Waspada Cross Hijaber

Belakangan ini sedang heboh adanya fenomena cross hijaber. Bagi yang belum tahu, cross hijaber adalah sosok laki-laki yang mengenakan busana muslimah lalu tampil di depan umum. Busana muslimah ini meliputi gamis, hijab syar’i, lengkap dengan cadar.

Yang sangat meresahkan, mereka bahkan sudah berani masuk ke area khusus perempuan seperti toilet bahkan musala. Fenomena ini menjadi viral setelah muncul jejak digital mereka yang tanpa ragu dan malu memposting aksi-aksi tersebut di media sosial komunitas mereka yang telah memiliki seribu lebih pengikut.

Cross Hijaber adalah Gangguan Perilaku?

Menurut fakta di lapangan, ada beberapa motif seseorang menjadi cross hijaber. Ada yang mencari perhatian agar viral, ada yang hendak melakukan tindak kriminal, ada pula yang memang mengalami gangguan perilaku seksual.

Psikolog klinis Personal Growth, Ni Made Diah Ayu Anggreni, seperti yang tertulis di portal berita CNN menyatakan, gangguan perilaku seksual yang membuat seseorang berpakaian atau mengenakan aksesori yang berlawanan dengan jenis kelaminnya untuk tujuan tertentu disebut dengan transvestisme.

Untuk mengetahui motif seseorang menjadi cross hijaber tentu perlu pemeriksaan lebih lanjut supaya bisa dilakukan penanganan yang tepat. Jika memang ada indikasi menderita transvestisme, maka harus mendapatkan perawatan kejiwaan secara intensif oleh para ahli.

Larangan Menyerupai Lawan Jenis

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran:36 yang artinya,

“Laki-laki tidaklah seperti perempuan.”

Untuk menjaga perbedaan antara laki-laki dan perempuan, maka agama Islam melarang dengan keras sikap dan perilaku laki-laki yang menyerupai perempuan, atau sebaliknya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam salah satu hadits nabi yang artinya,

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahuanhuma, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al- Bukhari No. 5885)

Seorang laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan berarti telah menyalahi kodratnya. Dan di dalam Islam aturan tentang ini sudah sangat jelas. Apalagi perbuatan yang terkena laknat Allah atau Rasul-Nya merupakan dosa besar.

Na’udzubillahimindzalik

Menurut saya pribadi,

Tidak ada asap tanpa api

Para pelaku cross hijaber (apapun motif yang melatarbelakanginya) yang telah melewati garis batas kodrat mereka dan berani menunjukkan eksistensinya sekarang adalah akibat dari masyarakat yang selama ini lengah menganggap laki-laki berdandan seperti layaknya perempuan itu adalah sesuatu yang menghibur dan biasa saja.

Fakta kemunculan fenomena ini jelas menunjukkan sebuah anomali (penyimpangan) yang berpotensi memicu konflik dan layak diwaspadai. Apalagi ini menyangkut citra muslimah dan jelas merugikan perempuan. Perempuan tidak lagi merasa aman dan nyaman beraktifitas di ruang publik bahkan di dalam area privasi.

Sampai sini, masih menganggap laki-laki berdandan seperti perempuan itu lucu?

Sumber:

https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191014184604-284-439435/psikolog-crosshijaber-terkait-gangguan-perilaku-seksual

https://almanhaj.or.id/7309-larangan-menyerupai-lawan-jenis.html

https://tirto.id/crosshijaber-instagram-viral-bagaimana-terjadi-ejGX

Manusia yang Tidak Pernah Lupa

Tidak pernah lupa itu enak atau malah menakutkan?

Pernahkah membayangkan menjadi orang yang tidak pernah lupa?

Yang mana berarti kita akan mengingat semua detail kejadian, hal-hal yang menyenangkan, menyakitkan, segala trauma, orang-orang, mantan … #uhuk

Pada umumnya, manusia punya lupa, eh, tapi ada, lho, ternyata orang-orang yang tidak pernah lupa.

Salah satunya adalah Rebecca Sharrock.

Seorang perempuan yang berasal dari Australia dan merupakan salah satu dari 60 orang yang tidak pernah lupa. Rebecca dan orang-orang yang tidak pernah lupa ini mengalami sebuah kondisi misterius yang disebut dengan Highly Superior Autobiographical Memory (HSAM).

Ada yang istimewa dengan Rebecca. Jika pemilik kondisi HSAM yang lain mengingat setiap detail kejadian sejak berumur 10-14 tahun, Rebecca bahkan mengingat peristiwa yang dia alami ketika masih berumur beberapa hari. Amazing! MasyaAllah…

Rebecca mengingat bahan gaun yang membuat dia gatal lalu menangis di pesta ulang tahun pertamanya. Di hari itu juga dia ketakutan setelah melihat wajah boneka Minnie Mouse, kado dari orang tuanya.

Tidak hanya peristiwa, Rebecca mampu menghafal semua kata yang dia baca. Hal ini pernah dibuktikannya di dalam acara 60 Minutes, di mana dia menghafal semua kata di dalam novel Harry Potter.

Saat ini Rebecca sedang menulis sebuah buku biografi tentang diri dan detail ingatannya yang luar biasa yang dia beri judul ‘My Life is a Puzzle’.

Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Semua ciptaan Allah memiliki tujuan dan arti kehadirannya di dunia ini. Seperti Rebecca. University of California di Amerika Serikat dan University of Queensland di Australia melibatkan Rebecca dalam penelitian untuk mencari tahu kerja memori otak sebagai upaya menemukan penyebab dan penyembuh penyakit pikun seperti demensia atau Alzheimer.

Sumber:

https://m.kumparan.com/@kumparannews/rebecca-sharrock-wanita-yang-tidak-pernah-lupa

Jingga Bukan Hanya Milik Senja

Jingga bukan hanya milik senja. Pagi juga.

Aku heran. Kenapa banyak manusia mengagumi jingga pada senja. Padahal setelah itu, langit hitam pekat. Kalaupun ada bintang, paling hanya beberapa. Sinar bulan juga tak mampu menerangi bumi layaknya matahari. Jadi apa sebenarnya yang indah dari kegelapan?

Manusia itu aneh.

Malam selalu identik dengan kejahatan. Pencuri beraksi pada malam hari. Oke, zaman sekarang kejahatan juga bisa terjadi pada siang hari, tapi jarang. Jumlah kasus di malam hari tetap mendominasi.

Malam adalah waktu manusia tidur, waktu yang paling tidak produktif sepanjang hari. Yang begadang banyak, tapi sering kujumpai bukan dalam hal yang baik. Mereka membuang waktu dengan bersenang-senang, tertawa riang tapi tak menghasilkan apa-apa.

Manusia-manusia itu tidak sadar telah membuang-buang waktu mereka. Percuma.

Kalau aku?

Oh, aku suka pagi. Aku selalu jatuh cinta dengan jingga di pagi hari. Semburatnya di langit mengantar matahari keluar dari peraduan. Begitu indah. Manusia seharusnya ikut menyaksikan. Tapi mereka malah masih terlelap dan bermalas-malasan.

Sudah kubilang, kan, manusia itu aneh.

Setiap pagi adalah semangat baru memulai hari. Bagiku. Dan bagi beberapa manusia juga. Hanya sayang, tidak sepertiku, kesibukan tak mampu membuat mereka menikmati guratan jingga di pagi hari. Mereka terlalu tenggelam dalam rutinitas yang seolah tiada henti.

Sayang sekali.

Aku selalu setia menunggu pagi. Saat fajar itu terlihat mata, aku akan langsung lantang bersuara. Manusia menyebutnya dengan berkokok.

Datang Bulan Tanpa Drama

Kenapa emosi perempuan mendadak labil saat datang bulan?

Salah satu penyebabnya adalah karena ketidakseimbangan hormon dan senyawa kimia otak yang berhubungan dengan pengaturan suasana hati.

Selain itu gejala fisik perempuan saat sedang datang bulan yang antara lain seperti kram perut, pusing, lemas, mudah lelah juga memiliki kontribusi terhadap gejolak emosi.

Suka atau tidak, pengaruh hormon tidak akan lepas dari kehidupan kita, para perempuan. Meski begitu, kita bisa mencegah hormon mengontrol dan menguasai seluruh aspek kehidupan kita.

Bagaimana cara mengendalikannya?

Istirahat yang cukup. Perbaiki pola tidur malam.

Olahraga. Saat melakukan olahraga, tubuh akan mengeluarkan hormon endorphin, hormon ini memiliki peran membantu mengurangi rasa sakit, penenang, dan memicu perasaan positif.

Minum banyak cairan, seperti air atau jus. Hindari soda, kafein dan sejenisnya.

Makan dengan gizi seimbang. Datang bulan biasanya diikuti dengan susah BAB, perbanyak sayur, buah dan makanan berserat lainnya.

Tidak ada salahnya minum suplemen vitamin atau penambah darah.

Manjakan diri sendiri. Pergi ke salon untuk hair spa, facial, manicure-pedicure bisa menjadi pilihan. Atau sekedar menikmati coklat, ice cream sambil membaca buku favorit.

Selamat mencoba dan sambut datang bulan dengan senyum mengembang bahagia.

Sumber:

https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/mengatasi-mood-swing-saat-menstruasi/

https://www.fimela.com/parenting/read/3883237/begini-cara-atasi-mood-swing-saat-pms

Why Finding Your “Why” is So Important?

Melakukan segala sesuatu tidak hanya berpatokan pada bahagia atau tidak bahagia saat melakukannya. Toh, mau diakui atau tidak, ada banyak hal di dunia ini yang kita lakukan dengan terpaksa.

Bisa awalnya terpaksa, lama-lama jadi terbiasa dan akhirnya suka.

Atau awalnya terpaksa, terbiasa dan pada akhirnya tetap merasa terpaksa hehehe

Ya itulah, dalam hidup kita disuguhkan dengan banyak pilihan, tapi tidak semua pilihan membuat kita bahagia. Istilah kerennya konsekuensi logis. Mau pintar masak, ya harus banyak belajar. Padahal tidak semua orang suka berkutat di dapur. Baiklah, zaman sekarang, sih, bisa order Go Food (maaf sebut merek), tapi ya skill memasak meskipun tidak harus selevel Mas Rudi (Mas Rudi apa kabarrrr? Ketahuan generasinya! Haha), minimal harus bisalah menanak nasi, menggoreng tempe, memasak sayur sop, dan yang receh-receh lainnya. Masa iya order terus. Kan tidak baik untuk stabilitas perekonomian keluarga.

Mau masuk surga? Ya harus bertakwa. Lalu, apakah semua ibadah yang Allah perintahkan sanggup kita lakukan dengan penuh suka cita?!

Apakah larangan yang harus kita tinggalkan tidak enak semua? Tidak membuat bahagia?

Exactly!

Disitulah letak perjuangannya.

In order to get something BIG, you have to be brave enough to conquer your ‘fear’.

‘Fear’ di sini bisa dimaknai dengan keengganan atau ketidakbahagiaan.

Anyway, just like written in the headline …

Why finding your “why” is so important?

Sehubungan dengan tidak semua hal kita lakukan dengan bahagia, dan memang tidak perlu-perlu amat, kita harus menemukan alasan kenapa mau atau harus melakukannya.

Maksudnya gimana, sih?

Begini, seperti contoh di atas, tidak punya passion di bidang boga, tapi setiap hari harus masak, bete gak kira-kira?

Tapi, saat kita menemukan alasan kenapa harus masak, berkhidmat kepada suami, memastikan anak-anak tidak kekurangan gizi, masyaAllah tabarakallah, bernilai ibadah, mendapat pahala.

Tidak ada aturan yang memastikan kita harus suka, kan?

Contoh kedua, rajin salat tahajud biar apa?

Karena hobi? Belum pernah dengar, sih, ada orang punya hobi salat tahajud. Biasanya hobi itu jalan-jalan, wisata kuliner, dsb.

Sampai di sini, you already get my point, right?!

Sometimes it’s easy to lose sight of “why” you do the things that you do. I think the why behind your actions is so important to remember. Why?

1. It motivates you and give you purpose

2. It helps you in decision making

3. It drives you when times get tough

Unsur “kenapa” inilah yang membuat kita on track. Hal-hal yang terpaksa kita melakukannya karena memang kita harus melakukannya. Karena hal itu BAIK, PENTING, dan pastikan bernilai IBADAH.

Last but not least,

When you feel like quitting, remember why you started.

Salam super!

Takut yang Terlarang

Bismillah …

Fear is not real. It is the product of thoughts you create. Danger is very real, but fear is a choice.

Setuju dengan kalimat di atas?

Apakah kita selalu punya kuasa dalam mengontrol takut yang kita rasakan?


Bukan hanya emosi yang normal, rasa takut merupakan emosi yang esensial.

Kenapa?

Karena orang yang tidak punya rasa takut justru berada dalam bahaya yang serius. Rasa takut adalah sebuah mekanisme mendasar untuk mempertahankan atau melindungi diri sendiri.

Oke, sampai di sini jelas, ya. Rasa takut itu normal. Rasa takut itu perlu.

Semua orang normal tentu pernah mengalami rasa takut. Sebabnya bisa bermacam-macam.

Dari yang saya baca, ternyata di dalam Islam, ada dua macam rasa takut.

1. Takut yang Bernilai Ibadah

Rasa takut hanya kepada Allah yang disertai dengan ketundukan dan pengagungan kepada Allah. Takut ini diperbolehkan.

2. Takut yang Tergolong Syirik.

Takut pada makhluk, baik jin atau manusia, dan beranggapan bahwa mereka bisa mendatangkan kemudharatan. Takut ini jelas dilarang.

Dalam Islam perasaan takut disebut dengan khauf. Khauf apabila ditujukan hanya kepada Allah semata, maka termasuk ke dalam amal ibadah.

Kembali ke kutipan di awal tulisan ini dan pertanyaan yang muncul kemudian,

Apakah kita selalu punya kuasa dalam mengontrol takut yang kita rasakan?

Well, we have to prove it by ourselves. At least we have to try.

Jika bisa memilih, maka pilihlah yang bernilai ibadah.

Sesederhana itu, ya.

Sumber:

https://muslimah.or.id/8765-kapankah-rasa-takut-itu-dilarang.html

https://muslim.or.id/37511-macam-macam-rasa-takut-dalam-pelajaran-tauhid.html

Senja Bersama Ayah

Malang, 1997

Kaca jendela sedikit kuturunkan agar bisa menikmati semilir angin dan segarnya udara. Seberkas sinar mentari masuk melalui sela jendela. Bisa kurasakan hawa hangatnya menerpa wajah.

Kupandangi lukisan langit senja, warna yang teduh berwarna jingga.

Aku duduk di samping ayah, menyelam dalam imajinasi diiringi dengan alunan lagu favorit menggunakan walkman. Suasana yang terasa sangat damai dan menentramkan membuat ayah betah membawa kendaraan melaju dengan pelan. Melewati jalanan yang kanan kirinya barisan tanaman tebu dan menjadi pemandangan yang cukup menawan.

Kukecilkan volume suara walkman saat ayah mulai mengajakku berbincang atau sekedar menceritakan kisah-kisah lucu supaya aku tidak bosan.

Bersama ayah, aku selalu menikmati perjalanan.