How I Met My Husband?

“People change, feelings change but that doesn’t mean that the love once shared wasn’t true and real. it simply means that sometimes when people grow, they grow apart.” (500 Days of Summer)

This quote… it’s a good one to say the least. I probably think it’s good because it’s so true, it’s so real, and so many people can relate to it. So many people have experienced this in their lives and so many people know exactly how it feels to grow apart from someone you honestly and truly love.

I know… i have…

Saya baru saja putus cinta kala itu (uhuk!) ,

Saya meninggalkannya karena Allah.

Dengan berbekal bismillah dan kekuatan keyakinan bahwa jodoh sudah ada yang mengatur, saya move on dan mencoba mengikhlaskan semuanya. Pasrah marang gusti Allah.

Rain came pouring down when I was drowning. That’s when I could finally breathe.

Saya sedang sangat menikmati kesendirian (eciee).

Well, I lost him but I found my self and somehow that was everything.

Suatu hari berbunyilah hp saya, tanda sms masuk.

“Vi, ada temenku mau kenalan, boleh?,” dari Heksa, temen saya SMA yang ngepos di Telkomsel cabang Probolinggo.

“Boleh,”

Toh, kenalan saja, what the worst thing could be happen anyway! Saya bukan anti sosial 😂

“Namanya Ian. Organik (sebutan untuk pegawai tetap di Telkomsel). Divisi Marketing. Kukasih nomormu ya. Thanks,”

Keesokan harinya Heksa saya cecar dengan berbagai pertanyaan lewat YM (yahoo messenger), tentang profil yang bersangkutan dan bagaimana bisa tahu saya.

“Jadii.. aku tuh pas buka Friendster_mu. Terus pas Mas Ian lewat lihat fotomu. Eh minta dikenalin,”

(YM Friendster – yang pernah pake aplikasi ini acung tangan! 😂 *Ketauanumurnya)

Back to the main topic,

Jadi kira- kira dari mata turun ke hati begitu lah ya asal muasalnya.

Dari perkenalan itu terkuak fakta perbedaan usia dan darimana Mas Ian berasal, akhirnya saya putuskan untuk memanggilnya dengan sebutan Aa’ untuk menghormati.

This is a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story.

Si Aa’ rajin SMS, chatting, telfon, setiap weekend selalu ke Malang, bahkan sampai dibela- belain ngekos (Aigoo..). Melihat gelagat seperti itu saya langsung saja tanya niatnya apa (takut kegeeran 😂),

“Kalau Aa’ cari pacar, sebaiknya cari perempuan lain saja, saya tidak punya waktu untuk itu.”

Raut muka Aa’ kaget. Entah apa yang terlintas dipikirannya saat itu. Tapi tidak seberapa lama kemudian Aa’ menjawab jika ingin mencari calon istri dan saya dianggap eligible. (Tsaaahh!) *bersemumerah

Akhirnya saya persilahkan Aa’ datang ke rumah. Tak disangka mama langsung suka. Padahal tidak pernah seperti itu sebelumnya dengan teman- teman pria saya yang lain.

Hari berganti hari, jumlah kumbang yang mengitari mawar tak hanya si Aa’. Bahkan telah ada dua yang melamar.

MasyaAllah tabarakallah lahaula wala quwwataillabillah, Maha benar janji Allah, saat saya berusaha memperbaiki diri, saya didekatkan dengan orang- orang baik.
Saat saya meninggalkan yang Allah benci, pria datang antri melamar seperti mimpi.

Mawar menjadi galau. Wkwkwk

Istikharah dijalankan, lalu curhatlah saya ke salah seorang sohib saya secara tidak sengaja, dan jawaban yang sampai dengan saat ini saya ingat adalah,

“Pilih jalani dengan yang mamamu suka,”

Lah!

Si Aa’ !

Padahal di dalam percakapan itu saya tidak menyinggung sama sekali tentang mama ataupun adakah calon yang lebih disuka oleh mama.

Akhirnya sayapun memutuskan,

If not everything is meant to be, well everything is worth a try.

And so another journey begins..

Advertisements

Perbedaan Laki-laki dan Wanita dalam Perkara Shalat

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 21 Muharam 1439 H / 11 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 42 | Perbedaan Laki-Laki Dengan Wanita Dalam Perkara Shalāt
➖➖➖➖➖➖➖

MATAN KITAB

(فصل) والمرأة تخالف الرجل في خمسة أشياء: فالرجل يجافي مرفقيه عن جنبيه ويقل بطنه عن فخذيه في الركوع والسجود ويجهر في موضع الجهر وإذا نابه شيء في الصلاة سبح وعورة الرجل ما بين سرته وركبته.
والمرأة تضم بعضها إلى بعض وتخفض صوتها بحضرة الرجال الأجانب وإذا نابها شيء في الصلاة صفقت وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها والأمة كالرجل.

Shalat wanita berbeda dengan laki-laki dalam 5 (lima) perkara:

Laki-laki:
–1. Merentangkan kedua tangannya atau menjauhkan kedua lengannya dari kedua sisi badannya.
–2. Mengangkat perutnya dan menjauhkan dari kedua pahanya pada saat ruku’ dan sujud.
–3. Mengeraskan suara di tempat yang perlu dikeraskan.
–4. Apabila hendak mengingatkan sesuatu dalam shalat, maka mengucapkan tasbih.
–5. Aurat laki-laki adalah antara pusar dan kedua lututnya.

