Mengenal Angka

🌸Tantangan 10 hari level 6🌸

 🔹Temukan Matematika di sekitarmu🔹


Mommy.. satu itu seperti lidi

Dua seperti bebek

Tiga seperti burung

Empat.. kursi terbalik

Lima… mmm.. *tampak berfikir keras seperti… oo tau tau.. Badut!

Enam .. seperti ular melingkar

Tujuh seperti tongkat

Delapan telur ada dua (bertumpuk)

Sembilan.. balon terbang

Sepuluh.. lidi dan telur



Celoteh Akhtar suatu siang saat kami sedang mengantri di sebuah Bank Swasta. Lama antrian tak membuatnya jenuh karena sepanjang waktu tunggu, Akhtar tampak tertarik dengan angka- angka yang dia lihat dari tempat kami duduk, terutama angka di atas meja layanan yang berjumlah 10 deret.

Tak berhenti disitu, dimanapun bahkan sesampai di rumah, Akhtar banyak menunjukkan angka pada seluruh penghuni rumah,

“Papa liat! Ada 8786!” (Plat mobil) 😁

“Auntie.. kaos auntie ada angka 3 nya, angka 3 itu seperti burung lo!”

“Moma.. kertas ini kenapa banyak sekali angka- angkanya?”

“Oh itu namanya Kalender kakak.. ” 😆 jawab Omanya.
Begitu anak- anak mempelajari hal baru, yang dewasa ini memang harus siap. Ya siap memperhatikan, siap dengan jawaban dan siap … capek 😄 . Satu pertanyaan akan melahirkan ribuan pertanyaan baru, mendengar satu saja yang jawaban mengambang, mereka akan mengejar sampai mengerti. 

Anyway, guna mendukung anak- anak belajar angka, saya instal ini di hp ⤵

MARI BELAJAR ANGKA

Terdapat dua fitur, BELAJAR dan BERMAIN.

Pada fitur BELAJAR, anak – anak bisa mengenal angka hingga 50

Pada fitur BERMAIN, ada enam jenis permainan interaktif mengenal angka yang dikemas menarik. 

 

Jakarta, 24 Juli 2017

Vivi Erma 😊

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs

Manfaat Belajar Matematika untuk Anak- anak dan Dewasa

Camilan Rabu 😋 📑 
✨Manfaat Belajar Matematika Untuk Anak-anak Dan Dewasa
Banyak orang tidak suka belajar matematika. Sulit, begitulah alasannya. Soal-soal di buku matematika tidak berhubungan dengan problem di kehidupan nyata. Begitu alasan lainnya.
Belajar matematika sebenarnya mendatangkan banyak manfaat dan keuntungan. Apa saja?
🌸Simak di bawah ini:

🔹Pola Pikir Yang Sistematis

Dengan mempelajari matematika, kita terbantu berpikir sistematis karena kita jadi terbiasa berhitung & menimbang. Secara tidak sadar kita telah melatih otak terbiasa berpikir secara runut sehingga mudah dalam mengorganisasi sesuatu.
🔹Logika berpikir Lebih Berkembang
Semua bahasan matematika yg kita pelajari mencakup atau mencerminkan kemampuan berpikir logis. Kita dilatih untuk tidak bersandar pada asumsi dan praduga. Semua kesimpulan harus kita hasilkan melalui penghitungan yang tepat & pembuktian yang logis.
🔹Terlatih Berhitung
Semua orang pasti membutuhkan kemampuan berhitung, bahkan dalam skala yang sederhana seperti menghitung uang jajan atau uang belanja 😊. Dengan terampil berhitung, maka kita akan terbiasa melakukannya dengan tepat dan cepat.
🔹Mampu Menarik Kesimpulan Secara Deduktif
Matematika sering disebut sebagai ilmu yang bersifat deduktif. Artinya, matematika membantu seseorang dalam menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum, sehingga membiasakan otak untuk berpikir secara obyektif dan rasional.

