Melatih Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Dapat Menjadi Bekal Yang Berharga di Masa Depannya

🌭🍟🍷 Cemilan Rabu #8.2 🍫🍨🍿

Melatih Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Dapat Menjadi Bekal Yang Berharga di Masa Depannya.

Di tengah arus kompleksitas perubahan zaman dan gemuruh publikasi korupsi negeri ini, orang tua dituntut lebih cerdas mendidik anaknya. Tentunya kita tidak sudi melihat anak tumbuh sebagai koruptor yang menyengsarakan.

Dari situ, selain membesarkan anak yang sehat secara fisik dan emosional, orang tua juga wajib mendidik anak secara benar.

Karena, mendidik anak bukan berarti mengabulkan setiap keinginannya. Tetapi, bagaimana orang tua mampu memberi teladan dan mengenalkan anak segala akhlak terpuji, terutama pengajaran kecerdasan finansial.

Maraknya lalu lintas rayuan iklan di segala media bisa mendikte anak menjadi pribadi yang konsumtif dan hedonis.

Namun, orang tua tak perlu khawatir, ketika anak sejak dini sudah dilatih kecerdasan finansialnya. Maka hasilnya, anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan cermat dalam mengelola uang.

Di sinilah, peran orang tua sangat vital, mengingat “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, sehingga teladan orang tua menjadi pelajaran pertama bagi anak.

Hal ini terbukti efektif menciptakan perubahan perilaku anak-anak agar tak terlena dengan uang. Karena, mengajarkan anak tentang uang secara benar dapat membentuknya menjadi pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa kewirausahaan.

Mulai dari cara mengenalkan uang, menabung, berhemat, dan mengajarkan bertanggung jawab dengan uang saku, dengan menggunakan panduan akan konsep spesifik ( specific), terukur ( measurable), dapat dicapai ( atainable), realistis (realistic) dan jangka waktu (time bound.)

Perpaduan konsep itu akan meninggikan mentalitas dan spirit anak dalam mengelola uang demi hasilnya bagi masa depan.

Selain itu, Kak Seto dan Kak Lutfi memberi gambaran metode:
*”10/10/10/70 ( _Pay yours first_).”*

Arti angka tersebut menggambarkan besaran persentase pembagian dari total uang saku yang diperoleh anak.

Semisal, 10 % untuk beramal ( _pay your soul first_),
10 % menabung ( _pay your safe first_),
10 % investasi ( _pay your self first_),
dan 70 % untuk pengeluaran kebutuhan mendasar.

Lewat pelaksanaan konsep ini akan mendorong penguatan akhlak anak menyadari bahwa uang bukanlah alat tukar untuk membeli barang semata. Lebih dari itu, uang bisa dimanfaatkan sebagai relasi penguatan penentram jiwa dan nilai spiritual ketika disedekahkan secara ikhlas.

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Nasional/

📚Sumber bacaan:

“Financial Parenting” penerbit Nourabooks, Jakarta.
Penulis: Kak Seto Mulyadi dan Kak Lutfi Trizki.

Advertisements

Bullying

Bullying
By. Ibu Elly Risman

Anak kita : Pelaku,Korban atau Penonton ?

Sekitar sebulan yang lalu di Sukabumi-Jawa Barat, SR anak kelas 2 SD tewas dibully teman sebayanya .Berawal dari sering ejek, korban dan para pelaku menjadi sering terlibat perkelahian.Terakhir, korban tak hanya dipukuli. Ketika sudah terkapar, telinga korban disumbat menggunakan keripik dan disiram dengan minuman ringan.

http://kaltim.tribunnews.com/2017/08/09/sadis-anak-sd-jadi-korban-bully-teman-sebayanya-hingga-tewas-telinga-korban-disumbat-pakai-ini?page=3

Belum lagi nyeri dihati hilang, dua pekan yang lalu persisnya 4 September terjadi hal yang lebih parah di Bekasi. ST (7) dan BN (7) melakukan perbuatan tak senonoh terhadap teman perempuannya ketika jam istirahat sekolah.Korban sedang ke toilet untuk buang air, tapi mendadak kedua pelaku menerobos masuk dan mencabuli korban.Kemudian tiga temannya datang lagi namun tidak melerai, malah menonton.
Perbuatan cabul itu pun dilakukan beberapa menit hingga jam istirahat habis. Usai melakukan perbuatannya, pelaku mengancam jika korban melaporkan.

https://www.merdeka.com/peristiwa/2-bocah-sd-di-bekasi-cabuli-temannya-di-toilet-sekolah.html

Bagaimana perasaan anda dan apa yang anda fikirkan?

