ Ψ£ΩŽΩ†Ω’ Ψ£ΩŽΨ΄ΩΩ‚Ω‘ΩŽ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ£ΩΩ…Ω‘ΩŽΨͺِي Ω„ΩŽΨ£ΩŽΩ…ΩŽΨ±Ω’Ψͺُهُمْ Ψ¨ΩΨ§Ω„Ψ³Ω‘ΩΩˆΩŽΨ§ΩƒΩ ΨΉΩΩ†Ω’Ψ―ΩŽ كُلِّ وُآُوٍؑ
β€œSeandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR. Bukhari)

Tidak aneh bila Islam peduli tentang kesejahteraan manusia baik di dunia dan di akhirat. Seorang mukmin yang kuat dan sehat lebih disukai Allah daripada yang lemah.

Jadi masih ragu pergi ke dokter gigi? Karena mahal? Coba deh OMDC. Akan lebih mahal lagi saat semuanya sudah terlambat, MasyaAllah tabarakallah, gigi buatan Allah tetap yang nomor 1 (pengakuan dari yang telah menggunakan gigi palsu). Rawat baik-baik ya Nyah! πŸ˜ƒπŸ˜Š

Ya memang semuanya takdir, kita sudah merasa merawat dengan baik, bolong ya bolong saja, dicabut karena syaraf gigi sudah mati ya mau tidak mau ya, tapi insyaAllah, Allah menilai upaya dan niat baik kita menjaga karuniaNya. Itu sih kalau saya. Saya juga jadi lebih cerewet ke anak-anak soal menyikat gigi ini.

Pertanyaannya kemudian, apakah KARANG GIGI BISA DICEGAH?

Seharusnya BISA, dengan cara :

🐦 Menyikat gigi

Menyikat gigi dua kali sehari selama minimal dua menit dianggap mampu mencegah tumbuhnya karang gigi. Gunakan sikat gigi yang lembut dan mampu menjangkau bagian belakang gigi geraham.

🐦 Gunakan pasta gigi yang mengandung flouride

Pasta gigi yang mengandung flouride dianggap mampu mencegah plak berkembang menjadi karang gigi. Pasta gigi jenis ini juga lebih efektif dalam memperbaiki enamel yang rusak. Akan lebih baik jika pasta gigi yang digunakan juga mengandung triclosan yang mampu memerangi bakteri yang berdiam di plak gigi.

🐦 Flossing

Membersihkan gigi dengan benang atau flossing adalah solusi paling jitu untuk membersihkan plak gigi yang ada di sela-sela gigi sehingga mengurangi kemungkinan terbentuknya karang gigi. Lakukan hal ini meski sudah menyikat gigi rutin sebagaimana disyaratkan di atas.

🐦 Jaga makanan

Bakteri yang ada di mulut sangat erat kaitannya dengan jenis makanan yang dikonsumsi. Mereka berkembang dengan baik saat makanan manis dan bertepung dikonsumsi. Bakteri akan mengeluarkan zat asam berbahaya jika bertemu dengan kedua jenis makanan di atas. Cara terbaik mengurangi kemungkinan terbentuknya karang gigi adalah dengan membatasi jenis-jenis makanan tersebut.

🐦 Hindari merokok

Kebiasaan merokok meningkatkan risiko pembentukan karang gigi pada para pengisapnya.

Seperti yang saya sampaikan di atas, karena menghilangkan karang gigi hanya bisa dilakukan oleh dokter gigi, maka mengunjungi klinik perawatan gigi secara terjadwal adalah cara terbaik. Minimal enam bulan sekali sangat disarankan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut.

Go to The Dentist, people!

Jakarta, 22 November 2017

Vivi Erma 😊

🌍 Sumber Bacaan :

πŸ“š alodokter.com

πŸ“š muslimdaily.net

Spark Joy

Berbicara tentang aktivitas yang membuat saya Spark Joy (ceileh istilahnya.. *konmari beud dah! πŸ˜…) yaitu dalam bidang DESAIN. Everykind!!