Wanita:
–1&2. Merapatkan antara anggota badannya satu sama lain.
–3. Mengucapkan dengan suara perlahan jika ada laki-laki asing.
–4. Apabila hendak mengingatkan sesuatu dalam shalat, maka menepukkan tangan.
–5. Seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Adapun budak wanita, maka batasan auratnya seperti laki-laki.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

PERBEDAAN LAKI-LAKI DENGAN WANITA DALAM PERKARA SHALĀT

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqah yang ke-42, dan kita masuk sekarang pada fasal tentang perkara didalam shalat yang berbeda antara laki-laki dan wanita.

قال المصنف
Penulis Rahimahullāh berkata,

((والمرأة تخالف الرجل في خمسة أشياء))

“Dan wanita berbeda dengan laki-laki dalam lima hal atau lima perkara”

((فالرجل يجافي مرفقيه عن جنبيه))

◆ Adapun Laki-laki

1. Merentangkan kedua tangannya atau menjauhkan kedua lengannya dari kedua sisi badannya

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadīts Abdullāh bin Mālik bin Buhaināh

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ، حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ

Dari Abdullāh bin Mālik bin Buhaināh : bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila beliau shalat maka beliau membentangkan kedua lengannya sampai terlihat putihnya ketiak beliau”
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim 1/ 356)

↝ Jadi manakala seorang laki-laki sujud, kedua lengannya menjauhi kedua sisi badannya atau direntangkan

((ويقل بطنه عن فخذيه في الركوع والسجود))

2. Mengangkat perutnya dan menahannya serta menjauhkan dari kedua pahanya pada saat ruku’ dan sujud

Adapun ruku’ yang dimaksud didalam pembahasan ini, kemungkinan yang dimaksud oleh penulis adalah kondisi shalat dalam keadaan duduk (bagi yang tidak mampu shalat dalam keadaan berdiri)

Sebagaimana hadīts yang diriwayatkan Imām Abū Dāwūd,

وَإِذَا سَجَدَ فَرَّجَ بَيْنَ فَخِذَيْهِ غَيْرَ حَامِلٍ بَطْنَهُ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَخِذَيْهِ

“Apabila beliau (Shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sujud maka beliau membentangkan kedua pahanya dan tidak menempel sedikitpun antara perut dan kedua pahanya tersebut”
(Hadīst riwayat Abū Dāwūd 1/ 196)

((ويجهر في مواضع الجهر))

3. Dan mengeraskan suara ditempat yang perlu dikeraskan

Dan hal ini sudah dijelaskan pada fasal sebelumnya tentang kondisi-kondisi atau tempat-tempat yang perlu dikeraskan suaranya terutama oleh laki-laki

((وإذا نابه شيء في الصلاة سبح))

4. Apabila hendak mengingatkan sesuatu didalam shalat maka dengan mengucapkan kalimat tasbih

↝Seperti tatkala ingin membenarkan atau mengingatkan imam pada saat imam dalam kondisi lupa, atau mengingatkan orang buta yang ada di samping kita atau yang kita lihat jika dikhawatirkan dia akan terjatuh atau terjerembab atau yang semisalnya.

↝Maka seorang laki-laki tatkala ingin mengingatkan pada kondisi seperti ini dia mengucapkan tasbih.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imām Muslim

مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ

“Barangsiapa yang hendak mengingatkan sesuatu dalam shalatnya maka hendaknya dia mengucapkan tasbih, karena dia mengucapkan tasbih menjadi sebab orang memperhatikan kepadanya, tashfiih merupakan tangan bagi wanita maka hal itu adalah untuk wanita” (Hadīts riwayat Muslim 1/ 316)

√ Jadi seorang laki-laki mengucapkan tasbih
√ Seorang Wanita dia dengan menepukan tangannya

((وعورة الرجل ما بين سرته وركبته))

5. Dan aurat laki-laki adalah antara pusar dan kedua lututnya

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadīts,

عَوْرَةُ الرجل ما بيت سُرَّتِهِ إلَى رُكْبَتِهِ

“Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lututnya”
(Hadīts riwayat Imām Daruquthny dan Imām Al Baihaqy dengan sanad yang lemah)

Namun ada penguat lain yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri

الفَخِذُ عَوْرَةٌ

“Paha termasuk Aurat” (HR. Bukhāri 1/ 83 )

قال المصنف
Kemudian Mushanif Rahimahullāh menjelaskan tentang perempuan,

((والمرأة تضم بعضها إلى بعض))

Dan seorang wanita menggabungkan Sebagian tubuhnya dengan yang lainnya.

◆ Ini sekarang penjelasan tentang wanita yaitu :

1 & 2. Yaitu seorang wanita merapatkan antara anggota badannya satu sama yang lain yaitu merapatkan tangan dengan tubuhnya begitu pula perut dan pahanya pada saat sujud dan mendekatkan antara paha dan perutnya pada saat ruku’ dalam shalat yang duduk.

↝Kenapa? karena hal itu lebih tertutup bagi seorang wanita manakala wanita tersebut merapatkan atau menempelkan bagian tubuhnya satu sama lain, tidak terlihat bentuk tubuhnya.