Lepas dari peristiwa diatas, dalam beberapa bulan terakhir ini, beberapa teman teman dalam grup FB Parenting with Elly Risman and Family mengajukan pertanyaan tentang bullying dan berharap saya menulis tentang hal ini, karena mereka semakin kawatir terhadap anak anak mereka menghadapi situasi sekitar yang semakin tidak bersahabat dan nyaman bagi anak anaknya.

Apa itu Bullying?

Menurut Dan Olweus (www.Kidscape.Org.Uk), Bullying adalah:
Aktifitas berbentuk agresi/kekerasan dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental yang dilakukan secara berulang ulang.
Jadi perilaku bullying ini benar benar disadari oleh pelakunya. Mereka dengan sengaja melakukan kegiatannya untuk melukai & menanamkan ketakutan melalui ancaman dan menciptakan teror!

Masalahnya, pelaku ini usianya semakin muda demikian juga korbannya: 7 tahun. Kenyataan ini lah yang menggetarkan jiwa saya dan pastilah juga anda, sesama orang tua.

Yang mana anak kita?

Bullying hanya terjadi bila ada : 3 Peran dan 1 Tragedi.

Peran peran tersebut adalah : PELAKU KORBAN atau PENONTON yang untuk memudahkan dalam tulisan ini selanjutnya akan kita sebut sebagai PKP.

Pada umumnya banyak orang tua tidak langsung mengenali peran yang dilakukan oleh anak anaknya. Bahkan ketika anak menjadi korban sekalipun ada orang tua yang baru sadar anaknya jadi korban ketika kondisinya sudah sangat parah .Apalagi kalau anaknya cuma jadi PENONTON! yang tentunya sangat tidak mudah dikenali, terutama kalau komunikasi dalam keluarga terhambat, minimal tidak hangat dan tergesa gesa.. Padahal sesungguhnya masing-masing peran jika tidak diatasi, ada efeknya bukan hanya sekarang tapi juga jangka panjang!

Apa yang jadi penyebab anak bisa jadi P-K-P : Pelaku, Korban atau Penonton?
Pertumbuhan dan perkembangan kita sebagai anak manusia, kata ahli ditentukan oleh 20% faktor turunan dan 80% faktor Lingkungan.

Jadi apapun anak kita: P-K atau P bisa saja kan ada unsur turunannya baik dari garis kita maupun pasangan kita. Tapi yang lebih menentukan adalah yang 80% yang terdiri dari unsur : Keluarga, Media , Peer Group, Sekolah, dan Masyarakat.

Marilah kita urai sedikit dari masing masing aspek tersebut.

A. Keluarga :

Kajian yang kami lakukan dari berbagai sumber, menunjukkan bahwa banyak sekali penyebab datang dari sumber keluarga yang bisa kita jadikan cermin untuk berkaca dengan diri kita sendiri .

1. Ortu tidak siap jadi ortu, banyak masalah dari masa lalu sehngga dalam mengasuh tidak sengaja mengulang secara otomatis kebiasan ari pengasuhannya sendiri diwaktu kecil. Pengasuhan yang dilakukan tanpa ilmu yang memadai dan jarang dilakukan BERDUA suami istri. Umumnya anak disubkontrakkan ketangan orang lain yang notabene kurang segalagalanya diabndingkan dengan orang tuanya sendiri. Jadi sejak awal anak sudah memiliki berbagai bentuk kecemasan, kurang kelengketan, perhatian dan kasih sayang . Semua tergesa gesa. Masalah tak sempat teruraikan dan tertangani dengan seksama. Tahu tahu anak sudah harus bersekolah .

2. Umumnya ortu tidak sadar bahwa seharusnya mereka merumuskan dan menyepakati TUJUAN PENGASUHAN anak mereka sebagai penunjuk arah kemana anak ini akan dibawa dan anak yang bagaimana yang akan dihasilkan. Akibatnyamengasuh bagaimana lingkungan terdekat mengasuh anak mereka.. kita hanyut bersama arus yang deras… ber hape anak orang ber hape juga anak kita. Punya peralatan games anak orang begitu juga kita usahakan anak kita. Pengasuhan yang gak punya prinsip sama sekali!.