Ya desain baju, desain interior, arsitektur, desain grafis dan sejenisnya.

Looovveeee banget deh ❀❀❀ ME TIME ala saya yang benar-benar membuat mata berbinar.

It’s in the blood for sure!

Masa kecil saya, sepanjang yang saya ingat selalu diwarnai dengan kegiatan mendesain, create something!

Samar-samar saya ingat saat berusia TK, saya sering bermain “bongkar pasang”, hmm apa ya istilahnya sekarang? Boneka dari kertas dengan baju ganti yang bisa diselipkan. Nah iya! Itu deh pokoknya!

(Kayaknya hampir semua anak cewek generasi 80-an mainan itu deh)

Dan bukan hanya sekedar menggonta-ngganti bajunya, saya juga membuat desain rumahnya, dari bekas bungkus korek api. Iya saya ingat, saat itu di dapur belumlah memakai kompor gas elpiji, masih kompor minyak yang gasnya beli literan.

Lanjut saat SD, permainan meningkat, BARBIE donk! πŸ˜†

Bahagia banget rasanya ya anak jaman itu punya Barbie πŸ˜… saya punya dua kalau gak salah. Tapi.. saya gak punya baju ganti untuk Barbie-barbie saya itu. Terus apa asyiknya donk ya main Barbie gak punya baju, gak punya rumah… πŸ˜• Tapi saya tidak menyerah saudara-saudara! Saya beli kain perca sisa dari teman saya yang ibunya seorang penjahit, kala itu Rp. 500 saya sudah membawa pulang satu kresek hitam berukuran tanggung. Yeay! Mulailah saya menjahit baju-baju Barbie saya itu. Saya buat pola lalu jahit dengan… tangan hehe saya gak punya mesin jahit. Kegiatan ini dimulai saat saya kelas tiga SD. Menjahit membuat saya betah di rumah. Yang jelas, lebih mengasyikkan daripada menyelesaikan PR Matematika πŸ˜‹

Kegiatan keputrian itu berlanjut ke menyulam, membuat kristik, merajut. Semuanya saya pelajari secara otodidak, saya suka berkelana ke Toko Benang dan Pita sepulang sekolah. Disitulah saya menemukan buku-buku panduan. Uang saku saya habisnya ya untuk itu. πŸ˜†

Seiring bertambahnya usia, ilmu di bidang seni juga bertambah. Saya ingat saat SMP dan SMA nilai saya selalu bagus untuk pelajaran seni. Menyulam dan melukis, bahkan menyanyi!!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Tone suara saya cocok aja sih sama lagu-lagu daerah dan kebangsaan. Asal jangan paksa saya nyanyi lagu-lagu pop kekinian ya! πŸ˜ŽπŸ˜…

Di Universitas, saya bergabung di Teater kampus, dan saya mendapat ilmu baru tentang Make Up panggung. Seru tau!

Nah, saat bekerja di salah satu provider ternama di Indonesia, ndilalah saya memiliki kesempatan untuk melatih “tangan seni” ini. Saya menjadi penata rambut teman-teman Frontliner, setiap pagi! Jabatan resmi ini tentu tidak ada. Saya tidak dibayar serupiahpun. Tapi saya bahagia 😍 Teman-teman bahkan beberapa kali meminta saya merias mereka. Teman-teman dari Back Office bertandang ke rumah saat weekend sebelum mereka pergi ke kondangan. Menyenangkan!

FYI, semua kegiatan itu.. saya hanya suka dan menjadikannya ME TIME yang berkualitas ala saya. Belum pernah sekalipun saya mengambil jurusan khusus atau minimal kursus.

Me Time itu berlanjut hingga kini.

Alhamdulillahnya saya tinggal di lingkungan yang mendukung kegemaran saya akan dunia arsitektur. Jadi saat jogging pagi, sekaligus berfungsi sebagai terapeutik buat saya. Rumah-rumahnya.. daebak!! Meliarkan imajinasi saya, “Dalemnya kayak apa ya?” Hehe

Saat ini kegiatan terapeutik saya ada tiga, Jogging Pagi, Adult Coloring Book dan Desain Grafis.