Karena itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala pada suatu saat beliau melalui dua orang wanita yang sedang sujud kemudian beliau mengatakan:

إِذَا سَجَدْتُمَا فَضُمَّا بَعْضَ اللَّحْمِ إِلَى الْأَرْضِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ لَيْسَتْ فِي ذَلِكَ كَالرَّجُلِ

“Apabila kalian berdua sujud maka tempelkanlah bagian tubuh satu sama lainnya ke tanah, karena dalam masalah itu wanita berbeda dengan laki-laki (tata caranya sujudnya)”
(Hadīts riwayat Abū Dāwūd dalam marasilnya)

((وتخفض صوتها بحضرة الرجال الأجانب))

3. Dan mengucapkan dengan suara yang perlahan jika ada laki-laki asing
↝Laki-laki asing (yaitu) laki-laki selain suami dan mahramnya agar tidak terdengar suaranya, dalam rangka menghindari fitnah yang akan timbul dari suara seorang wanita tersebut, karena suara wanita berpotensi menimbulkan fitnah.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض

“Maka Janganlah kalian wahai wanita merendahkan suara (mendayu-dayu) sehingga membuat orang yang didalam hatinya ada penyakit timbul rasa keinginan (yaitu syahwat)”
(Qs. Al Ahzāb : 32)

Apabila seorang wanita tetap mengeraskan suaranya walaupun disana ada laki-laki asing, maka shalatnya tetap sah, namun hal ini adalah perkara yang makruh atau yang kurang disukai didalam syar’iat.

Adapun jika tidak ada laki-laki asing yang mendengar maka seorang wanita mengeraskan suaranya namun tidak sampai pada level suara laki-laki tatkala mereka mengeraskan suaranya

((وإذا نابها شيء في الصلاة صفقت))

4. Apabila hendak mengingatkan sesuatu didalam shalat maka dengan cara menepukkan tangan.

Sebagaimana hadits yang sudah berlalu, bahwasanya menepukan tangan adalah cara untuk wanita tatkala ingin mengingatkan sedangkan laki-laki dengan cara mengucapkan tasbih.

((وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها والأمة كالرجل))

5. Dan seluruh tubuh wanita yang merdeka adalah aurat (yang wajib ditutupi) selain wajah dan kedua telapak tangannya, adapun Budak wanita maka batasan auratnya adalah seperti laki-laki tatkala didalam shalat

Sebagaimana hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ

“Allāh tidak menerima shalat seorang yang sudah haidh (maksudnya, wanita yang sudah baligh) kecuali dengan memakai khimar (yaitu) penutup kepala”
(Hadits riwayat Abū Dāwūd 1/ 173)

Begitu pula dijelaskan dalam hadits yang lain manakala ummu salamah ditanya tentang aurat wanita tatkala shalat:

تُصَلِّي فِي الْخِمَارِ وَالدِّرْعِ السَّابِغِ الَّذِي يُغَيِّبُ ظُهُورَ قَدَمَيْهَا

“Maka wajib bagi wanita shalat dengan menggunakan penutup kepala dan menggunakan gamis (atau pakaian) yang panjang yang menutupi telapak kakinya.”
(Hadits riwayat Abū Dāwūd 1/ 173)

Wanita merdeka auratnya didalam shalat maupun diluar shalat adalah sama yaitu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan, maka apabila terbuka auratnya shalatnya tidak sah.

Adapun wanita budak maka aurat didalam shalat adalah seperti laki-laki yaitu antara pusar dan kedua lututnya (artinya) jika dia shalat dan tidak memiliki kain penutup kecuali yang menutupi antara pusar dan kedua lututnya, maka shalatnya sah.

Konteks pembahasan aurat dalam shalat ini adalah dalam konteks yang minimal sah shalatnya. Namun tidak sepantasnya seorang muslim memakai pakaian yang tidak pantas didalam shalatnya.

Hendaknya bagi setiap muslim menggunakan pakaian yang terbaik yang terindah pada saat melaksanakan shalat, baik dari sisi bentuknya, kebersihannya maupun baunya.

Allāh Ta’āla berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Wahai anak adam pakailah perhiasanmu setiap pergi ke masjid”
(Qs. Al A’rāf : 31)

↝Maksudnya adalah pakailah pakaianmu yang terbaik, karena ini salah satu perhiasan seorang laki-laki (pakaian yang bagus, pakaian yang baik).

Adapun aurat budak wanita pada saat diluar shalat adalah seperti wanita merdeka.

↝Disini ada khilaf sebagian mengatakan yaitu:

Pendapat Pertama:
Seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua telapak tangan menurut sebagian pendapat para ulama diantaranya adalah madzhab syafi’i.

Pendapat Kedua:
Menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali menurut sebagian madzhab atau pendapat ulama yang lainnya.

Seorang wanita wajib dia menutup auratnya, dan bagi wanita yang tidak menutup auratnya, maka :

• Dia telah bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan melanggar perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
• Dia mendapatkan dosa setiap saat dia membuka auratnya (musibah yang sangat besar).
• Dia mendapatkan dosa dari fitnah yang ditimbulkannya atau bencana yang dihasilkannya, yaitu dimulai tatkala seorang laki-laki yang melihat auratnya, kemudian timbul syahwat kemudian laki-laki tersebut melakuan perkara-perkara yang tidak diridhai Allāh Subhānahu wa Ta’āla atau perkara-perkara dosa lainnya.

Oleh karena itu nasehat bagi setiap wanita untuk menutup auratnya agar menjadi keselamatan didunia dan diakhirat kelak.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

______________________

◆ Yuk…. Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ; 0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
———————————-

Telat

Terengah – engah aku berlari memasuki pintu berteralis kayu sebuah resturant.

“Mbak .. Mbak.. tasnya ketinggalan!,” teriak tukang ojek yang tadi memboncengku.

“Aduh iya!,” aku kembali menghampiri si tukang ojek dan mengambil paper bagku.

“Makasih ya Mas!,”

Aku melihat pantulan diriku di kaca pintu masuk. Kerudungku tak karu- karuan bentuknya, tersapu angin dan kena helm saat naik ojek tadi. Dengan cepat kubetulkan sebisanya.

Aku sudah terlambat!