3. Komunikasi BURUK : tergesa-gesa & seadanya! Bagaimana bisa mengenali keunikan anak dan menyapanya, menyadari bahwa antara adik dan kakak saja berbeda tidak sempat. Itulah sebabnya kita tak peka terhadap bahasa tubuh yang ditunjukkan anak, tak sempat menebak dan mendengarkan perasaan mereka apalgi duduk membahasnya dengan dialog dari hati ke hati. Apa yang terjadi kalau kita bicara tak sengaja kita menggunakan apa yang kami sebut sebagai 12 Gaya Populer orang tua ngomong sama ,anaknya, yaitu:Memerintah, Menyalahkan, Meremehkan,Membandingkan, Mencap/label, Mengancam, Mencap, Meremehkan , Menasehati, Membohongi,Menghibur,Mengeritik, Menyindir & Menganalisa.
Kalau anda sebagai anak, apa kira kira perasaan anda kalau bertahun tahun orang tua anda berkomunikasi dengan anda seperti itu?

Kalau begitu anda bisa mencatat sekarang di hape anda: apa saja kemungkinan perasaan anak anda sekarang ini?
Nah semua uraian diatas, kira kira akan mendorong anak kita menjadi Pelaku, Korban atau Penonton? yang mana?.
Belum lagi pada kenyataannya perkawinan tidak semuanya berjalan mulus.
Situasi rumah ada yang penuh stres: pertengkaran, agresi dan permusuhan.
Hubungan antar saudara yang buruk, perlakuan tak patut terhadap tenaga penunjang RT dan berbagai hal lainnya.

Kita lupa bahwa anak anak belajar dari : Mendengar – Melihat – Merasa – Berbuat … baru Berfikir. Sesuai dengan tahapan perkembangan otaknya.

Dititik ini kita bisa menanyakan lagi pada diri sendiri apa yang terjadi dikeluarga memproduksi anak yang mana dari PK-P.

4. Pendidikan agama tidak dilakukan sendiri oleh orang tua, sehingga banyak sekali hal mendasar tentang keyakinan terhadap Allah, kecintaan pada Rasul dan Kitab sucinya tak terbentuk. Pembentukan akhlak, baik sesama manusia : Orang tua dan guru, teman dan yang lebih muda tak terajarkan dengan baik sesuai nash nya. Apalagi menyangkut akhlak dengan binatang dan isi alam lainnya ..Perbuatan baik, dan tidak baik, Syurga dan Neraka tak sempat dibahas, ibadah yang baik tak sempat dicontohkan. Hari habis dengan belajar, PeEr dan les2. Hari berganti Minggu, bulan dan Tahun dan Tahun.. tahu tahu anak pra remaja!

5. Umumnya orang tua tak menyiapkan anaknya memasuki baligh. Tidak tahu bahwa hal itu terjadi lebih cepat karena gizi dan rangsangan dari media. Mereka akan berkilah : ”Aduh..gak sangka cepat banget. Kirain masih setahun dua lagi?” Lha, emang persiapannya cuma seminggu?. Apa yang terjadi? anak ‘sexually active’ tanpa bekal sama sekali. Padahal hatinya padat dengan dendam kesumat dan berbagai perasaan negative, banyak beban yang dirasa menekan. Apa yang terjadi ?

Air laut saja tak bisa ditekan angin. Maka akan terjadi gelombang yang tinggi dan bergulung – menggulung apa saja di permukaannya . Kalau sampai menghempas pantai ,maka semua ditelannya !. Itu air, bagaimana dengan jiwa dan rasa manusia.

B. Media

Sudahlah begitu, dengan alasan cinta, kasian supaya nggak ketinggalan dari temannya, kita fasilitasi mereka dengan berbagai macam games, hape, atau lap top yang dengan itu mereka bisa mengakses atau bermain games. Kalau tidak sanggup ya kasih uang Rp 3000 – 5000 utk ke rental PS atau warnet. Luar biasa banyaknya games yang dimainkan anak yang sarat kekerasan. Tidak pantas kalau saya berikan contoh2 games tersebut disini. Tapi kalau dalam seminar tentang ‘Bullying’ dan ‘Kecanduan Games’ , ini saya bahas dengan cermat. Yang saya ingin jelaskan adalah karena banyak dan lamnya anak bermain games itu membuat mereka tidak bisa lagi membedakan mana:” realitas dunia maya mana reakitas dunia nyata”. Mereka melakukan apa yang mereka nikmati di bunia maya ke dunia nyata. Nonjok dan nendang terus. Mengapa? Karena kalau dalam permainan seperti smack down akan ada tanda “bip” dipojok atas yang menunjukkan warna. Kalau kuning tonjokan hanya : bahaya. Tapi kalu merah berarti pendarahan dalam. Penonoto dalam games gak boleh dan gak bisa menolong, dia hanya menyaksikan saja. Ingat kasus anak perempuan yang dianiaya dalam kelas di Bukit tinggi yang sangat viral? Mengapa teman lain dalam kelas itu tidak menolong, karena begitulah dalam permainannya. Ini baru satu media. Kalau kita bahas yang lain , tulisan ini harus berseri… Jadi ..kita sedang memproduksi anak yang mana ? P-K atau P?