Bermula dari iseng bikin-bikin quote. MasyaAllah tabarakallah, Allah memberikan saya kesempatan untuk menyalurkan hobi yang menjadi rupiah. Selain mengemban amanah sebagai content writer, saya juga membuat infografis nya sekalian. Yippie!!

Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu.

Kutipan dari pak Dodik Maryanto ini agaknya cocok dengan situasi saya. Maka dari itu sebagai wujud rasa terima kasih saya untuk Institut Ibu Profesional.. yang telah membantu saya menemukan kembali diri saya πŸ€— saya kemudian memutuskan bergabung ke dalam Tim Desainer Grafis IIP Jakarta. (Mohon doanya semua πŸ‘)

Ada amanah baru yang saya emban, semoga saya bisa istiqomah. Aaamiin.

Rada jiper juga saat partner kerja mainannya Photoshop dan Canva πŸ˜… Saya mah apalah.. masih pake aplikasi di Android πŸ˜† Tapi mudah-mudahan dari yang sederhana ini mampu memberikan warna dan bermanfaat buat semuanya.

Small things with great impact.

Just as Ralph Waldho Emerson said,

Every artist was once an amateur.

Enjoy!

Jakarta, 16 November 2017

Vivi Erma

Cara Menulis Resensi Buku

RESUME KULWAPP MENULIS RESENSI BUKU

Pemateri : Fitri Restiana, sang #penulisbahagia
Sharing Resensi Bersama Ibu-Ibu Profesional Jakarta
(Jumat, 29 September 2017)

Peresume : Vivi Ermawati

MATERI

Data Narasumber

Nama : Fitri Restiana
TTL : Tanjungkarang/11 April 1976
Blog : http://www.fitrirestiana.web.id
Facebook : https://www.facebook.com/fitri_restiana
Email : fitrirestiana11@gmail.com
Instagram : fitri_restiana
Pendidikan terakhir : S1 Fak. Ilmu Sosial dan Politik Universitas Lampung
Alamat :Jl. Zainal Abidin Pagaralam. Gg Pelita 1 no 10/6 , Labuhanratu, Bandar Lampung

*Materi* :

*_RESENSI_*

Recensere (Bahasa Latin) : memberi penilaian
Resensie (Bahasa Belanda)
Review (Bahasa Inggris) : mengupas isi buku, seni lukis, music, dilm, dan sebagainya
Resensi (KBBI) : pertimbangan dan pembicaraan tentang buku; ulasan buku

Resensi : Mendeskripsikan dan menganalisis sebuah buku secara objektif dan kritis

*Syarat meresensi* : Foto, Fokus, Teliti, Objektif

*Tips Menulis Resensi* :
β€’ Baca keseluruhan dengan tenang
β€’ Tulis kalimat penting serta halamannya
β€’ Buat ikhtisar
β€’ Paparkan isi buku dengan kritis
β€’ Tuliskan kelebihan dan kekurangan buku secara objektif (jujur)
β€’ Sering membaca hasil resensi orang lain
β€’ Pelajari gaya resensi beberapa media
β€’ Membaca informasi tentang penulis (memudahkan memahami isi buku)

*Manfaat Resensi* :
β€’ Mendapatkan gambaran sebuah buku dan memberitahukannya kepada pembaca
β€’ Menambah ilmu
β€’ Pembaca bisa memahami ap atujuan dan latar belakang buku tersebut dan menilai apakah perlu dibaca atau tidak
β€’ Memberi masukan berupa kritik dan saran pada penulis buku mengenai cara penulisan, isi, dan makna buku
β€’ Mendapat honor

*Siapa Saja yang bisa meresensi* :
β€’ Semua bisa asal ada keinginan
β€’ Yang utama adalah mereka yang CINTA MEMBACA