Kulihat segerombolan ibu- ibu berkerudung hitam duduk mengitari sebuah meja panjang. Tanpa babibu kuambil tempat duduk di paling ujung. Setelah menebar senyum dan salaman kanan kiri, aku menyimak obrolan.

Sambil kuseka keringatku di kening, kupandangi ibu- ibu yang hadir itu satu persatu, baru kusadari tak satupun yang ku kenal!

Lalu ada bayangan mendadah- dadahkan tangannya padaku di pojok sebelah kanan restoran. Ternyata Agris, temanku bersama beberapa ibu- ibu lain janjianku hari ini, si Agris melotot ke arahku dan berkata,

“Kamu ngapain disitu?!”

– the end –

Kiat Merencanakan dan Mengelola Keuangan

🍇🍒Cemilan Rabu #8.4🍒🍇

Institut Ibu Profesional Jakarta pada tanggal 22 Agustus 2017 diundang untuk menghadiri peluncuran *Gerakan Indonesia Cerdas Finansial* Sebuah gerakan nasional yang didukung OJK guna meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia. IIP diundang karena pelaksana menyadari peranan ibu penting dalam mendidik anak-anak cerdas finansial sejak usia dini.
Materi yang diberikan pada seminar tersebut, dirasa pas dengan materi kita kali ini. Kami hadirkan resume seminar, semoga bermanfaat bagi teman-teman peserta kelas Bunda Sayang.

🍁☘🍁☘🍁☘🍁☘🍁☘

*Kiat Merencanakan dan Mengelola Keuangan*

Oleh bpk Eko P Pratomo

Perencanan keuangan penting dipahami setiap orang karena berdasarkan survey OJK, tingkat financial literacy Indonesia terendah dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Rendahnya literasi keuangan ini tidak hanya berdampak pada keluarga namun juga berpotensi menyebabkan krisis ekonomi suatu negara. Misalnya saja rendahnya kesadaran menabung bisa menurunkan tingkat pembangunan nasional.

Berikut 9 kiat dalam merencanakan dan mengelola keuangan.

1⃣Pentingnya memiliki mimpi.
Setiap keluarga perlu punya impian. If you lose6 your dreams, you have lost your life. Maka milikilah impian untuk keluarga kita, misalnya pendidikan tinggi, rumah, dll.

2⃣ Buat Prioritas dalam Budget Rumah Tangga
Jika pendapatan adalah 100% maka 20% atau lebih dimasukan ke pos tabungan. 40 – 70 % merupakan pengeluaran prioritas seperti biaya rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan, sosial.
0 – 30% merupakan pengeluaran tambahan seperti hiburan atau liburan.

3⃣Miliki neraca keuangan keluarga.
Tiap keluarga perlu memahami kondisi keuangan keluarga, caranya dengan membuat data tertulis berapa aset atau kekayaan dan berapa kwwajiban / hutang.

4⃣Miliki dana darurat
Dana darurat adalah dana yang disiapkan6 stand-by untuk kondisi darurat misalnya saat kita kehilangan pendapatan, orang tua sakit, rumah bocor, dan lain lain yang bukan merupakan budget rutin.

5⃣Memiliki proteksi asuransi

6⃣Jika berhutang maka perlu memiliki management hutang yang sehat. Seperti kesanggupan bayar maksimum 30% dari pendapatan. Jangan pernah berhutang melebihi 30% ini. Kemudian perhatikan juga jangka waktunya sesuai penggunaan dana.
7⃣Hati-hati menggunakan kartu kredit

8⃣ Belajar untuk berinvestasi

9⃣ Selalu Bersyukur
Kuatkan mental merasa bersyukur atas apa yang sudah dimiliki dan perbanyak bersedekah.

Sebagai penutup, ada kalimat yang mengingatkan kita agar lebih meningkatkan kecerdasan finansial:
*”Sejak kecil kita diajarkan sekolah dan bekerja untuk mencari uang tapi kebanyakan dari kita tidak diajari bagaimana cara mengelola uang”*
-Eko P Pratomo-

_Materi ini disampaikan pada event Gerakan Indonesia Cerdas Financial, tanggal 22 Agustus 2017 di Soehanna Hall, Energy Building. Bapak Eko P Pratomo adalah pendiri Syamsi Dhuha Foundation, sebuah lembaga finansial sosial untuk penyandang lupus_

*/Tim Buku Fasilitator Bunda Sayang Nasional/*

Cerdas Finansial Ibu Berpengaruh pada Anak

_Institut Ibu Profesional_
_Review Materi Sesi 8_

*CERDAS FINANSIAL IBU BERPENGARUH PADA ANAK*

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan di kelas bunda sayang yang ke #8 kali ini. Kita sudah melewati 2/3 perjalanan kita.

Sejatinya di materi kali ini kita ditantang untuk menjadi cerdas finansial dengan cara memandu anak-anak ( Learning by Teaching).

Maka langkah yang kita ambil adalah memahamkan diri kita terlebih dahulu bahwa uang adalah bagian kecil dari rezeki.

Selanjutnya belajar mengelola uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan.

Kita sedang tumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggung jawab terhadap bagian rezeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

Maka kuncinya adalah mulai dari orangtuanya.

Salah satu peran kita sebagai Ibu bukanlah untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan kepada anak dan keluarga kita.

Peran tersebut perlu ilmu.

*Hargai dengan baik segala ikhtiar pekerjaan menjemput rejeki, baik yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal ini membuat penghasilan yang akan diterima akan lebih berharga*

Anak-anak harus paham, tidak ada pekerjaan yang hina di muka bumi ini selama untuk menjemput rejeki yang halal.

*Habiskan uang di jalan yang benar*

Kebiasaan lama kita adalah menyisakan uang agar bisa menabung, investasi dan lain-lain. Namanya menyisakan pasti kecil.