C. Peer Group

Selain belajar dari rumahnya, anak tentu belajar dari teman temannya terutama dilingkungan rumah dan disekolah. Tentu anda semua bukan saja sudah paham dengan ini bahkan banyak yang anaknya telah mengalami pengaruh dan perlakuan buruk ini. Karenanya tidak perlu saya bahas lenih lanjut.

D. Beratnya beban pelajaran di SEKOLAH

Bayangkan datang dari keluarga seperti itu, anak menghadapi pula beban berat sekolah, terutama kalau mereka baru 6 th sudah duduk di SD kelas 1. Aduhai berarti sejak usia 5 sudah les calistung dong. Anda sebagai ibu yang mendampingi anaknya belajar pasti tahu “berat”nya pelajaran sekarang!
Jam pelajaran yg jauh lebih panjang dari jam belajar anda dahulu.Belim lagi ada sekolah yang masih membebani anak dengan PR dan Les. Kadang kadang dari sekolah tak ada Pe Er, eh ortunya mewajibkan anaknya les macam2 dan umumnya LES MATA PELAJARAN lagi…Kawatir tidak sukses dimasa depan dari sekarang bikin anaknya , kalau kue : ‘bantat’ duluan – bagaimana mau mekar dan suka atau cinta belajar?.
Lha ini anak siapa ya ? Bisa dan punya hak serta berani tidak ya anak ini, mengatakan: Tidak, kasih alasan atau melawan?. Harus patuh kan ? Jadi perasaannya bagaimana ? Belum kalau ada pula perlakuan guru yang kurang patut bahkan ‘nakal’. Jadi apa anak kita? Kita sedang mencetak yang mana ? : PK-atau P?

E. Masyarakat

Tidak usahlah jauh jauh. Berita TV saja. Banyak orang tidak terpikirkan bertahun tahun pemberitaan dan pembahasan tentang kejahatan dan tindak korupsi yang dilakukan mentri, pimpinan partai, anggota dewan, pejabat daerah, berbagai lapisan penegak hukum, tokoh masyarakat, artis dan lain lain berakibat apa pada jiwa anak anak kita. Jangan bilang anak kita tidak menyaksikan apa yang terjadi pada sidang paripurna di dewan yang terhormat. Mana orang tua yang mau duduk dan menjelaskan dengan baik baik semua fenomena ini? Abis waktu dengan peer2 dan les2. Tidakkah kita bertanya pada diri sendiri :’Apa yang dipelajari anakku dari semua ini?” Apa kontribusi semua yang terjadi dimasayarakat kita terhadap perilaku anak kita? membentuk mereka jadi P-K atau P?

Jenis – Jenis Bullying

Ada 6 jenis Bullying yaitu :
1. FAMILY BULLYING
2. SCHOOL BULLYING (Didalam maupun diluar sekolah )
3. BOARDING BULLYING
4. CYBER BULLYING
5. SEXUAL BULLYING
6. BULLYCIDE – BULLY ‘TILL SUICIDE ( Bully sampai bunuh diri!)

Anda tidak lupa khan sudah banyak anak kita baik yang terbunuh disekolahnya atau diluar sekolah hampir setiap tahun ajaran baru? Dan mereka yang bunuh diri karena di bully seperti yang terakhir terjadi di Pakan Baru, yang dilakukan anak SMA karena tidak tahan diejek ayahnya mengalami gangguan jiwa.

Jadi bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan ?

Inilah mengapa sulit sekali bagi saya menjawab pertanyaan di grup ini bagaimana menghindari anak kita agar tidak jadi korban . Pertanyaan ini menunjukkan bahwa si penanya:

1. Tidak punya perkiraan atau mungkin tidak mengetahui bahwa anaknya bukan hanya bisa jadi Korban tetapi juga berpotensi juga jadi Pelaku atau Penonton.

2. Tidak mudah untuk menguraikan dalam satu dua kalimat apa yang saja yang menjadi penyebab berbagai jenis bullying ini seperti yang saya jelaskan diatas,khan?