*Apa saja yang harus disertakan ketika mengirim resensi*:
^ Kata pengantar yang santun
^ Hasil resensi (termasuk foto cover dan identitas buku)
^ Biodata peresensi (nama, nomor hp, alamat rumah, alamat medsos, email, nomor rekening)

*Identitas buku* : Judul, Nama penulis, Penerbit, Tahun Terbit, Jumlah halaman, ISBN, Harga Buku

*Syarat Buku yang diresensi dan yang dikirim ke media* :
β€’ Lazimnya di atas dua ratus halaman (tidak berlaku untuk semua media)
β€’ Tidak mengandung SARA
β€’ Banyak hikmah dan pelajar di dalamnya
β€’ Buku terbitan baru (atau sedang booming) lebih diprioritaskan

*Tips resensi tembus Koran Jakarta* :
β€’ Usahakan edisi terbaru, setidaknya berusia satu tahun
β€’ Lebih dari 200 halaman
β€’ Kalau ada momentum, itu lebih baik
β€’ Lebih diprioritaskan bukuyang diterbitkan oleh penerbit besar
β€’ Munculkan kalimat dari buku demi menjaga kevalidan tulisan
β€’ 5000 character with spasi (600-700 kata)
β€’ Bahasa sederhana
β€’ Kirim ke redaksi@koran-jakarta.com
β€’ Kolom resensi (Perada) terbit setiap hari, kecuali hari MInggu
β€’ Ingat, sebelumnya cek dulu ya. Apakah buku yang kita resensi sudah pernah dimuat di media tersebut (bisa dicari via google)
β€’ Usahakan menulis resensi setiap selesai membaca buku. Ini akan melatih daya kritis dan analisis kita

*Tips tembus Lampung post*
β€’ Tidak harus minimal 200 halaman (biasanya begitu juga dengan Koran local daerah lain)
β€’ Bahasanya tidak sesederhana resensi yang dimuat di Koran Jakarta, bisa lebih mendalam
β€’ 3500-4000 character with spasi (500-600 kata)
β€’ Resensi terbit tiap hari Jumat
β€’ Kirim ke lampostminggu@yahoo.com

*Informasi media yang menerima resensi* :
β€’ http://indonesiastudent.com/redaksi-yang-menerima-resensi-buku-beserta-syarat-pengiriman

*_Fokus itu tidak harus melulu pada satu titik, tapi juga bagaimana berusaha agar titik titik tersebut membentuk garis (Fitri Restiana)_*

Naah, demikan, Temans. Materi ini saya sampaikan ketika mengisi kelas Menulis Resensi besutan Indscript Corp. Alhamdulillah ada dua peserta yang berhasil tembus Koran Jakarta dalam waktu yang tak terlalu lama. Monggo lihat atau cek di FB saya. : Fitri Restiana.

T & J ‡

1. T : Apa beda Resensi, Sinopsis dan Review buku?

J : Resensi dan review tak jauh berbeda. Resensi lebih dalam dan matang karena cakupannya luas. Mulai dari menilai, menimbang, mengupas tuntas. Sedangkan sinopsis sifatnya meringkas. Tak banyak melibatkan penilaian.

2. T : Apakah kelemahan dalam sebuah buku mutlak perlu disampaikan dalam sebuah resensi?

J : Memang tak semua buku memiliki kelemahan krusial. Tapi demi menjaga objektivitas, peresensi tentu saja harus jujur mengungkapkan kekurangan, jangan lupa sertai kelebihannya juga.

3. T : Apakah syarat- syarat yang harus dipenuhi dalam membuat sebuah resensi?

J : Sudah ada di slide, yaa

4. T : Bagaimana cara meresensi sebuah buku antologi?

J : Sama saja dengan meresensi buku lainnya. Munculkan dua atau empat cerita yang diunggulkan dengan tetap memberikan gambaran cerita lainnya secara sekilas. Ini untuk menghindari kejenuhan pembaca. Apalagi jika antologi tsb memiliki satu tema dan kurang variatif.