Maka ubah dengan cara merencanakan dengan baik, dan habiskan uang di jalan yang benar.

Contoh :

_Cashflow orang yang bermental miskin_

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Shopping 57,5
Cicilan hutang 30
Sosial 2,5
——————————–
Sisa 10 baru ditabung

_Cashflow orang yang bermental kaya_

Pendapatan 100

Pengeluaran :
Zakat, infaq, sedekah 2,5
Cicilan hutang 30
Investasi 10
Kebutuhan pribadi 57,5
—————————————
Sisa 0

Dua cashflow di atas angkanya sama tapi beda.

Di cashflow orang yang bermental miskin, pengeluaran pertama adalah untuk memenuhi hak diri sendiri dulu, baru hak orang lain ( cicilan hutang dsb), hak untuk Allah, apabila ingat, dan sisanya baru ditabung atau investasi.

Sedangkan cashflow orang yang bermental kaya, sudah siap menghabiskan pendapatannya di jalan yang benar, dengan prioritas sbb :
☘Hak Allah terlebih dahulu ditunaikan.
☘Menyelesaikan hak orang lain (mis :cicilan hutang)
☘Menganggarkan untuk investasi
☘Baru memenuhi kebutuhan kita sendiri

Habis tak bersisa.

Pertanyaannya sekarang,

*Ingin memiliki anak-anak yang bermental kaya atau bermental miskin?*

Mental ini akan menentukan gaya hidup seseorang. Orang yang bermental kaya selalu ingin berbagi, meninggikan kemuliaan dengan _tangannya di atas_ meski pendapatan yang diterima kecil.

Sedangkan orang yang bermental miskin, selalu berharap menerima sesuatu, lebih merelakan _tangan di bawah_ meski pendapatannya besar.

Orang yang bermental miskin membeli sesuatu sesuai “selera” dan membeli di saat “bisa”

Orang yang bermental kaya membeli sesuatu sesuai “fungsi” dan membeli di saat “perlu”.

Sebenarnya,

*Biaya hidup itu murah, yang mahal adalah gaya hidup*

Selamat berproses, karena cerdas finansial, tidak hanya berkaitan dengan cashflow dan rupiah yang kita catat, tapi lebih dari itu, erat kaitannya dengan mendidik mental anak kita dan menanamkan pola gaya hidup yang benar.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang Nasional/

📚Sumber Bacaan :
_Ahmad Ghozali, Habiskan Saja Gajimu, Jakarta, 2010_

_Institut Ibu Profesional, Bunda Produktif, 2015_

Disiplin Sejak Dini

DISIPLIN SEJAK DINI

Di Afrika, setiap pagi singa bangun dari tidurnya dengan kesadaran penuh bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa atau ia akan mati kelaparan.

Setiap pagi pula, rusa bangun dari tidurnya dengan kesadaran penuh bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singa atau ia akan mati dimangsa.

Dikutip dari “The World is Flat” – Thomas L. Friedman (2006)

Sementara singa dan rusa memperjuangkan hidup di Afrika, di sini kita pun sama. Bedanya adalah perjuangan singa dan rusa sebatas isi perut, sedangkan perjuangan kita sebagai manusia tentu lebih dari itu.

Perjuangan kita sebagai manusia, dalam hal ini sebagai orangtua, salah satunya adalah kedisiplinan mengajarkan anak disiplin sejak dini.

Mengapa mengajarkan disiplin juga membutuhkan kedisiplinan? Karena disiplin bukanlah seperti sulap yang setelah kalimat abrakadabra semua terjadi begitu saja. Disiplin adalah produk konsistensi dan ketekunan. Tidak mungkin ada tanpa dua hal itu. Disiplin perlu diajarkan dengan pembiasaan.

Tahun-tahun pertama kehidupan manusia merupakan periode yang sangat penting dan kritis. Keberhasilan tumbuh kembang anak di tahun-tahun pertama akan sangat menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun kalau tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, apalagi yang tidak terdeteksi, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak di kemudian hari. Untuk itu orangtua mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak secara optimal.

APA ITU DISIPLIN?

Menurut Hurlock (1999: 82) dalam bukunya “Perkembangan Anak”, mengartikan perilaku disiplin yakni perilaku seseorang yang belajar dari atau secara sukarela mengikuti seorang pemimipin. Dalam hal ini anak merupakan murid yang belajar dari orang dewasa tentang hidup menuju ke arah kehidupan yang berguna dan bahagia dimasa mendatang.

DISIPLIN DIMULAI DARI MANA?

Disiplin itu dimulai dari orangtua kemudian ditumbuhkan dari dalam diri anak.
Orangtua harus memberikan contoh bersikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, anak kecil akan sangat mudah meneladani dan mencontoh apa yang ia lihat dan ia dengar.

MENGAPA PERLU DIAJARKAN DISIPLIN?

Disiplin harus menjadi faktor internal yang dimiliki anak. Tugas kita sebagai orangtua adalah mengajarkan dan memahamkan kenapa disiplin penting. Sehingga, kita tidak perlu lagi tegang tingkat tinggi dan atau berteriak mengingatkan apa yang harus dilakukan. Jika sampai saat ini, itu masih terjadi, berarti disiplin yang ada pada anak masih external, artinya orang lain yang mengontrolnya, bukan dirinya sendiri. Sehingga, jika orang lain itu tiada, begitu juga dengan disiplin yang sudah ditanamkan olehnya.

Berikut adalah hal- hal mengapa perlu diajarkan disiplin :

🍓 Disiplin memberikan rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

🍓 Disiplin membantu anak menghindari perasaan bersalah dan rasa malu akibat perilaku yang salah.