Langkah sederhana yang saya sarankan segera bisa anda lakukan adalah sebagai berikut :

a. Menyelamlah kedalam Diri & Mengembaralah ke masa lalu, lihat apa yang terjadi pada diri anda, dan

b. Selesaikan urusan dengan diri sendiri dan bantu selesaikan urusan masa lalu pasangan anda!

c. Sepakati : Pengasuhan berdua – Dual parenting

d. Rumuskan ulang Tujuan pengasuhan dan sepakati.
Jalankan- Evaluasi dan perbaiki . Mengasuh harus punya prinsip. Jangan jadi orang kebanyakan!

e. Pulangkan ayah kerumahnya dan jadikan dia pemimpin yang memegang komando pendidikan agama anak anaknya . Ayah harus ingat benar bahwa beliaulah akan mempertanggung jawabkan iman dan akhlak istri dan anaknya di Mahkamah Allah nanti. Ini juga yang mengharuskan kita merubah dan memperbaiki pola pengasuhan anak laki laki kita.

f. Persiapkan anak untuk Baligh. Jangan lupa, bila anak sudah baligh berarti dia sudah Mukallaf: berlaku hukum yang ditentukan Allah atas dirinya dan berarti mereka dewasa muda bukan REMAJA!. Maka untuk itu apakah cukup persiapannya hanya seminggu?

g. Siapkan anak untuk bijak berteknologi. Anda jangan jadi ortu yang latah memberikan perangkat teknologi karena orang lain melakukannya pada anaknya. Malulah kalaujadi orang tua yang malas, cari gampang: agar bisa melanjutkan berkomunikasi dengan teman dan melakukan pekerjaan lainnya kasih saja hape sama anak. Belikan games biar dia asyik jadi anda tidak terganggu.

Mereka bukan saja melihat, belajar dan meniru kekerasan tetapi juga pornografi. Tidakkah sangat mungkin mereka pada usia 7 tahun melakukan sexual bullying seperti dilakukan anak SD kelas 2 di Bekasi yang sudah kita singgung diatas? Selain itu anak itu akan sangat mungkin mengalami disfungsi otak bagian depan karena pornografi yang sudah pasti merusak kemampuan mengendalikan diri,sehingga bisa bertingkah laku seperti binatang . Kalau diumpamakan mobil “REMnya BLONG”

Sungguh hidup adalah pilihan, kita punya hak sepenuhnya untuk melakukan pilihan tapi juga yang harus berani menanggungkan dan menjalani konsekuensinya.
Begitu dululah pembahasan kita tentang Bullying, Insha Allah kalau ada umur dan kesempatan akan kita sambung dilain waktu tentang bagaimana mengenali tanda tanda apakah anak kita Pelaku, Korban atau Penonton apa dampaknya dan bagaimana tipsnya mengatasi Bullying dan menjadi sahabat anak menghadapi Bullying.
Saling doa ya

Maafkan bila ada kekurangan dan kalau bermanfaat silahkan share tak perlu minta izin.

Bekasi , 18 September 2017

#Parentingeradigital

Melatih Anak Berdagang

🍓🍎🍐 Cemilan Rabu #8.1 🥝🍉🥑

⚖ *Melatih Anak Berdagang* ⚖

Perhatian Rasulullah dalam membentuk anak dalam hal sosial maupun ekonomi terlihat jelas dalam bimbingan beliau. Sebab kegiatan berdagang akan memberikan gerakan sosial kemasyarakatan yang kuat pada anak.

Manfaatnya bagi anak,
🌷Anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya
🌷Membiasakan diri terus berkembang
🌷Memanfaatkan waktu untuk hal-hal berguna
🌷 Memperoleh kepercayaan diri
🌷 Belajar bersusah payah, terbiasa memberi dan menerima serta memahami kehidupan dengan baik dan benar.

Rasulullah bahkan mendoakan anak kecil agar Allah memberikan berkah dalam usahanya untuk berdagang. Abu Ya’la dan Tabrani meriwayatkan dari Amru Bin Hutais bahwa “Rasulullah melewati Abdullah Bin Ja’far yang ketika itu sedang melakukan transaksi jual beli dengan anak-anak yang lain. Lalu berdoa,

_”Ya Allah, berkahilah transaksi jual belinya.”_

Anak yang mulia ini adalah anak dari paman Rasulullah. Rasulullah tidak merasa malu, namun justru mendoakan keberkahan untuknya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Nasional/

📚Sumber bacaan:
(Cara Nabi Mendidik Anak, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, 2013)

Tantangan 10 Hari Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Tantangan 10 Hari
Level #8

Periode 14 – 30 September 2017

MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI

Memahamkan anak-anak bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, itu dimulai dari ibu. Termasuk pengelolaan uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan juga dimulai dari ibu.