5. T : Apakah mutlak perlu membuat perbandingan dengan buku lain yang sejenis saat meresensi buku?

J : Tidak mutlak, Mbak. Semua resensi saya yang dimuat hanya ada satu buku yang membutuhkan buku pembanding, yaitu bukunya Angga Setiawan. Yang lainnya tidak.

6. T : Bagaimana menjaga objektivitas dalam meresensi buku? Dalam materi membuat resensi sering disampaikan agar bisa memberikan penilaian yang obyektif serta menghindari penilaian subyektif. Ini konkritnya bgmn ya? Bukankan meresensi itu adl mmg penilaian pribadi seorang peresensi thd sebuah bacaan.

J : Objektif maksudnya adalah adil dan berimbang. Tentang kelebihan, kekurangan.

7. T : Tapi kadang subyektivitas peresensi yg unik bs jadi daya tarik tersendiri dari sebuah resensi buku kan mb fit? Butuh disertakan g klo gitu? Walaupun jadinya agak kurang obyektif πŸ˜‚

J : PEMAPARAN memang subjektif. artinya kita memahami dan menjelaskannya sesuai dengan kapasitas pemahaman kita. Sedangkan makna objektif adalah lebih pada PENILAIAN terhadap buku, evaluasinya, kurang lebih suatu buku. Demikian, Mbak..

8. T : Oh iya klo resensi untuk buku lama yg sering dijadikan rujukan untuk pelajaran sastra gt media biasanya ada yg minat g mb?

J : Biasanya kurang, Mbak. Kecuali di jurnal2 khusus. Mungkin bisa. Tp kalau media cetak, lazimnya mereka ingin buku baru.

9. T : Ini berarti meresensi buku itu bisa diterapkan untuk semua jenis buku ya mbak?

J : Secara teknikal, iya. Tapi mengenai konten, tentu berbeda-beda cara pemaparannya, ya.

10. T : Mba Fitri, pernah nggak, batal menuliskan resensi buku yang selesai dibaca saking merasa nggak enak kalau harus dibeberkan kekurangannya, misalnya karena penulisnya teman sendiri? *kepo 😁
Atau karena bukunya bagus walaupun secara teknis ada yang kurang pas, lalu memilih menyimpan sendiri saja sisi minus tersebut? Yang penting bisa berbagi bahwa ada buku bagus, semoga orang yang googling cari ulasannya bisa terbantu dst
Atau lebih jauh lagi kalau ada buku yang ternyata visi misinya beda dengan keluarga kita atau bahkan bertentangan dengan norma yang berlaku umum, nah, pernah nggak Mba Fitri memasukkan ‘peringatan’ supaya kalau-kalau ada yang mau browsing dulu sebelum beli ‘tidak terjerumus’?
Misalnya, ada buku parenting atau antologi yang isinya sebetulnya bagus, yang nulis teman-teman pula, sayangnya editing kurang rapi, bacanya kurang nyaman. Tapi kalau diungkapkan di ulasan yang dipublikasikan, khawatirnya jadi mengurangi minat orang beli (ah, tapi siapalah saya ya, tak punya pengaruh sebesar itu πŸ˜‚). Padahal kontennya bagus, hanya kurang rapi.
Soalnya kalau blogger/penulis, umumnya punya banyak teman penulis juga kan😁😁 (pengalaman, walaupun jejaringnya nggak seluas teman-teman di sini)
Ini curcol sebetulnya, saya tempo hari dapat hadiah beberapa buku dari lomba nulis dan diminta bikin ulasan dari buku-buku tersebut, tapi kemudian nggak jadi-jadi bikin karena kontennya yaaa gitu deh 😁. Mungkin bisa pakai sudut pandang lain ya, tentang keberanian penulis mengangkat hal yang tabu, tapi tanpa terkesan saya kagum atau setuju *tuh kan, bingung.