 

Kemampuan berpikir obyektif dan rasional ini adalah kemampuan soft skill yg berguna untuk memecahkan masalah dalam semua lini kehidupan.
🔹Menjadi Teliti, Cermat Dan Sabar
Pelajaran matematika melatih kita menjalani proses yang panjang dengan penuh kesabaran dan kecermatan. Kualitas ini sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah dalam semua bidang kehidupan.
Jadi, pelajaran matematika itu beririsan dengan berbagai bidang kehidupan. Mulailah mencintai matematika dan nikmatilah manfaatnya dalam kehidupan.

Sumber Bacaan:

– Rudi S. – 6 Agustus 2016

http://www.educenter.id/5-manfaat-pelajaran-matematika-untuk-masa-depan/
– Effective Teaching: Teori Dan Aplikasi, Daniel Muijs and David Reynolds, Pustaka Pelajar, 2008

Menstimulus Matematika Logis pada Anak

_Institut Ibu Profesional_

_Kelas Bunda Sayang sesi #6_
*MENSTIMULUS  MATEMATIKA LOGIS  PADA ANAK*
Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing.  Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di  dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA.  Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa
” *Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan* ”

*MATEMATIKA LOGIS*
Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai _kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan_.
Dapat diartikan juga sebagai *_kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya_*

Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis  dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.

*CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS*
a.  Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut
b. Mengamati benda-benda yang unik baginya
c.  Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba
d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan. 
e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung
Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya.Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan  pijakan sebelumnya.
Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.
*STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA*
*Bermain Pasir*

Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.
*Bermain di Dapur*
a.Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.
b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.
c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran. 
d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.
*Belajar di Meja Makan*

Saat dimeja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti  ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.

*Belajar Memahami  Kuantitas*
a. ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?
b.Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?
*Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat*
a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau  donat?
b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat,  mobil atau motor?
c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi  pohon kelapa atau  pohon jambu?
d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?

*Kegiatan di Luar Rumah*
a.Mengajak anak berbelanja

ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan. 
b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya. 
c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka  Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.
d. Permainan Tradisional

Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.
e.Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan

Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas. 

Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :
Menambah ➡ proses menggabungkan
Mengurangi ➡ proses memisahkan
Mengalikan ➡ proses menambah/menjumlahkan secara berulang.
Membagi ➡ proses mengurangi secara berulang.

Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di  rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).
Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.
Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.
 
_Salam Ibu Profesional_
 
/ _Tim Fasilitator Bunda Sayang_/

📚Sumber bacaan:
_Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005_
_Howard Gardner, Multiple Intelligence,  Gramedia, 2000_
_Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Mneyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009_

Membangun Keluarga Literasi

_Institut Ibu Profesional_

_Review Materi Bunda Sayang sesi #5_
📚 *MEMBANGUN KELUARGA LITERASI* 📚
Selamat untuk anda para bunda di kelas bunda sayang yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan game level  5.
Banyak kreasi literasi yang muncul, mulai dari pohon literasi, pesawat literasi, galaksi literasi dll. Semua yang sudah bunda kerjakan di tantangan kali ini sesungguhnya bukan hanya melatih anak-anak dan seluruh anggota keluarga untuk SUKA MEMBACA,  melainkan melatih diri kita sendiri agar mau berubah.
Seperti tagline yang kita gunakan di tantangan level 5 kali ini, yang menyatakan
”  *_for things to CHANGE, I must CHANGE FIRST_*”  
Sebagaimana yang kita ketahui, tantangan abad 21, tidak cukup hanya membuat anak sekedar bisa membaca, menulis dan berhitung, melainkan kita dan anak-anak dituntut untuk memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini sering  disebut literasi ( _National Instiute for Literacy, 1998_ )
Institut Ibu Profesional akan mendorong munculnya gerakan literasi yang nyata yaitu mulai dari dalam keluarga kita. Apabila seluruh keluarga Ibu Profesional sudah menjalankan gerakan literasi ini maka akan muncul _rumah  literasi_, muncul _kampung literasi_, dan insya Allah negara kita dipenuhi masyarakat yang literat. Tidak gampang mempercayai dan menyebarkan berita yang baik tapi belum tentu benar, makin memperkuat struktur berpikir kita, sehingga selalu mengutamakan “berpikir terlebih dahulu, sebelum berbicara, menulis dan menyebar berita ke banyak pihak”
*KOMPONEN LITERASI*
☘ *Literasi Dini ( Early literacy)*

_Kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah_. Pengalaman anak-anak dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.
☘ *Literasi Dasar ( Basic Literacy)*

_Kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi_
☘ *Literasi Perpustakaan (Library Literacy)*

_Kemampuan memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah_
☘ *Literasi Media (Media Literacy)*

_Kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya_.
☘ *Literasi Teknologi (Technology Literacy)*

_Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi_
_Kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet_
☘ *Literasi Visual (Visual Literacy)*

_Pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat_

*_Keluarga hebat adalah keluarga yang terlibat_*
Maka libatkanlah diri kita dalam gerakan literasi di dalam keluarga terlebih dahulu. 
Pahami komponen-komponen literasi, dan lakukan perubahan yang paling mungkin kita kerjakan secepatnya.
Pohon literasi janganlah berhenti hanya sampai di tantangan materi kali ini saja. mari kita lanjutkan sehingga gerakan ini akan membawa dampak bagi keluarga dan masyarakat sekitar kita.
_Salam Ibu Profesional_

*/Tim Fasilitator Bunda Sayang/*
📚Sumber bacaan :
http://dikdas.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Desain-Induk-Gerakan-Literasi-Sekolah1.pdf
_Clay dan Ferguson_ (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) , 2001
_Beers, dkk, A Principal’s Guide to Literacy Instruction, 2009_
_National Institute for Literacy, 1998_

Best Bookish Moments from The Live-Action Beauty & The Beast

Aliran Rasa Game Level#5


Menulis aliran rasa mengenai game level#5 (Membudayakan Literasi pada Keluarga) membuat saya teringat film Beauty and The Beast yang baru saja saya tonton kemarin. Dari semua karakter Disney, sepanjang pengetahuan saya, hanya Belle (sang tokoh utama – diperankan oleh Emma Watson) yang suka membaca buku. Ini salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan karakter ini. I think Belle’s intelligence and literally nature have always resonated with books lovers.


Artikel tentang Best Bookish Moments saya ambil dari sini ⤵
http://bookriot.com/2017/03/20/best-bookish-moments-in-the-new-beauty-and-the-beast/

Belle is a “beauty,” sure. But that’s not what makes her stand out. Not to anyone other than Gaston, at least. To the rest of the town, Belle is “odd.”  She stands out because she’s different. Because she dares to be herself—to be intelligent, well read, independent, and non-compliant. She may be seemingly stuck in her “provincial life,” but reading books gives her a way out and makes her want more for herself.

In its iteration of Belle, the new Beauty and the Beast does not disappoint. Emma Watson plays a delightfully feisty Belle, eager to devour book after book and share her knowledge.

In its bookishness, the new version does not disappoint either. Rather than a general love of books with a few hints to titles here and there, we get explicit references and bookish scenes.

HERE ARE SOME OF THE BEST BOOKISH MOMENTS FROM THE LIVE-ACTION BEAUTY AND THE BEAST:

When we first meet Belle, she’s making her way through the village. She has a book to return and wants to borrow another from a fellow villager. On the way, someone stops her and asks her what she was reading about. She replies, “Two lovers in fair Verona.” This, of course, is a reference to Shakespeare’s Romeo and Juliet—and it won’t be the last.

One of the villagers says that she’s “The only bookworm in town.”

When Belle gets where she’s going, Père Robert, the man with the books, asks her where she has travelled. She tells him she has been to two towns in northern Italy. This is another reference to Romeo and Juliet, and the towns she is talking about are Mantua and Verona.

Père Robert is not a bookseller like in the animated movie. He appears to be a fellow villager with his own small collection of books, which Belle has already made her way through. She grabs one she has already read and loved—the one in which the girl “meets Prince Charming, but doesn’t discover that it’s him ‘til chapter three!” This book is totally gorgeous with a gilt design. I was drooling.

When Gaston comes into the scene and decides that he simply must have Belle, he tries to flirt with her over books. Because he is, well, Gaston, this fails horribly:
Gaston: Wonderful book you have there!
Belle: Have you read it?
Gaston: Well, not that one. You know. Books.