Yuk bertumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggungjawab terhadap bagian rejeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

🎎Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak:

👶Anak usia dini (<7th)

Buatlah proyek pengenalan menabung, proses menabung dan membelanjakan tabungan. Perkuat bahwa semua rejeki berasal dari Allah. Ceritakan pengalaman bunda dalam mengenalkan konsep rejeki pada si kecil melalui tulisan dan atau foto.

👦Usia pra baligh (7-14th)

Jika anak mulai mengerti uang/ memasuki usia SD ajarkan anak untuk mulai memilah antara keinginan dan kebutuhan. Buatlah tabel keuangan sederhana dan dampingi anak saat melakukan pencatatan. Ceritakan pengalaman bunda dan ananda dalam pengelolaan keuangan ananda. Bunda juga bisa membuat proyek sederhana untuk memperkuat konsep kepemilikan dan pengelolaan uang bagi ananda.

👱Usia baligh (>14 tahun)
Jika anak sudah baligh atau sudah mulai mempunyai mimpi ajak anak menuliskan vision board dan mewujudkan mimpinya dengan membuat financial planning. Dampingi dan beri semangat dalam menjalankan strategi dalam mendapatkan dan mengelola keuangan. Bunda juga dapat menyertakan ananda dalam pengelolaan keuangan keluarga sebagai bagian pembelajaran bersama.

👩Bagi yang sudah menikah belum memiliki anak serta bagi yang belum menikah:
Ceritakan pengalaman anda dalam mengelola keuangan. Catatlah proses belajar membuat pencatatan keuangan dan membaginya ke dalam kantong belanja, infaq, dan tabungan. Identifikasi catatan keuangan Anda apakah sudah baik, perlu review ulang ataupun ada bocor halus dalam pengelolaannya.

💻 Bagi anda yang menggunakan blog, gunakan label:

Ibu Profesional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

🖥 Gunakan hashtag berikut saat pengumpulan tugas:

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Setorkan tugas anda dengan menggunakan link berikut:

http://bit.ly/LinkLevel8

Latih – percayakan – jalani – supervisi – latih lagi

Membahasakan yang Kita Lihat

*Rangkuman Materi MOS #1*
– Kang Wicak –

*_”Membahasakan yang kita lihat”_*
Berhubung saya fotografer, saya ambil dari beberapa sisi aja ya 😀

Anggep aja yg kita lihat itu akan kita ambil foto/videonya, ada kaidah yang paling basic kalo kita mau membahasakan.
Btw, membahasakan ini kalo buat temen temen fotografer namanya caption, caption ini bisa banyak bentuknya.

Bentuk caption paling gampang itu pakai kaidah
*5W 1H*
_What, When, Where, Who, Why dan How_

1⃣ When, kapan kita ambil fotonya, jangan sampe boong, misal kita ambil fotonya setahun yang lalu, terus kita posting fotonya sekarang, terus dikasih caption “yesterday is so berbunga-bunga”

2⃣ Where, dimana kita ambil fotonya, misal di depan rumah atau di ciwidey bandung, jangan nulis ciwidey tapi fotonya di bunderan HI kan ketauan boongnya 😁

3⃣ Who, siapa/apa objek foto kita

4⃣ Why, kenapa terjadi peristiwa yg mau kita tulis

5⃣ What, apa yang mau kita tulis ttg objek foto kita

6⃣ How, gimana sih terjadinya foto kita

_______ 📝 _______

Untuk membuat tulisan yg lebih menarik, kita bisa tambahin hal-hal lainnya. Kalo saya biasanya suka searching di google ato baca buku untuk referensi tambahan tulisan untuk foto saya.

Misalnya gambar Sempol.
Caption/tulisannya bisa seperti ini:

Jajanan kaki lima ini sedang ngehits di kalangan anak-anak muda. Terbuat dari adonan tepung dan ayam yang dililitkan pada tusukan sate kemudian digoreng setelah sebelumnya dilumuri telur. Hampir sama dengan cilok, dimakan dengan saos bumbu kacang atau sambal.
Namanya Sempol, merujuk nama desa di Malang sana. Hal ini menambah daftar banyaknya kuliner khas malang yang menginvasi daerah sekitarnya setelah Bakwan Kawi, Bakso Bakar, dan yang lainnya.
Sempol sekarang bukan hanya milik warga desa Sempol karena sudah merebut hati banyak orang. Jika awalnya dijual kaki lima dengan gerobak, kemarin ketika ke FKY ada yang jualan sempol dengan gerobak yang dikemas menarik khas makanan franchise dan layak mejeng di mall-mall. Ada juga yang melayani COD seperti yang ada di gambar ini. Ini bukan promosi tapi kalau berminat japri aja. Hitung-hitung nglarisi temen sendiri. Hla, ngalirisi temen kok masih pake hitung-hitung.
_________

Kita searching sempol di google, dapet banyak referensi, kita masukin ke tulisan kita biar captionnya ga cuman
“Lagi makan sempol di depan rumah”
😁

Atau kita punya captionnya begini:

ETIKA PUBLIKASI FOTO DALAM KONTEKS FENOMENA AKHIR-AKHIR INI

Dalam etika fotografi jurnalistik kita tidak diperkenankan menampilkan foto kategori disturbing pictures.