J : Saya orangnya jujur, Mbak. Hahaha. jadi kalau ada temen yang minta bukunya saya resensi, sebelum kirim biasanya saya tanya, eh lebih tepatnya menjelaskan bahwa saya akan mengungkapkan satu kekurangan. tapi untuk ‘mengibur’ saya juga katakan akan mengungkapkan kelebihan. Naah, inilah yang namanya menjaga objektivitas di tengah subjektivitas. Antara pemaparan dengan penilaian.
Paparkan sedikit dan tidak perlu detail. Tak apa. Paparkan ttg konten bukunya. Nanti selipkan kalimat ‘walau masih ada beberapa typo, buku ini sangat layak dibaca… bla… bla.. bla.. ”
Kemarin, waktu peserta dr indscript juga ada yang meresensi buku ttg bayi tabung. Wah… saya nggk berani rekomendasi. Tp untuk menjaga profesionalitas, saya sarankan lebih banyak memaparkan, munculkan hukum jika-maka. Dan ini jadinya sangat subjektif. Saya pribadi biasanya menolak halus dan minta maaf tak bisa mengrim ke media. Seandaikan tetap diminta, maka saran saya tuliskan saja di blog. Demikian, Mbak

11. T : Intinya mslh tekhnis pemilihan kalimat y mb fit, menyampaikan kekurangan tidak harus dengan “beringas” πŸ˜…

J : Dan jangan sadis πŸ˜‚. Paparkan sekilas dan santun.

12. T : Kalau mbak fitri paling tertantang meresensi buku jenis apa?

J : Saya senang merensi buku apa saja yang saya suka. bahkan buku materi belajar tampilan slide sekalipun (tapi ini tak dimuat, wkwkwkw). yang paling saya suka adalah buku parenting, biografi dan novel.


Penutup dari mba Fitri Restiana:

Semangat belajar dengan bismillah.
Menulis dengan mengkolaborasikan iman, pengetahuan, perasaan dan logika, akan membuat tulisanmu tidak aaja enak dibaca, tapi juga layak untuk dicinta. Semangat, semuaaa 😍😍😍

Contoh resensi yang dibuat mba Fitri ‡

http://www.fitrirestiana.web.id/2017/08/resensi-buku-dear-nathan.html
http://www.fitrirestiana.web.id/search?q=resensi+buku+kanker

Atau silahkan berkunjung ke http://www.fitrirestiana.web.id.

β€’ Akhir Resume β€’

#semogabermanfaat

Membahasakan yang Kita Lihat

*Rangkuman Materi MOS #1*
– Kang Wicak –

*_”Membahasakan yang kita lihat”_*
Berhubung saya fotografer, saya ambil dari beberapa sisi aja ya πŸ˜€

Anggep aja yg kita lihat itu akan kita ambil foto/videonya, ada kaidah yang paling basic kalo kita mau membahasakan.
Btw, membahasakan ini kalo buat temen temen fotografer namanya caption, caption ini bisa banyak bentuknya.

Bentuk caption paling gampang itu pakai kaidah
*5W 1H*
_What, When, Where, Who, Why dan How_

1⃣ When, kapan kita ambil fotonya, jangan sampe boong, misal kita ambil fotonya setahun yang lalu, terus kita posting fotonya sekarang, terus dikasih caption “yesterday is so berbunga-bunga”

2⃣ Where, dimana kita ambil fotonya, misal di depan rumah atau di ciwidey bandung, jangan nulis ciwidey tapi fotonya di bunderan HI kan ketauan boongnya 😁

3⃣ Who, siapa/apa objek foto kita

4⃣ Why, kenapa terjadi peristiwa yg mau kita tulis

5⃣ What, apa yang mau kita tulis ttg objek foto kita

6⃣ How, gimana sih terjadinya foto kita

_______ πŸ“ _______

Untuk membuat tulisan yg lebih menarik, kita bisa tambahin hal-hal lainnya. Kalo saya biasanya suka searching di google ato baca buku untuk referensi tambahan tulisan untuk foto saya.

Misalnya gambar Sempol.
Caption/tulisannya bisa seperti ini:

Jajanan kaki lima ini sedang ngehits di kalangan anak-anak muda. Terbuat dari adonan tepung dan ayam yang dililitkan pada tusukan sate kemudian digoreng setelah sebelumnya dilumuri telur. Hampir sama dengan cilok, dimakan dengan saos bumbu kacang atau sambal.
Namanya Sempol, merujuk nama desa di Malang sana. Hal ini menambah daftar banyaknya kuliner khas malang yang menginvasi daerah sekitarnya setelah Bakwan Kawi, Bakso Bakar, dan yang lainnya.
Sempol sekarang bukan hanya milik warga desa Sempol karena sudah merebut hati banyak orang. Jika awalnya dijual kaki lima dengan gerobak, kemarin ketika ke FKY ada yang jualan sempol dengan gerobak yang dikemas menarik khas makanan franchise dan layak mejeng di mall-mall. Ada juga yang melayani COD seperti yang ada di gambar ini. Ini bukan promosi tapi kalau berminat japri aja. Hitung-hitung nglarisi temen sendiri. Hla, ngalirisi temen kok masih pake hitung-hitung.
_________

Kita searching sempol di google, dapet banyak referensi, kita masukin ke tulisan kita biar captionnya ga cuman
“Lagi makan sempol di depan rumah”
😁

Atau kita punya captionnya begini:

ETIKA PUBLIKASI FOTO DALAM KONTEKS FENOMENA AKHIR-AKHIR INI

Dalam etika fotografi jurnalistik kita tidak diperkenankan menampilkan foto kategori disturbing pictures.

Foto yang memuat adegan kekerasan, luka menganga dan darah harus dihindari karena tidak semua orang mampu melihat hal itu.

Mungkin ini hanya etika yang berlaku bagi jurnalis tapi sebagai sebuah etika hal ini bisa meluas mengingat sekarang teknologi mengubah siapapun bisa menjadi citizen journalist. Bermodal gadget yang dimiliki dan berbagai social media yang ada seseorang dengan mudahnya bisa jeprat-jepret lalu share ke socmed.

Setidaknya ada tiga fenomena akhir-akhir ini dimana etika publikasi foto ini perlu ditegakkan.

Yang pertama, tentu saja genosida di Rohingnya.

Foto dan video kekejaman militer Myanmar terhadap etnis Rohingnya benar-benar menyesakkan dada. Banyak beredar foto-foto pembantaian mengerikan sekaligus berdarah yang menimbulkan iba mendalam.

Foto-foto ini memang bisa menyulut empati tapi tidak semua orang mampu melihat darah berceceran atau usus teburai.

Kemudian pemotongan hewan qurban. Meskipun banyak ahli yang mengungkapkan menyembelih hewan adalah cara terbaik untuk membunuh tapi tetap saja banyak orang yang tidak tega melihat proses penyembelihan.

Media-media banyak menghindari prosesi penyembelihan hewan qurban. Ada yang mengakali dengan memblur gambar yang termasuk disturbing pictures.

Yang terakhir adalah, pernikahan Raisa. Meskipun mereka berdua bahagia tetapi tetap saja ada orang-orang yang tidak mampu melihatnya dan memilih menangis di atas kebahagiaan mempelai berdua.

Jadi, tolong kalau mau share foto pernikahan Raisa diblur saja. 😁

_______ πŸ“ _______

Kaidah yg membantu kita menulis sudah ada, namun kita juga tidak perlu terpaku dgn kaidah2 yg ada, mengalir aja, krn perbendaharaan kata bakal muncul kalo kita sering baca buku (bukan baca google yak), semakin banyak baca buku, yakinlah semakin bermutu tulisannya.

πŸ˜„πŸ‘πŸΌ

Profil Mentor Online Swag
Nama : Hermawan Wicaksono
Panggilan : *Kang Wicak*
Hobby : Backpacker
Aktivitas : Fotografer & Videografer
Akun Medsos :
Twitter @sayawicakz
Ig @wicakz
Fb wicak yuhuuu

*Founder komunitas toekangpoto indonesia*

Multiple Intelligence

⛀ SEMUA ANAK ADALAH BINTANG⛀
Multiple Intelligences / Kecerdasan Majemuk Howard Gardner

ALLAH TIDAK PERNAH MEMBUAT PRODUK GAGAL

Albert Einstein menulis, β€œEverybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”

Ikan itu jago berenang, jangan habiskan hari- harinya dengan belajar memanjat dan berharap akan semahir monyet.

Anak- anak yang terlahir ke dunia merupakan anak- anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing- masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa justru lebih sering membanding- bandingkan pribadi anak ini dengan anak yang lain. Jika mereka tidak menyukai matematika , kita paksakan anak untuk ikut pelajaran tambahan agar nilainya sama dengan anak- anak yang sangat menyukai matematika. Jika mereka tidak bisa mengikuti lalu dilabeli sebagai anak yang bodoh. Kecerdasan hanya berpatokan pada akademis semata.

Kiranya seperti inilah yang mendasari pemikiran Howard Gardner, seorang profesor pendidikan yang mengabdikan dirinya di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Menurutnya, selama ini para pendidik telah melakukan kekeliruan karena menganggap tes kecerdasan atau tes IQ adalah satu-satunya ukuran yang paling dapat dijadikan patokan untuk mengukur kecerdasan seseorang.

Dear Ayah Bunda, memasuki bulan oktober tema yang kami pilih dari meja redaksi adalah MULTIPLE INTELLIGENCES atau KECERDASAN MAJEMUK. Mungkin Ayah Bunda sudah pernah mendengar istilah ini. Akan tetapi tahukah Ayah Bunda, apa manfaat mengetahui teori kecerdasan ini?

Menurut teori MI, kecerdasan manusia itu majemuk, multiple, dan setiap individu dapat memiliki lebih dari satu kecerdasan, dari antaranya ada yang sangat menonjol, dan setiap kecerdasannya ini dapat bekerja bersama-sama pada satu waktu, tapi dapat juga bekerja sendiri – sendiri dengan otonom. β€Ž

Kecerdasan manusia juga harus dinilai berdasarkan ‡

🍎 Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup
🍎 Kemampuan menemukan persoalan- persoalan baru untuk diselesaikan atau dicari solusinya
🍎 Kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan memberikan penghargaan dalam budaya seseorang.

Howard Gardner memetakan lingkup kemampuan manusia yang luas tersebut menjadi sembilan kategori dasar, diantaranya yaitu kecerdasan spasial, logika matematika, kinestetik, natural, verbal, interpersonal dan intrapersonal.

β€ŽMI mengantarkan para orangtua pada sebuah pemahaman baru yang memberikan semangat dan harapan. Karena pada akhirnya tidak ada anak yang bodoh akibat nilai tes kecerdasan yang rendah. MI justru membantu orangtua mengenal kekuatan dan kekurangan anak. Dengan mengenal dua hal tersebut lebih dini, Gardner berharap orangtua mengambil peran penting dalam memberikan stimulasi terutama dalam rangka menyeimbangkan kehidupan anak.

Kita sebagai orangtua harus sering melakukan β€œdiscovering ability” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas. Sebagai orangtua kita perlu memperhatikan di bidang apa saja anak-anak kita cerdas; dan kita perlu memberi perhatian lebih pada bidang- bidang kecerdasan paling menonjol pada mereka, dan membantu mereka berkembang penuh di bidang-bidang ini.

Nah, seperti apakah kecerdasan dasar menurut Howard Gardner, insyaAllah akan kami jelaskan lebih komperehensif di artikel- artikel berikutnya. Jadi, terus ikuti FanPage El – Hana Learning Kit ya Ayah Bunda πŸ˜‰

🌍 Sumber Bacaanβ€Ž ‡

πŸ“š Ayahbunda.co.idβ€Ž
πŸ“š Materi Bunda Sayang Institut Ibu Profesional : Semua Anak Adalah Bintang