🍓 Dengan disiplin anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian, yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan.

🍓 Disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi bagi anak untuk mencapai apa yang diharapkan darinya.

🍓Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani yang merupakan pembimbing dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku.

KAPAN WAKTU YANG TEPAT MENGAJARKAN DISIPLIN PADA ANAK?

Menanamkan kedisiplinan pada anak dapat dilakukan sejak bayi. Anak dilatih melakukan rutinitas atau kegiatan sehari-hari secara disiplin seperti waktu mandi, gosok gigi, jam tidur. Seiring usia, bertambah pula jadwalnya, misal, sholat tepat waktu, waktu belajar dan seterusnya.

BAGAIMANA MENGAJARKAN DISIPLIN PADA ANAK?

1. Ajarkan anak untuk datang ketika mereka dipanggil.
2. Ajarkan anak untuk menghargai waktu.
3. Berikan rutinitas. Misal waktu tidur dan bangun, kapan waktu belajar, waktu bermain dsb.
4. Dorong anak untuk memiliki aktivitas yang membangun disiplin diri. Misal olahraga, merawat hewan peliharaan, hafalan Al Qur’an, membantu pekerjaan rumah sesuai usia, dsb.
5. Beri imbalan edukatif. Misal, tanda bintang atau memasakkan masakan kesukaan anak.
6. Beri pujian, sewajarnya.
7. Berikan anak-anak suara. Libatkan anak dalam membuat aturan. Sangat penting untuk memahami sudut pandang mereka, meski bukan berarti harus selalu setuju dengan mereka.
8. Jelaskan pada anak alasan dibalik larangan ayah bunda.
9. Jelaskan dengan spesifik apa yang ayah bunda maksud. Misal, jam berapa ayah bunda ingin ananda pulang ke rumah selepas bermain di luar. Katakan “jam 12” bukan “Jangan terlambat.”
10. Berikan konsekuensi sebagai pengganti hukuman. Konsekuensi yang baik adalah yang tetap bermanfaat bagi anak. Misal jika ananda tetap pergi bermain tanpa ijin dari ayah bunda maka ananda harus mencuci pakaiannya sendiri, atau dicabut hak mainnya pada siang hari, membantu pekerjaan rumah seperti cuci piring, mengepel atau lainnya.

Discipline is helping a child solves a problem. Punishment is making a child suffer for having a problem. To raise problem solvers, focus on solutions not retributions. – L.R. Knost

Aturan mendisiplinkan sederhana saja : jelas, sederhana dan yang terpenting konsisten dengan aturan yang dibuat. Semakin ayah bunda konsisten dengan batasan, akan lebih mudah bagi anak untuk tetap berada dalam batasan.
Kompak dengan pasangan dalam mendisiplinkan anak penting karena anak harus tahu aturan yang ditetapkan oleh orangtuanya. Kelak, disiplin yang diajarkan di rumah akan menjadi jembatan untuk bisa mengikuti disiplin di sekolah.

Sadarkah bahwa sebenarnya kepribadian ananda terletak di tangan Ayah Bunda?
Tentu kita tidak menafikkan fakta bahwa ada beberapa sifat anak yang dibawa sejak lahir atau berdasarkan gen orang tua, namun pola pengasuhan ayah bunda berperan dalam membentuk kepribadian mereka.

Anak-anak adalah petualang dan pembelajar sejati yang penuh kejujuran dalam merealisasikan pikiran dan mengekspresikan perasaannya. Semua orang tua tentu ingin membahagiakan anak-anaknya, melihat mereka tumbuh sehat, cerdas dan sukses dalam kehidupannya.

Namun, dalam praktiknya, keinginan tersebut seringkali menjadi ekspektasi yang berlebihan bahkan ambisi yang justru bisa menimbulkan masalah bagi proses pembentukan kepribadiannya. Karena itu, dalam upaya membentuk kepribadian dan mendidik anak, serta mengantarkannya menuju kesuksesan ada beberapa hal yang harus benar-benar dipahami orang tua selain menumbuhkan kedisiplinan.
Nah, seperti apakah hal- hal lain tersebut ?

Terus pantau artikel di Fanpage El Hana ya Ayah Bunda, DISIPLIN SEJAK DINI adalah bahasan pertama dari rangkaian tema MEMBANGUN KEPRIBADIAN ANAK yang kami pilih untuk bulan Oktober ini.

Salam,
Admin 😊

🌍 Dari berbagai sumber

Cara Menulis Resensi Buku

RESUME KULWAPP MENULIS RESENSI BUKU

Pemateri : Fitri Restiana, sang #penulisbahagia
Sharing Resensi Bersama Ibu-Ibu Profesional Jakarta
(Jumat, 29 September 2017)

Peresume : Vivi Ermawati

MATERI

Data Narasumber

Nama : Fitri Restiana
TTL : Tanjungkarang/11 April 1976
Blog : http://www.fitrirestiana.web.id
Facebook : https://www.facebook.com/fitri_restiana
Email : fitrirestiana11@gmail.com
Instagram : fitri_restiana
Pendidikan terakhir : S1 Fak. Ilmu Sosial dan Politik Universitas Lampung
Alamat :Jl. Zainal Abidin Pagaralam. Gg Pelita 1 no 10/6 , Labuhanratu, Bandar Lampung

*Materi* :

*_RESENSI_*

Recensere (Bahasa Latin) : memberi penilaian
Resensie (Bahasa Belanda)
Review (Bahasa Inggris) : mengupas isi buku, seni lukis, music, dilm, dan sebagainya
Resensi (KBBI) : pertimbangan dan pembicaraan tentang buku; ulasan buku

Resensi : Mendeskripsikan dan menganalisis sebuah buku secara objektif dan kritis

*Syarat meresensi* : Foto, Fokus, Teliti, Objektif

*Tips Menulis Resensi* :
• Baca keseluruhan dengan tenang
• Tulis kalimat penting serta halamannya
• Buat ikhtisar
• Paparkan isi buku dengan kritis
• Tuliskan kelebihan dan kekurangan buku secara objektif (jujur)
• Sering membaca hasil resensi orang lain
• Pelajari gaya resensi beberapa media
• Membaca informasi tentang penulis (memudahkan memahami isi buku)

*Manfaat Resensi* :
• Mendapatkan gambaran sebuah buku dan memberitahukannya kepada pembaca
• Menambah ilmu
• Pembaca bisa memahami ap atujuan dan latar belakang buku tersebut dan menilai apakah perlu dibaca atau tidak
• Memberi masukan berupa kritik dan saran pada penulis buku mengenai cara penulisan, isi, dan makna buku
• Mendapat honor

*Siapa Saja yang bisa meresensi* :
• Semua bisa asal ada keinginan
• Yang utama adalah mereka yang CINTA MEMBACA

*Apa saja yang harus disertakan ketika mengirim resensi*:
^ Kata pengantar yang santun
^ Hasil resensi (termasuk foto cover dan identitas buku)
^ Biodata peresensi (nama, nomor hp, alamat rumah, alamat medsos, email, nomor rekening)

*Identitas buku* : Judul, Nama penulis, Penerbit, Tahun Terbit, Jumlah halaman, ISBN, Harga Buku

*Syarat Buku yang diresensi dan yang dikirim ke media* :
• Lazimnya di atas dua ratus halaman (tidak berlaku untuk semua media)
• Tidak mengandung SARA
• Banyak hikmah dan pelajar di dalamnya
• Buku terbitan baru (atau sedang booming) lebih diprioritaskan

*Tips resensi tembus Koran Jakarta* :
• Usahakan edisi terbaru, setidaknya berusia satu tahun
• Lebih dari 200 halaman
• Kalau ada momentum, itu lebih baik
• Lebih diprioritaskan bukuyang diterbitkan oleh penerbit besar
• Munculkan kalimat dari buku demi menjaga kevalidan tulisan
• 5000 character with spasi (600-700 kata)
• Bahasa sederhana
• Kirim ke redaksi@koran-jakarta.com
• Kolom resensi (Perada) terbit setiap hari, kecuali hari MInggu
• Ingat, sebelumnya cek dulu ya. Apakah buku yang kita resensi sudah pernah dimuat di media tersebut (bisa dicari via google)
• Usahakan menulis resensi setiap selesai membaca buku. Ini akan melatih daya kritis dan analisis kita

*Tips tembus Lampung post*
• Tidak harus minimal 200 halaman (biasanya begitu juga dengan Koran local daerah lain)
• Bahasanya tidak sesederhana resensi yang dimuat di Koran Jakarta, bisa lebih mendalam
• 3500-4000 character with spasi (500-600 kata)
• Resensi terbit tiap hari Jumat
• Kirim ke lampostminggu@yahoo.com

*Informasi media yang menerima resensi* :
http://indonesiastudent.com/redaksi-yang-menerima-resensi-buku-beserta-syarat-pengiriman

*_Fokus itu tidak harus melulu pada satu titik, tapi juga bagaimana berusaha agar titik titik tersebut membentuk garis (Fitri Restiana)_*

Naah, demikan, Temans. Materi ini saya sampaikan ketika mengisi kelas Menulis Resensi besutan Indscript Corp. Alhamdulillah ada dua peserta yang berhasil tembus Koran Jakarta dalam waktu yang tak terlalu lama. Monggo lihat atau cek di FB saya. : Fitri Restiana.

T & J

1. T : Apa beda Resensi, Sinopsis dan Review buku?

J : Resensi dan review tak jauh berbeda. Resensi lebih dalam dan matang karena cakupannya luas. Mulai dari menilai, menimbang, mengupas tuntas. Sedangkan sinopsis sifatnya meringkas. Tak banyak melibatkan penilaian.

2. T : Apakah kelemahan dalam sebuah buku mutlak perlu disampaikan dalam sebuah resensi?

J : Memang tak semua buku memiliki kelemahan krusial. Tapi demi menjaga objektivitas, peresensi tentu saja harus jujur mengungkapkan kekurangan, jangan lupa sertai kelebihannya juga.

3. T : Apakah syarat- syarat yang harus dipenuhi dalam membuat sebuah resensi?

J : Sudah ada di slide, yaa

4. T : Bagaimana cara meresensi sebuah buku antologi?

J : Sama saja dengan meresensi buku lainnya. Munculkan dua atau empat cerita yang diunggulkan dengan tetap memberikan gambaran cerita lainnya secara sekilas. Ini untuk menghindari kejenuhan pembaca. Apalagi jika antologi tsb memiliki satu tema dan kurang variatif.

5. T : Apakah mutlak perlu membuat perbandingan dengan buku lain yang sejenis saat meresensi buku?

J : Tidak mutlak, Mbak. Semua resensi saya yang dimuat hanya ada satu buku yang membutuhkan buku pembanding, yaitu bukunya Angga Setiawan. Yang lainnya tidak.

6. T : Bagaimana menjaga objektivitas dalam meresensi buku? Dalam materi membuat resensi sering disampaikan agar bisa memberikan penilaian yang obyektif serta menghindari penilaian subyektif. Ini konkritnya bgmn ya? Bukankan meresensi itu adl mmg penilaian pribadi seorang peresensi thd sebuah bacaan.

J : Objektif maksudnya adalah adil dan berimbang. Tentang kelebihan, kekurangan.

7. T : Tapi kadang subyektivitas peresensi yg unik bs jadi daya tarik tersendiri dari sebuah resensi buku kan mb fit? Butuh disertakan g klo gitu? Walaupun jadinya agak kurang obyektif 😂

J : PEMAPARAN memang subjektif. artinya kita memahami dan menjelaskannya sesuai dengan kapasitas pemahaman kita. Sedangkan makna objektif adalah lebih pada PENILAIAN terhadap buku, evaluasinya, kurang lebih suatu buku. Demikian, Mbak..

8. T : Oh iya klo resensi untuk buku lama yg sering dijadikan rujukan untuk pelajaran sastra gt media biasanya ada yg minat g mb?

J : Biasanya kurang, Mbak. Kecuali di jurnal2 khusus. Mungkin bisa. Tp kalau media cetak, lazimnya mereka ingin buku baru.

9. T : Ini berarti meresensi buku itu bisa diterapkan untuk semua jenis buku ya mbak?

J : Secara teknikal, iya. Tapi mengenai konten, tentu berbeda-beda cara pemaparannya, ya.

10. T : Mba Fitri, pernah nggak, batal menuliskan resensi buku yang selesai dibaca saking merasa nggak enak kalau harus dibeberkan kekurangannya, misalnya karena penulisnya teman sendiri? *kepo 😁
Atau karena bukunya bagus walaupun secara teknis ada yang kurang pas, lalu memilih menyimpan sendiri saja sisi minus tersebut? Yang penting bisa berbagi bahwa ada buku bagus, semoga orang yang googling cari ulasannya bisa terbantu dst
Atau lebih jauh lagi kalau ada buku yang ternyata visi misinya beda dengan keluarga kita atau bahkan bertentangan dengan norma yang berlaku umum, nah, pernah nggak Mba Fitri memasukkan ‘peringatan’ supaya kalau-kalau ada yang mau browsing dulu sebelum beli ‘tidak terjerumus’?
Misalnya, ada buku parenting atau antologi yang isinya sebetulnya bagus, yang nulis teman-teman pula, sayangnya editing kurang rapi, bacanya kurang nyaman. Tapi kalau diungkapkan di ulasan yang dipublikasikan, khawatirnya jadi mengurangi minat orang beli (ah, tapi siapalah saya ya, tak punya pengaruh sebesar itu 😂). Padahal kontennya bagus, hanya kurang rapi.
Soalnya kalau blogger/penulis, umumnya punya banyak teman penulis juga kan😁😁 (pengalaman, walaupun jejaringnya nggak seluas teman-teman di sini)
Ini curcol sebetulnya, saya tempo hari dapat hadiah beberapa buku dari lomba nulis dan diminta bikin ulasan dari buku-buku tersebut, tapi kemudian nggak jadi-jadi bikin karena kontennya yaaa gitu deh 😁. Mungkin bisa pakai sudut pandang lain ya, tentang keberanian penulis mengangkat hal yang tabu, tapi tanpa terkesan saya kagum atau setuju *tuh kan, bingung.

J : Saya orangnya jujur, Mbak. Hahaha. jadi kalau ada temen yang minta bukunya saya resensi, sebelum kirim biasanya saya tanya, eh lebih tepatnya menjelaskan bahwa saya akan mengungkapkan satu kekurangan. tapi untuk ‘mengibur’ saya juga katakan akan mengungkapkan kelebihan. Naah, inilah yang namanya menjaga objektivitas di tengah subjektivitas. Antara pemaparan dengan penilaian.
Paparkan sedikit dan tidak perlu detail. Tak apa. Paparkan ttg konten bukunya. Nanti selipkan kalimat ‘walau masih ada beberapa typo, buku ini sangat layak dibaca… bla… bla.. bla.. ”
Kemarin, waktu peserta dr indscript juga ada yang meresensi buku ttg bayi tabung. Wah… saya nggk berani rekomendasi. Tp untuk menjaga profesionalitas, saya sarankan lebih banyak memaparkan, munculkan hukum jika-maka. Dan ini jadinya sangat subjektif. Saya pribadi biasanya menolak halus dan minta maaf tak bisa mengrim ke media. Seandaikan tetap diminta, maka saran saya tuliskan saja di blog. Demikian, Mbak

11. T : Intinya mslh tekhnis pemilihan kalimat y mb fit, menyampaikan kekurangan tidak harus dengan “beringas” 😅

J : Dan jangan sadis 😂. Paparkan sekilas dan santun.

12. T : Kalau mbak fitri paling tertantang meresensi buku jenis apa?

J : Saya senang merensi buku apa saja yang saya suka. bahkan buku materi belajar tampilan slide sekalipun (tapi ini tak dimuat, wkwkwkw). yang paling saya suka adalah buku parenting, biografi dan novel.


Penutup dari mba Fitri Restiana:

Semangat belajar dengan bismillah.
Menulis dengan mengkolaborasikan iman, pengetahuan, perasaan dan logika, akan membuat tulisanmu tidak aaja enak dibaca, tapi juga layak untuk dicinta. Semangat, semuaaa 😍😍😍

Contoh resensi yang dibuat mba Fitri ⤵

http://www.fitrirestiana.web.id/2017/08/resensi-buku-dear-nathan.html
http://www.fitrirestiana.web.id/search?q=resensi+buku+kanker

Atau silahkan berkunjung ke http://www.fitrirestiana.web.id.

Akhir Resume •

#semogabermanfaat