Foto yang memuat adegan kekerasan, luka menganga dan darah harus dihindari karena tidak semua orang mampu melihat hal itu.

Mungkin ini hanya etika yang berlaku bagi jurnalis tapi sebagai sebuah etika hal ini bisa meluas mengingat sekarang teknologi mengubah siapapun bisa menjadi citizen journalist. Bermodal gadget yang dimiliki dan berbagai social media yang ada seseorang dengan mudahnya bisa jeprat-jepret lalu share ke socmed.

Setidaknya ada tiga fenomena akhir-akhir ini dimana etika publikasi foto ini perlu ditegakkan.

Yang pertama, tentu saja genosida di Rohingnya.

Foto dan video kekejaman militer Myanmar terhadap etnis Rohingnya benar-benar menyesakkan dada. Banyak beredar foto-foto pembantaian mengerikan sekaligus berdarah yang menimbulkan iba mendalam.

Foto-foto ini memang bisa menyulut empati tapi tidak semua orang mampu melihat darah berceceran atau usus teburai.

Kemudian pemotongan hewan qurban. Meskipun banyak ahli yang mengungkapkan menyembelih hewan adalah cara terbaik untuk membunuh tapi tetap saja banyak orang yang tidak tega melihat proses penyembelihan.

Media-media banyak menghindari prosesi penyembelihan hewan qurban. Ada yang mengakali dengan memblur gambar yang termasuk disturbing pictures.

Yang terakhir adalah, pernikahan Raisa. Meskipun mereka berdua bahagia tetapi tetap saja ada orang-orang yang tidak mampu melihatnya dan memilih menangis di atas kebahagiaan mempelai berdua.

Jadi, tolong kalau mau share foto pernikahan Raisa diblur saja. 😁

_______ 📝 _______

Kaidah yg membantu kita menulis sudah ada, namun kita juga tidak perlu terpaku dgn kaidah2 yg ada, mengalir aja, krn perbendaharaan kata bakal muncul kalo kita sering baca buku (bukan baca google yak), semakin banyak baca buku, yakinlah semakin bermutu tulisannya.

😄👍🏼

Profil Mentor Online Swag
Nama : Hermawan Wicaksono
Panggilan : *Kang Wicak*
Hobby : Backpacker
Aktivitas : Fotografer & Videografer
Akun Medsos :
Twitter @sayawicakz
Ig @wicakz
Fb wicak yuhuuu

*Founder komunitas toekangpoto indonesia*

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang sesi #8_

MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI

*_Apa itu Cerdas Finansial?_*

Menurut para ahli cerdas finansial adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan.

Apabila disesuaikan dengan konsep di Ibu Profesional bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar bertanggungjawab terhadap bagian rejeki yang kita dapatkan di dalam kehidupan ini.

*_Apa pentingnya cerdas finansial ini bagi anak-anak?_*

Di dalam Ibu Profesional kita memahami satu prinsip dasar dalam hal rejeki yaitu,

_Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari_

Ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita perlu menstimulus kecerdasan finansialnya agar :

_Kemuliaan Anak Meningkat_

dengan cara :

a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut.

b. Anak bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan sendiri.

c. Anak terbiasa merencanakan (membuat budget) berdasarkan skala prioritas.

d. Anak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

e. Anak memiliki rasa percaya diri dengan pilihan “gaya hidup” sesuai dengan fitrahnya, tidak terpengaruh dengan gaya hidup orang lain.

f. Anak paham dan punya pilihan hidup untuk menjadi employee, self employee, bussiness owner atau investor.

_Bagaimana Cara Menstimulus Cerdas Finansial pada Anak_?”

1.Anak-anak perlu dipahamkan terlebih dahulu bahwa rejeki itu datang dari Sang Maha Pemberi Rejeki, sangat luas dan banyak, uang/gaji orangtua itu hanya sebagian kecil dari rejeki.

Sehingga jangan batasi mimpi anak, dengan kadar rejeki orangtuanya saat ini.