When Belle later returns to the village to do her washing, a little girl comes up to her and sees that she’s reading. Belle begins teaching the little girl how to read. The headmaster walks by and sees what’s happening and becomes immediately incensed. He admonishes Belle. Surely, one girl that can read is more than enough to for any town. The new movie shows us further how Belle is different from everyone else in town, demonstrating how the village feels toward educated women.


Later, when Belle is in the castle, Cogsworth and Lumière are playing chess while she is sneaking around. Both of them are atop piles of books so they can reach the board!

After Beast goes to save Belle and is attacked by wolves, he is lying in bed recuperating. Belle is quoting Shakespeare, and he begins to quote along. Belle tells him that Romeo and Juliet is her favourite play. Beast guffaws and says that this choice is unsurprising and silly. Apparently he is not a fan of romances. He then takes her to the library because “there are better things to read.”
In the animation, Belle reads Romeo and Juliet to the Beast and he enjoys it. But we then find out he doesn’t know how to read. Belle teaches him. In the new version, they are both well-read and this is something they bond over.

The library, of course, is its own bookish moment. It’s huge and beautiful and brimming with gorgeous leather-bound tomes. The walls are completely lined with books, and it boasts a rolling ladder, the kind that every bookworm dreams of. Obviously, Belle is completely giddy over the library, and the fact that Beast told her, “It’s yours.”

From this point on, we see Beast and Belle bonding over books. In one scene while they are eating, they are both reading at the same time. As they become more comfortable with one another, books are always casually a part of the scene.

When they go for a walk outside, Belle reads poetry to Beast. One of the poems is “A Crystal Forest” by William Sharp.

Belle sees Beast reading alone in the garden. She approaches him and he tries to hide what he’s reading. Belle sees anyway, and says he is read Guinevere and Lancelot. He tells her he is actually reading King Arthur and the Knights of the Round Table—you know, “knights and battles and stuff.” Belle replies that it’s still a romance! I loved this scene because it shows that Beast is warming up to romance—in more ways than one!

Beast takes Belle back to the library to show her another “gift” from the enchantress. This gift is a beautiful, magical book. When Beast opens in, there is a map inside. He tells Belle that if she thinks of a place, can see it in her mind’s eye, and feel it in her heart, the book will take her there. And it does!

Finally, when the villagers storm the castle and are battling the inhabitants of the castle, the books join the fight!

•••

Seperti Belle, saya yang dulu tinggal di sebuah kota kecil, I may be seemingly stuck in my “little town life,” but reading books give me a way out and make me want more for myself.


Reading gives us someplace to go when we have to stay where we are


Memang betul, dengan membaca kita mampu menyibak jendela dunia. Membaca membantu saya mempelajari banyak hal. Dan ini yang saya ingin terapkan juga pada anak- anak. Kebiasaan membaca akan sangat membantu proses belajar mengajar, bukan hanya di ranah akademik, tapi membaca membantu mereka berfikir kritis dan mampu menuangkan ide- idenya. Anak- anak saya memang belum bisa membaca, tapi kecintaan pada buku tidak ada salahnya dimulai sejak dini agar mereka terbiasa.

Goal saya adalah mampu mewujudkan “pojok baca” di rumah. Sebagai upaya untuk membangun komitmen membaca bersama 😁 Aamiin.



Jakarta, 15 Juli 2017

Vivi Erma 😊



#gamelevel5

#bundasayang

#IIP

#KuliahBunsayIIP

Rumah, Sekolah dan Pendidikan

🏡RUMAH, SEKOLAH dan PENDIDIKAN🏡
_oleh : Septi Peni Wulandani_
Usai libur lebaran, ternyata tidak membuat redup semangat para fasilitator nasional Ibu Profesional untuk kembali belajar, belajar dan belajar. 
Saat diskusi di kelas fasilitator nasional Bunda Sayang #1, salah satu topik yang kami bahas adalah mengapa saat ini banyak orang yang berpendidikan tinggi, tetapi perilaku ilmiahnya rendah. Seperti mudah sekali mempercayai berita hoax, menyebar ujaran kebencian, melakukan plagiasi tulisan/hasil karya orang lain, mudah sekali menyebar broadcast yang diawali dengan kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa melihat kebenaran isi suatu berita dan tidak tahu sumbernya dari mana. 
Salah satu kesimpulan yang kami ambil saat diskusi tersebut adalah ternyata antara  pendidikan dengan  institusi sakralnya yaitu sekolah atau rumah sedang berpisah ranjang. Tidak banyak sekolah yang menerapkan proses pendidikan yang benar di dalamnya, hanya sekedar menggugurkan kewajiban untuk mengejar kurikulum dan mengajar siswanya sesuai jam yang sudah ditentukan. Demikian juga tidak banyak  rumah yang melakukan proses pendidikan untuk seluruh anggota keluarganya.  Rumah tidak beda fungsinya dengan sebuah halte,  hanyalah sekedar bentuk fisik tempat seluruh penghuninya kumpul dan setelah itu pergi sesuai tujuan masing-masing. 
Lalu kemana anak-anak kita mendapatkan proses pendidikan? kalau dua institusi sakral yaitu rumah dan sekolah, yang harusnya mendidik mereka ternyata tidak menjalankan perannya dengan benar.
Tidak perlu resah dan gelisah. Tidak perlu menunggu sebuah sistem untuk berubah, kita bisa memulainya dari diri kita dan keluarga kita.
Ingat,
” *_for Things to CHANGE, I must CHANGE FIRST_*”
Darimana mulainya? dari hal sederhana saja yaitu rangsang rasa ingin tahu anak dan  latihlah anak-anak membuat pertanyaan, karena selama ini yang ada di sebagian besar sekolah dan rumah, banyak anak-anak yang dilatih untuk menjawab pertanyaan.
” *_Mendidik itu bukan membuat anak bisa menjawab 1000 pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya, namun membuat anak bertanya 1 pertanyaan yang membawanya menemukan 1000 pengetahuan_* ”

Pesan Idul Fitri oleh Bunda Elly Risman

http://bit.ly/PesanIdulFitriIbuEllyRisman

🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺         

 

*PESAN IDUL FITRI 1438 H*
Oleh Elly Risman

Direktur, Psikolog, dan Trainer Yayasan Kita dan Buah Hati

           

🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Ayah Bunda yang berbahagia, 

Izinkan saya, Elly Risman dan keluarga saya serta keluarga besar Yayasan Kita dan Buah Hati menghaturkan Selamat Hari Raya  Idul Fitri 1438 Hijriyah.
Taqobalallohu minna wa minkum, 

Mohon maaf lahir dan batin.
🙏Semoga doa-doa kita selama Ramadhan ini dikabulkan Allah.

🙏Semoga kita disehatkan dan dipanjangkan umur sehingga bisa bersua Ramadhan yang akan datang – Aamiin
🌹Ayah dan Bunda yang disayangi Allah, 

Kita berharap juga agar di tahun-tahun mendatang kita dikaruniai kejernihan fikir dan hati yang lebih khusyuk, sehingga kita semakin takwa kepada Allah. Ibadah dan amalan semakin sempurna, ilmu yang kita peroleh lebih luas dan bermanfaat serta insha Allah dikayakan Allah dengan rezeki yang halal dan thayyib, serta yang tak kalah pentingnya, semoga Allah mengizinkan kita untuk meningkatkan kualitas pengasuhan anak anak kita.
Untuk  itu marilah kita tidak menunggu anak meminta maaf, akan tetapi kita memberanikan diri terlebih dahulu meminta maaf kepada anak-anak kita dari dosa-dosa dan kesalahan atau kekeliruan pengasuhan yang dilakukan selama ini.

Katakan kepada mereka bahwa ayah dan bunda punya sejarah masa lalu yang belum sempat semuanya terselesaikan, ayah dan bunda mungkin tidak punya contoh yang baik atau ilmu yang memadai untuk menghadapi tantangan zaman dalam membesarkan kalian dan.. selalu tergesa gesa!

Oleh sebab itu ayah bunda minta maaf, ya nak, untuk semua yang kurang menyenangkan selama ini.

Marilah kita sama-sama berdoa agar Allah mengizinkan ayah dan bunda sanggup berjanji pada diri sendiri, mulai setelah lebaran ini insha Allah akan menjadi ayah dan bunda yang lebih baik, lebih sabar dan penyayang serta lebih memiliki kemampuan untuk mengerti juga memahami kalian, ya nak.

Kita harus bekerja sama untuk mewujudkannya ya. 
🌹Ayah Bunda, 

meminta maaf itu sangat penting, karena pertama akan menurunkan emosi negatif, kedua anak jadi belajar “… Oh kalau salah harus minta maaf ya…”

Sehingga, Insya Allah, ke depan, apakah mereka sebagai suami istri, ayah dan ibu atau sebagai sesana teman, mereka tidak berat dan gengsi untuk meminta maaf bila melakukan kesalahan atau kekeliruan. Kalau kita menemukan ada orang yang sulit meminta maaf padahal sudah jelas-jelas salah, mungkin dulu karena orangtuanya tidak pernah minta maaf kepada mereka.
🌹Setelah Hari Raya ini saya menghimbau diri saya dan juga menghimbau Ayah Bunda untuk kita lebih fokus memenuhi tujuan utama pengasuhan kita, yaitu menghasilkan anak-anak yang lebih taqwa. 

Memiliki anak-anak yang taqwa Insya Allah akan meningkatkan derajat kita sbg orang tua. Mungkin pangkat bisa dibeli, namun derajat hanya Allah lah yang bisa beri.

Karena sesungguhnya anak anak kita adalah “masa depan” kita, di dunia ini maupun di akhirat nanti. 😇
🌹Sehubungan dengan selesainya Ramadhan ini, yuk kita ajak anak kita untuk mensyukuri segala sesuatu yang sudah kita miliki dan yang bisa kita capai sepanjang tahun yang lalu. Syukur adalah akhlak pertama dari seorang muslim. Allah sangat sayang pada orang yang pandai bersyukur, sehingga Dia menjanjikan akan menambahkan kenikmatanNya, dan orang-orang yang tidak pandai bersyukur akan sangat menderita karena mereka tidak merasakan kenikmatan memiliki atau mendapatkan sesuatu.
🌹Di hari yang bahagia ini, 

anak-anak akan bertemu banyak saudara atau sepupu-sepupu mereka.

Alangkah indahnya kalau kita memulai sebuah budaya baru dengan tidak menanyakan pada ponakan-ponakan kita hanya prestasi akademis semata, tapi kita memberikan penghargaan atas keberhasilan-keberhasilan yang lebih menyangkut hal-hal yang spiritual atau psikologis sifatnya. Bagaimana anak memiliki akhlak yang lebih baik: suka menolong, pandai menyapa, bertimbang rasa dan hal-hal yang seperti itu lainnya.
❤Penting juga untuk kita belajar untuk memvalidasi anak-anak kita dengan 3P yaitu Penerimaan, Penghargaan dan Pujian. Kita terima anak kita apa adanya, lebih dan kurangnya tak perlu dibanding-bandingkan dengan siapapun.
❤Kita hargai apa yang bisa mereka lakukan dan yang bisa mereka capai.

Jangan pelit dengan pujian bila anak memang pantas menerimanya.
❤❤❤

Nikmatilah bukan hanya binar mata, tapi juga pancaran hatinya yang turut berbinar lewat ekspresi wajahnya.

Kalau bukan kita yang menghangatkan jiwanya, lalu siapa lagi?
🌹Terakhir Ayah Bunda, mari kita teruskan melatih anak-anak kita untuk menahan diri dari keinginan tanpa batas atas segala sesuatu, agar mereka tetap dalam lindungan Allah dari bencana zaman, karena ditanganNya jua letak segala kekuasaan dan segala perlindungan.
🌹😊🌹😊🌹

Selamat berbahagia Ayah Bunda, setelah ibadah dan beramal yang mulia. 

Semoga selalu disayang Allah.

🌹😊🌹😊🌹
Selamat bersilaturahim, Selamat Hari Raya Idul Fitri 🙂 
*_Menyelamatkan satu anak sama dengan menyelamatkan kemanusiaan_*
Sebarkan..

           

🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🔅*Yayasan Kita dan Buah Hati*🔅

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👍Fanpage:

Yayasan Kita dan Buah Hati

👍Twitter:

@kitadanbuahhati

👍Alamat:

Jalan Tamansari Persada Raya Blok 1 No. 12, Bekasi

👍No HP:

0856 7010 222

🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