_Karena sejatinya Anak-anak adalah milik Dia Yang Maha Kaya, bukan milik kita_

Sehingga kalau akan minta sesuatu yang diperlukan anak, mimpi sesuatu, mintalah ke Dia Yang Maha Kaya, bukan ke manusia, meski itu orangtuanya.

2. Ajak anak berdialog tentang arti KEBUTUHAN dan KEINGINAN

Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda

Keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda.

Bantu anak-anak membuat skala prioritas kebutuhan hidupnya berdasarkan dua hal tersebut di atas.

3. Setelah paham dengan prioritas kebutuhan hidupnya, maka latih anak untuk membuat “mini budget”, sebagai bentuk latihan merencanakan berdasarkan skala prioriitas

Mini budget ini bisa dibuat 3 harian, 1 minggu atau 1 bulan bergantung pada kemampuan dan usia anak.

Dengan adanya mini budget ini anak akan berkomitmen untuk mematuhi apa yang sudah disepakati, kemudian bertanggung jawab menerima konsekuensi apapun atas kesepakatan yang sudah dibuatnya

4. Anak dilatih mengelola pendapatan berdasarkan ketentuan yang diyakini oleh keluarga kita.

Contoh : Apabila mini budget sudah disetujui oleh orangtua, dana sudah keluar, anak-anak akan belajar memakai ketentuan yang sudah disepakati keluarga misal kita ambil contoh sbb:

Hak Allah : 2,5 – 10% pendapatan
Hak orang lain : max 30% pendapatan
Hak masa depan : min 20% pendapatan
Hak diri sendiri : 40-60% pendapatan

5. Lakukan apresiasi setiap anak menceritakan bagaimana dia menjalankan mini budget sesuai kesepakatan.

Latih lagi anak-anak untuk membuat mini budget berikutnya dengan lebih baik.

Prinsipnya adalah : Latih – percayai-jalani-supervisi-latih lagi.

Ingat sekali lagi prinsip di Ibu Profesional

_for things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST_

Apabila kita menginginkan perubahan maka mulailah dari diri kita terlebih dahulu.

Maka sejatinya materi ini adalah proses kita sebagai orangtua agar cerdas finansial dengan cara _learning by teaching_ belajar mengajar bersama anak-anak. Jadi yang utama harus belajar tentang cerdas finansial ini adalah kita, orangtuanya, kemudian pandu kecerdasan finansial anak-anak kita sesuai tahapan umurnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber bacaan

_Ahmad Gozali, Cashflow for muslim, 2016_

_Septi Peni Wulandani, Mendidik Anak Cerdas Finansial, bunda sayang, 2015_

_Eko P Pratomo, Cerdas Finansial, artikel Kontan, 2015_

Cemilan Rabu : Semua Anak adalah Bintang

🍯 *Cemilan Rabu* 🍯
*Materi 7 : Semua Anak adalah Bintang*

Apa yang ada dibenak kita saat mendengar nama “Hellen Keller”?

Helen sebenarnya tidak terlahir buta dan tuli (sekaligus bisu), hingga saat usianya 19 bulan keterbatasan tersebut datang.
Bagaimana dengan masa depannya? Ia lulus dengan gelar magna cum laude, menjadi orang buta pertama yang lulus dari universitas. Ia juga menjadi pembicara, penulis dan aktivis kemanusiaan yang terkenal di dunia.
Helen bisa melakukan banyak hal dibandingkan dengan orang-orang yang justru bisa melihat dan mendengar. Gadis yang seolah terputus dari dunia dan seisinya, bisa melakukan banyak hal!

Dibalik kesuksesan tersebut, tentu ada proses tak mudah yang telah dilaluinya. Selain kesungguhan dari dirinya, ada orang-orang “dibalik layar” yang mendukung tapak langkah kakinya menemukan “dirinya” dan potensinya. Mereka adalah keluarga dan gurunya.

Helen Keller adalah satu dari sekian banyak orang yang mampu meninggikan gunung, bukan meratakan lembah. _”Everybody is a genius. But, if you judge a fish by its ability to climb a tree it will live its whole life believing that it is stupid”_. (Albert Einstein)

Sungguh, semua anak adalah bintang. Sepenggal kisah dan tulisan diatas untuk mengingatkan dan menguatkan kita, orang tua, agar membersamai anak-anak kita untuk menemukan potensi unik dalam diri mereka, memfasilitasi mereka agar bisa menjadi cahaya bagi peradaban, serta menjadi pribadi mulia yang tunduk kepada Tuhannya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

Sumber:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller